Jakarta-Founder and Executive Director at PT Life Cycle Indonesia, Jessica Hanafi, mengusulkan agar BPOM mendukung saja Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang telah menerbitkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 2 Tahun 2014 tentang pencantuman logo ekolabel ke semua industri air minum dalam kemasan (AMDK) ketimbang label BPA Free yang hanya menimbulkan keributan. Bagi konsumen, pencantuman logo ini akan memberi informasi sekaligus memfasilitasi pengubahan pola konsumsi melalui pemilihan produk ramah lingkungan. Sedangkan bagi produsen, ekolabel juga akan meningkatkan daya saing dalam pasar domestik dan internasional.
”Kalau saya sarankan, BPOM sebaiknya mengarahkan ke barang ecolable. Karena di sini, kita jadi tidak lagi bingung dalam memutuskan mana yang paling baik seperti yang terjadi dalam persaingan industri air minum dalam kemasan saat ini,” ujarnya.
Karena, kata Jessica, melalui label ekolabel ini, setiap industri harus membuktikan dengan data dan tidak hanya sekedar mengklaim bahwa kemasannya paling baik saja secara lingkungan. “Karena, ekolabel itu harus memenuhi standar kesehatan dan lingkungan. Jadi, daripada kita harus debat kusir kemasan siapa yang lebih bagus, saya men-challenge produsen-produsen untuk pakai ekolabel semua,” katanya.
Jadi, menurut Jessica, label ekolabel ini jauh lebih adil diterapkan ketimbang label BPA Free yang hanya ditujukan untuk satu produk tertentu saja. “Karena, ekolabel ini dibuktikan dengan angka, apa dasar misalnya BPOM melarang atau membatasinya,” tukasnya.
Untuk itu, BPOM juga harus melibatkan Pusat Standar Lingkungan dan Kehutanan KLHK dalam rapat-rapat konsultasi publiknya. “Itu lebih pas menurut saya,” ujar Jessica.
Melihat perdebatan yang terjadi saat ini terkait keberadaan galon guna ulang dan galon sekali pakai, dia mengatakan kalau air galon guna ulang itu sudah memiliki net work logistic yang sangat baik sehingga bisa kembali ke pabriknya 100 persen. “Artinya, saat konsumen membelinya, mereka bisa mengembalikannya ke toko-toko penjual,” tuturnya.
Sementara, kata Jesicca, kalau air galon sekali pakai, walaupun ada pemulung yang mengambilnya, tapi saat ini belum ada net work yang secara terus menerus mengumpulkannya. “Artinya, para konsumen yang membeli air galon sekali pakai ini tidak pernah ada yang mengembalikannya lagi ke warung-warung. Jadi, tidak ada yang mau nampung dan menerima galon itu saat konsumen mengembalikan galon kosongnya ke toko-toko,” ungkapnya.
Intinya, menurut Jesicca, tidak ada limbah galon guna ulang yang kemudian tersangkut di sungai ataupun laut. “Karena, kalau setiap kali habis digunakan, galon-galon itu kan kita tukarkan lagi dengan yang baru, sehingga tidak lolos ke tempat lain,” ucapnya.
Dia menambahkan bahwa galon guna ulang itu memang sudah didesain untuk bisa dipakai kembali untuk menghindari dampak lingkungan yang disebabkan jika harus memakai galon sekali pakai. Galon guna ulang itu bisa dipakai terus menerus dan kalaupun rusak bisa direcycle dan itupun masih dalam lingkaran yang sudah terbentuk puluhan tahun. “Nah, kalau galon sekali pakai, otomatis setelah kita pakai dia akan direcycle sehingga beban lingkungannya untuk merecycle itu lebih besar dibanding galon guna ulang. Kalau kita lihat dari sisi lingkungannya galon sekali pakai jadinya tidak seefisein secara lingkungan dibanding galon guna ulang,” tuturnya.
Kalau dilihat dari sisi kesehatan pun, menurut Jesicca, air galon guna ulang itu sudah puluhan tahun digunakan dan belum ada yang membahayakan konsumen. “Itu artinya kan galon guna ulang itu memang memakai material-material yang sesuai untuk makanan dan sudah food safety spesifikasinya.
Dengan menggeser galon guna ulang menjadi galon sekali pakai, dia mamstikan target pemerintah untuk mengurangi emisi karbon akan bergeser. Begitu juga target untuk mengurangi limbah plastik bisa terdampak. “Saya tidak tahu BPOM dasarnya apa membuat label BPA Free itu. Seharusnya kondisi ini harus dilihat secara holistik dan tidak hanya melihat satu sisi saja. Karena pada saat kita bicara soal sustainability, kita tidak hanya bicara tentang lingkungan semata tapi juga bicara tentang kesehatan manusia, ekosistem atau lingkungan, dan sumber dayanya,” kata Jessica. (cls)

