SHNet, Jakarta — Memasuki usia ke-46 tahun, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) menegaskan bahwa perpustakaan bukan sekadar tempat menyimpan buku, melainkan fondasi penting dalam membangun peradaban dan memartabatkan bangsa.
Komitmen tersebut ditegaskan melalui Seminar Nasional bertema “46 Tahun Perpusnas: Merawat Pustaka, Memartabatkan Bangsa” yang digelar di Jakarta, Selasa (12/5/2026). Seminar ini menjadi momentum refleksi bagi Perpusnas untuk terus memperkuat perannya di tengah perubahan zaman dan derasnya arus informasi digital.
Kepala Perpusnas, E. Aminudin Aziz mengatakan, perjalanan panjang Perpusnas harus menjadi ruang evaluasi agar layanan perpustakaan semakin relevan dan benar-benar menjangkau masyarakat luas.
Menurutnya, Perpusnas lahir dari kesadaran pentingnya menjaga warisan pengetahuan bangsa. Apa yang disimpan, dirawat, dan diwariskan kepada generasi mendatang akan menentukan bagaimana Indonesia dikenang dalam sejarah.
“Merawat pustaka berarti memastikan pengetahuan tetap hidup, bisa diakses, dibaca, diperdebatkan, dan menginspirasi. Dari sanalah martabat bangsa dibangun,” ujar Aminudin.
Ia menegaskan, masyarakat literat akan lebih mampu berpikir kritis dan tidak mudah terpengaruh informasi liar yang membingungkan di era digital saat ini.
Seminar nasional tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, di antaranya Director Indonesia Doctoral Training Partnership dari University of Nottingham Bagus P. Muljadi, Presiden ASEAN Public Libraries Information Network (APLiN) Chaerul Umam, Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Arys Hilman Nugraha, serta Anggota Komisi XIII DPR RI Rieke Diah Pitaloka.
Dalam paparannya, Rieke Diah Pitaloka menilai perpustakaan tetap relevan meski masyarakat kini hidup di era digital. Ia menekankan pentingnya memperluas pembangunan perpustakaan hingga ke desa-desa melalui penguatan perpustakaan desa, sekolah rakyat, dan ruang baca masyarakat.
“Walaupun sekarang ada perpustakaan digital, tetap tidak bisa meninggalkan buku-buku lama,” ujarnya.
Sementara itu, Bagus P. Muljadi menyoroti kekayaan khazanah pustaka Nusantara yang dinilainya menyimpan sistem pengetahuan lokal luar biasa. Ia mencontohkan masyarakat Jawa yang sejak lama memahami hubungan Gunung Merapi, Laut Selatan, dan aktivitas alam sebagai satu kesatuan kosmologis yang kini dapat dipahami secara ilmiah melalui perspektif geologi modern.
Menurutnya, Indonesia tidak boleh terus dipandang hanya sebagai negara eksotik, tetapi juga harus dikenal sebagai penghasil ilmu pengetahuan berbasis kearifan lokal.
Di sisi lain, Chaerul Umam menegaskan bahwa pustakawan masa kini dituntut memiliki kompetensi global. Pustakawan tidak lagi hanya menjadi pengelola koleksi buku, tetapi juga fasilitator pengetahuan global yang adaptif terhadap digitalisasi, kecerdasan buatan, dan kolaborasi internasional.
Adapun Ketua Umum IKAPI, Arys Hilman Nugraha, mengungkapkan optimismenya terhadap masa depan dunia perbukuan nasional. Ia melihat tingginya antusiasme Generasi Z terhadap pameran buku menjadi sinyal positif tumbuhnya budaya baca di Indonesia.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa Indonesia masih menghadapi persoalan aliterasi, yakni masyarakat yang mampu membaca tetapi belum memiliki kebiasaan membaca yang kuat.
Karena itu, menurutnya diperlukan dukungan akses terhadap buku, perpustakaan, toko buku, hingga harga buku yang terjangkau agar budaya literasi semakin berkembang di tengah masyarakat.
Melalui momentum HUT ke-46 ini, Perpusnas menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat ekosistem literasi nasional dan menjadikan perpustakaan sebagai ruang pembelajaran, pusat pengetahuan, sekaligus sarana memartabatkan bangsa di tengah perubahan global yang semakin dinamis. (Stevani Elisabeth)

