7 July 2022
HomeBeritaSekolah dan Pembodohan Generasi

Sekolah dan Pembodohan Generasi

Oleh: Hendrik J. George Frans, M.Pd

Pendidikan dalam tingkatan manapun, membutuhkan suatu system atau budaya yang baik untuk memperkuat kondisi pembelajaran yang akan memastikan siswa masuk dan terbentuk untuk belajar dengan baik.

Namun sayang sekali, sekolah yang sedianya menjadi lembaga utama untuk mencerdaskan siswa dan menyiapkan suatu kekuatan untuk perubahan negara ke arah lebih baik, telah menjadi institusi yang melakukan pembodohan kepada generasi, sebagian generasi di mana siswa belajar.

Dalam tulisan ini, kami menggunakan kata sebagian karena kami beranggapan bahwa tidak semua sekolah melakukan proses pembodohan pada sekelompok generasi penerus, namun ada sekolah-sekolah tertentu yang melakukan pembodohan. Yang lebih menyakitkan adalah proses pembodohan ini dilakukan pada sekolah-sekolah negeri.

Menghadapi situasi yang sangat mengkhawatirkan ini seharusnya ada suatu revolusi pendidikan untuk membuat perubahan menyeluruh demi kemajuan Pendidikan, dan sekaligus menghindari proses pembodohan generasi.

Sangat menyedihkan, proses pembodohan ini terjadi karena sekolah dengan sengaja melakukan, karena berbagai pertimbangan non-akademik yang dilakukan secara sengaja dan terstruktur.

Supply Nilai Gratis
Membuktikan secara “subjective” bahwa telah terjadi proses pembodohan pada sekolah, maka kami menyampaikan point pertama, “pemberian nilai secara gratis” sebagai argument awal terhadap thesis tulisan ini. Dalam kenyataan pilu, namun diterima sebagai fakta yang menyedihkan bahwa sikap belajar siswa mengalami banyak demotivasi.

Ditambah adanya alasan pandemic Covid-19 telah menjustifikasi sekolah untuk “memberikan nilai secara gratis untuk siswa”. Proses pembelajaran membutuhkan kerja keras berbagai pihak.
Secara sederhana, guru menyiapkan diri dengan baik, dengan berbagai persiapan metodik dan content untuk melakukan proses mengajar yang kreative yang sedianya menarik motivasi siswa untuk belajar.

Namun situasi saat ini dengan berbagai pandangan, menempatkan siswa pada situasi demotivastional. Siswa tidak mengalami ketertarikan untuk belajar secara independent maupun kolektif.

Realitas bahwa dalam pembelajaran, siswa tidak memenuhi kriteria penilaian, sehingga mereka tentunya akan kehilangan kelengkapan penilaian dan pada akhirnya itu akan menempatkan hasil akhir penilaian mereka pada posisi tidak kompeten, siswa yang tidak pernah secara serius mengikuti proses pembelajaran.

Situasi Pandemic Covid-19 seharusnya tidak menjadi alasan sekolah memberikan nilai gratis bagi siswa.

Karena sekali dilakukan maka akan menjadi pola. Dan ini sangat berbahaya jika siswa mampu mencium bau ketidak-akademikan ini. Karena mereka akan terinspirasi untuk menjadi masa bodoh karena mereka percaya mereka akan tetap mendapat fasilitas supply nilai oleh pihak sekolah.

Guru Idealis Terancam
Mengkaji pemberian nilai gratis ini, kami akan mencoba untuk mengkonfrontir argument ini dengan dua kubu polarisasi pandangan guru. Yang pertama adalah guru idealis dan guru non-idealis.

Guru idealis adalah guru yang sadar bahwa dia adalah seorang guru, sehingga kesadaran ini memotivasi guru tersebut untuk bekerja sebaik mungkin. Belajar bidang keahliannya dengan baik.

