Jakarta – “Beri aku 1.000 orang tua akan dapat memindahkan Gunung Semeru. Beri aku 10 pemuda yang bersatu dan berdedikasi maka akan dapat mengguncang dunia.” Demikian kata Presiden Soekarno. Setiap HUT RI 17 Agustus, kita selalu teringat pada dwitunggal Soekarno-Hatta Bapak Proklamator Indonesia.
Di era sekarang dengan bonus demografi Indonesia, merujuk data BPS dan proyeksi resmi, jumlah pemuda Indonesia (usia 16–30 tahun) pada 2026 diperkirakan sekitar 64,22 juta jiwa atau sekitar seperlima dari total penduduk nasional. Angka ini mengacu pada definisi pemuda yang digunakan Kementerian Pemuda dan Olahraga, yaitu kelompok usia 16–30 tahun.
Generasi milenial di masa kini adalah kekuatan yang harus diajak berkolaborasi untuk menyelesaikan berbagai permasalahan negara. Salah satunya pada tata kelola penanganan sampah.
Berkaitan dengan itu, Kemendagri melalui Ditjen Bina Adwil Kemendagri mengajak komunitas milenial Pandawara Group untuk melakukan sosialisasi kebersihan lingkungan dan pengelolaan sampah pada Festival Bazar Kemendagri di Plaza Kemendagri pada Rabu (12/8/2026). Pandawara Group adalah kelompok pemuda dari Bandung, Jawa Barat, yang dikenal melalui berbagai aksi nyata membersihkan sampah di sungai, parit, dan pantai sejak 2022.
Komunitas yang beranggota lima anak muda itu menyampaikan pesan-pesan dengan bahasa anak muda yang lebih cepat dipahami oleh generasi Z.
“Kita harus bersinergi dengan komunitas-komunitas di daerah untuk pengelolaan sampah seperti komunitas Pandawara Group yang melakukan aksi nyata di lapangan,” ajak Dirjen Bina Adwil Kemendagri Safrizal ZA di talkshow bazar itu bersama komunitas Pandawara Group.
Pandawara Group didapuk untuk berbagi pengalaman menangani sampah menjaga kebersihan Lingkungan untuk mendukung Gerakan Indonesia Aman, Sehat, Resik, Indah (ASRI).
Safrizal menjelaskan, Gerakan Indonesia ASRI merupakan bentuk kepedulian Presiden Prabowo Subianto terhadap kondisi kebersihan di sejumlah daerah yang masih perlu ditingkatkan. Persoalan tersebut antara lain terlihat dari sampah yang berserakan hingga pemasangan spanduk yang tidak tertata, terutama di kawasan wisata.
Atas kondisi tersebut, Presiden menginstruksikan kepada para menteri terkait, termasuk Menteri Dalam Negeri (Mendagri), untuk menggerakkan Gerakan Indonesia ASRI dengan melibatkan masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan.
“Jadi, gerakan ini yang kemudian kita gunakan untuk membersihkan lingkungan. Bukan saja jangan buang sampah sembarangan, tetapi di daerah-daerah yang kotor, kita bikin gerakan dengan semua masyarakat, dengan agen-agen lingkungan, dengan LSM-LSM. Ayo kita bersihkan,” ajaknya.
Safrizal mengatakan, terdapat tiga aspek yang perlu menjadi perhatian dalam menangani persoalan sampah, yakni jumlah sampah, manajemen pengelolaan sampah, dan budaya membuang sampah. Dari sisi jumlah, Indonesia saat ini menjadi negara dengan jumlah sampah per tahun terbanyak kelima di dunia.
Safrizal mengapresiasi Pandawara Group yang mengedukasi masyarakat agar lebih bijak mengelola sampah, terutama dengan tidak membuang sampah ke sungai, laut, maupun saluran air.
“Jangan buang sampah ke sungai, jangan buang sampah ke laut, jangan buang sampah ke got, jangan buang sampah sembarangan,” pinta Safrizal.
Selain membangun kesadaran masyarakat, pengelolaan sampah perlu dilakukan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir. Di daerah penghasil sampah dalam jumlah besar, seperti Jakarta dan Bekasi, pemerintah menginisiasi program waste-to-energy yakni pengolahan sampah menjadi energi seperti listrik, panas, atau bahan bakar.
