Yth. Ibu Raden Ajeng Kartini
Di Alam Keabadian
Assalamualaikum WW, Ibu Kartini yang Mulia,
Semoga engkau beristirahat dalam kedamaian, Ibu, di alam tempat para pejuang bersemayam dalam cahaya.
Dari masa yang jauh ini, izinkan aku menulis kepadamu, menyampaikan rindu, hormat, dan cerita tentang mimpi-mimpi yang tumbuh dari perjuanganmu.
Bolehkah aku tetap memanggilmu Ibu?
Meski tak sedarah, tetapi dalam jiwa aku anakmu.
Aku datang dari masa yang jauh dari langkahmu,
hampir satu setengah abad waktu memisahkan rindu,
tetapi sinarmu, Pahlawan bangsaku, tak pernah layu —
Tetap berpendar di setiap jiwa perempuan yang tumbuh. Engkau pernah menulis,“Tiada awan di langit yang kekal selamanya; hari tidak selamanya siang.”
Dan benar, Ibu — kini kami pun belajar tabah menunggu fajar, Menyulam Cahaya di balik mendung kesamar.
Ibu, dari tempatku berdiri kini,
aku melihat mimpimu mulai tumbuh tinggi.
Perempuan telah menembus jendela dunia. Menulis, berbicara, mempimpin, dan berkarya. Kami kini menjadi guru / dosen, dokter, jurnalis, pilot, ilmuan, pengusaha, penggerak bangsa, (wakil) Menteri, bahkan presiden.
Membawa Cahaya ilmu, menyalakan asa.Namun, Ibu, masih ada luka yang belum sembuh. Masih ada Perempuan yang disenyapkan di ruang semu,
Yang terjebak citra di layer biru. Yang diukur dari rupa, bukan dari ilmu.
Engkau dulu menulis,
“Kami hendak bekerja bukan untuk melawan kaum laki-laki,
melainkan untuk memuliakan derajat manusia.”
Dan kata-kata itu, Ibu, menjadi pelita yang menuntun langkah kami,
agar setara bukan berarti menyaingi,
melainkan berdiri berdampingan dalam harmoni.
Kini, Ibu, kami hidup di masa layar dan cahaya,
di mana jari bisa menulis, tapi hati mudah terluka oleh maya.
Namun kami belajar dari nyalimu,
yang menulis dalam gelap demi masa depan kaummu.
Kami tahu, “Gadis-gadis harus belajar berpikir dan bekerja sendiri,”
seperti yang engkau ucapkan —
dan kami menjadikannya janji, bukan sekadar kenangan.
Ibu, engkau pernah berkata,
“Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu,
tetapi satu-satunya hal yang benar-benar dapat menjatuhkanmu adalah dirimu sendiri.”
Kalimatmu menjadi mantra bagi kami di abad digital ini,
saat dunia berlomba menilai diri dari angka dan citra di media sosial,
kami belajar dari engkau —
bahwa cahaya sejati lahir dari keberanian menjaga harga diri dan makna.
Terima kasih, Ibu Kartini,
atas pena yang menjadi obor zaman,
atas doa yang menjelma jalan.
“Habis gelap terbitlah terang” bukan lagi sekadar semboyan,
tetapi napas dalam setiap perjuangan.
Dari masa depan yang kau impikan,
kami perempuan Indonesia terus menenun harapan.
Terangmu tak padam, Ibu —
ia kini bersemayam di tangan-tangan kami,
yang menulis, berpikir, dan mencinta negeri ini.
Dengan penuh hormat dan cinta,
semoga Ibu dan para pahlawan bangsa beristirahat dalam damai.
Terima kasih atas terang yang tak pernah padam.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Dengan kasih dari masa depan,
Dari anakmu di Bumi Pertiwi
Shakila Ganesan
Siswa Kelas: 3 (kelas 12) Sekolah: Global Sevilla Puri Indah