Menyiapkan metode pembelajaran yang baik menjadi dua hal prinsip dasar pekerjaannya. Guru idealis akan bekerja dengans sebaik mungkin dengan cita-cita menjadikan siswanya manusia yang sadar-akademik. Tentunya guru idealis akan memberikan penilaian yang objective, memberikan penilaian apa adanya. Adakah masalah di sini? Tentunya ada. Guru idealis ini akan berhadapan dengan kelompok non-idealis.

Guru idealist akan dicap sebagai “pembunuh” yang berusaha menggagalkan siswa. Padahal kenyataannya, dia bekerja dengan profesional akademik murni. Guru idealis, ketika menjadi kaum minotiras dalam sekolah, akan terus termaginalkan dan terstigmatisasi sebagai kaum yang negative, kaum yang berusaha membunuh masa depan siswa!

Di sisi lain, kenyataan mengkhawatirkan digenggam erat oleh kaum guru non-idealis. Kelompok kedua ini telah dipandang sebagai malaikat, sebagai pribadi yang memberikan kehidupan kepada masa depan siswa. Kaum non-idealist ini menjalani praktek tugasnya dalam dua kemungkinan.

Asumsi pertama bahwa guru non-idealis
melakukan proses pembelajaran dengan baik, memenuhi standard metodika yang baik, namun terbentur dengan sikap hati ketika memberikan penilaian. Tipe ini akan memberikan nilai secara tidak akademik meskipun menjalani proses pembelajaran dengan baik.

Tipe kedua dalam kelompok ini adalah tipe guru yang mengalami situasi pekerjaan yang tidak dalam kewajiban penuh. Artinya bahwa guru ini melakukan tugasnya dengan berbagai
kekurangan. Misalnya, persoalan performa metodika dan assessment.

Oleh karena tidak melakukan performa yang baik pada akhirnya memberikan nilai secara murah hati, memberikan nilai lulus secara tidak akademik bagi siswanya. Baik guru tipe pertama atau kedua dalam kelompok guru-non-idealis ini telah dipandang sebagai malaikat penyelamat masa depan siswa.

Sikap Kepala Sekolah
Kenyataan pilu ini diperparah dengan sikap kepala sekolah yang tidak motivational-academic. Artinya bahwa sang kepala sekolah dengan wewenang sebagai otoritas tertinggi di sekolah dengan semena-mena mengabaikan prinsip akademik baik, tetapi berusaha mendukung pandangan kaum guru non-idealis.

Seorang kepala sekolah berusaha menutup mata terhadap kenyataan bahwa siswa telah melakukan begitu banyak pengabaian terhadap proses belajar mereka.

Dalam kondisi ini sang kepala sekolah menjadi Malaikat Kepala yang membawahi para malaikat baik sang guru non-idealis sehingga dengan subur mengembangkan suatu kultur sekolah yang buruk. Sadar atau tidak, siswa pun memiliki kemampuan menganalisa situasi. Mereka pun mampu mengetahui bahwa sekolah telah menjadi lembaga yang baik yang akan selalu menolong mereka dengan cara memberikan nilai lulus. Sayang sekali mereka menjadi terlena. Saya hendak mengajar para pembaca memandang jauh ke depan.

Dalam dunia kompetisi yang makin terbuka ini, nilai pemberian akan membuat siswa terlena, sehingga mereka tidak berusaha bekerja keras membangun kapasitas diri mereka.

Memasuki dunia kerja, masuk dalam dunia kerja swasta atau bahkan perusahaan asing, bisakah mereka merebut posisi kerja? Sangat dipastikan dengan ketidakmampuan akademik dan skill yang pantas, mereka akan tersingkir dalam percaturan perekrutan tenaga kerja yang profesional.

Kembali pada point prilaku kepala sekolah, maka kaum guru idealis pada akhirnya akan tersingkir. Kaum ini akan terpinggirkan dan menjadi tidak bersemangat.