Pengurangan timbunan sampah dapat diperkuat melalui prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle), yakni mengurangi penggunaan barang yang berpotensi menjadi sampah, menggunakan kembali barang yang masih layak, serta mendaur ulang sampah menjadi produk baru.
“Jadi, sudah ada programnya, sudah banyak anak-anak muda yang inovator-inovator, yang bergerak di bidang ini, yang penting getok tularkan ke semua tempat, supaya sampah berkurang,” ungkapnya.
Pendiri Pandawara Group Muchamad Ikhsan Destian mengatakan, kelompok ini didirikan oleh lima pemuda yang tergerak setelah melihat banjir di Bandung Selatan pada 2022. Banjir tidak hanya membawa air, tetapi juga sampah karena masih ada masyarakat yang membuang sampah ke sungai.
Kondisi tersebut mendorong mereka melakukan kerja bakti membersihkan sungai sekaligus membuat konten untuk mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
“Kita misalkan melihat secara fungsi [sungai] itu sangat-sangat membantu kita sebagai manusia. Dan di momen itu kita memutuskan untuk membuat fungsi, kita melakukan kerja bakti. Cuma saat itu kita memutuskan untuk mencoba apa ya, membuat konten sekalian dari kegiatan kerja bakti ini,” terangnya.
Co-founder Pandawara Group Muhammad Rifqi Sadulloh mengatakan, Pandawara Group bercita-cita memiliki fasilitas pengolahan sampah sendiri agar sampah yang dikumpulkan dapat diolah secara mandiri. Saat ini, mereka baru dapat mengolah jenis sampah tertentu, seperti tutup botol.
“Kita itu ingin, gimana caranya, si sampah-sampah yang ada di sungai itu kita daur ulang menjadi value baru,” tandasnya.
Aksi anak muda di Pandawara Group menyita perhatian publik terutama di jagat media sosial. Pandawara Group rutin membagikan video aksi mereka bersih-bersih sampah di sungai. Berkat aksi bersih-bersih sungai tersebut, akun @pandawaragroup memiliki 6,4 juta pengikut dan 91,4 juta like di TikTok.
Pandawara Group merupakan lima sekawan yang terdiri dari Rafli Pasya, Agung Permana, Gilang Rahma, Muchamad Ikhsan, dan Rifqi yang semua berusia di bawah 30 tahun. Mereka adalah sahabat yang berasal dari SMA yang sama yang mulai bersih-bersih sampah sejak Agustus 2022.
Awalnya, Gilang dan kawan-kawan jengkel dengan banjir yang berulang di wilayah tempat mereka tinggal di Kopo, Kota Bandung. Rasa lelah karena rumahnya terus-terusan banjir, mereka berinisiatif membersihkan sampah di sungai sekitaran rumah.
Aksi mereka lakukan dengan harapan aliran air dapat berfungsi dengan baik sehingga tidak menimbulkan banjir.
“Jadi, sebelum dikontenin, kami sudah melakukan kegiatan tersebut,” kata Gilang.
Karena sampah selalu datang meskipun sungai sekitar rumah telah dibersihkan, mereka memutuskan memperluas area bersih-bersih. Sebab sampah di tempat mereka kiriman dari domisili lain dan mencari sumber sampah kiriman.
“Jadi misal kita bersihin sungai B, kata warga di sana itu sampah kiriman dari sungai A. Kita ke sungai A, kata warga di sana juga begitu,” ujar Gilang.
Pandawara Group telah membersihkan puluhan saluran air mulai dari sungai besar, anak sungai besar, parit, dan bahkan tangki septik.
Pandawara terdiri dari dua suku kata yaitu Panda dan Wara. Panda diambil dari kisah tokoh pewayangan Mahabharata yang berarti lima, sedangkan Wara berasal dari bahasa Sunda yang bermakna baik. Jadi Pandawara adalah lima pemuda yang membawa kabar baik. Aksi mereka bersih-bersih sampah sungai dan dibagikan ke medsos dengan harapan masyarakat Indonesia lebih peduli lagi kebersihan lingkungan terutama sungai, karena kebersihan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.