Karena bagi mereka, dalam situasi kuantitas minoritasnya, mereka terjepit antara kepala sekolah dan kaum guru non-idealis yang didukung penuh oleh kepemimpinan sang kepala sekolah.

Guru Malaikat Mempesona
Di lain sisi, kelompok malaikat semakin mempesona, kepala sekolah semakin mesra dengan para malaikat. Pola pikir kaum non-idealist dianggap yang terbaik oleh kepala sekolah, sehingga arah kebijakan akademik sekolah menjadi semakin kacau.

Dalam arah yang kacau, namun dianggap sebagai rahmat, kaum ini secara perlahan namun pasti sedang melakukan proses pembodohan terhadap generasi yang mengenyam pendidikan di lingkungan tersebut.

Jika dalam masa kepemimpinan seorang kepala sekolah, yang tentunya jika dinilai secara luas pada berbagai kepala sekolah, ini menjadi ancaman serius bagi masa depan pendidikan, dan sadar atau tidak ketika kita terus membiarkan situasi ini berjalan dalam jangka waktu yang lama, maka negeri kita akan menjadi negeri yang inferior dalam percaturan akademik dunia. Kita tidak akan mampu membentuk kaum cerdas yang nantinya akan memperbaiki situasi negeri ini.

Minimnya Intensitas Komunikasi Keluarga

Dalam keterpurukan ini, kita masih harus menengok satu pihak yang sebenarnya memiliki tanggung jawab paling strategis dalam pendidikan anak-anak, yaitu orang tua.

Sekolah sedianya mampu mengajak keluarga membangun komunikasi yang intens. Secara subjective kami melihat bahwa komunikasi yang ada sepertinya sangat minim sehingga harapan intensitas ypang baik bisa membantu proses belajar siswa/anak dengan baik.

Keluarga sedianya menjadi surga utama belajar anak sehingga membantu membentuk anak tersebut menjadi siswa yang kompeten dalam konteks akademik formal.

Sehingga perhatian orang tua terhadap anak mereka mulai dari awal, sedianya menjadi elemen pemicu internal-motivation belajar sang anak.

Dukungan komunikasi yang baik antara orang tua dan sekolah akan menjadi kunci pendukung yang tidak bisa dianggap remeh. Sayang sekali, ide ini belum di-boost secara kreatif untuk membantu proses pencegahan pembodohan yang sementara dilakukan oleh sekolah.

Calon Guru
Menyikapi proses pembodohan yang sementara berjalan ini, pastilah setiap orang memiliki pandangan yang mungkin sama dan mungkin juga berbeda, sebagai usulan pemikiran antisipatif.

Tulisan ini akan dimulai dengan pikiran bahwa suatu lembaga pendidikan tinggi yang mendidik calon sarjana pendidikan yang nantinya akan menjadi guru, sedianya mendidik para mahasiswa dengan mentalitas guru idealist yang kokoh permanen, sehingga ini akan menjadi karakter dasar sang calon guru yang nantinya akan
dioperasikan secara faktual dalam pekerjaan pengajarannya.

Selain itu, departemen Pendidikan mungkin sudah saatnya memikirkan kembali penarikan pendidikan sebagai organisasi vertikal. Sehingga menghindari political interest dalam soal pengangkatan kepala sekolah.

Dalam konsep berpikir ini, mimpi penulis jika suatu hari departemen pendidikan ketika telah menjadikan pendidikan sebagai organisasi
vertikal maka tidak akan ada lagi political interest dalam pengangkatan kepala sekolah, sehigga menghindari pribadi incompetent menduduki posisi ini pada berbagai jenjang pendidikan.

Seorang yang tidak memiliki semangat akademik murni tidaklah layak menjadi seorang kepala sekolah, karena ketiadaan semangat akademik akan menjerumuskan policy-nya yang secara langsung terlibat dalam proses pembodohan generasi.*

Penulis, Hendrik J. George Frans, M.Pd. Alumni Magister Pendidikan Bahasa Inggris, Batch 13, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.

ARTIKEL TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU