24 April 2026
HomeBeritaTak Semua Air Tanah Aman Jadi Bahan Baku Air Minum, Ahli IPB...

Tak Semua Air Tanah Aman Jadi Bahan Baku Air Minum, Ahli IPB Ingatkan Risiko

SHNet, Jakarta – Tidak semua air tanah bisa digunakan sebagai bahan baku air minum. Profesor Departemen Teknologi Industri Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), Suprihatin, mengatakan kualitas air sangat dipengaruhi oleh lokasi, kondisi lingkungan, dan aktivitas manusia di sekitarnya. Air pegunungan disebut memiliki kualitas terbaik sehingga banyak dipilih industri air minum dalam kemasan (AMDK).

“Air tanah tidak sama di satu daerah dengan daerah lainnya. Air di perkotaan dengan aktivitas padat jelas berbeda dengan air di pegunungan yang terlindungi vegetasi dan minim campur tangan manusia,” kata Suprihatin di Jakarta, Jumat (12/9).

Ia menjelaskan, air tanah di kawasan perkotaan cenderung memiliki kadar kontaminan yang tinggi, mulai dari limbah domestik, pestisida, hingga logam berat. Untuk menjadikannya layak minum, diperlukan proses pengolahan yang lebih sulit dan mahal dibandingkan air pegunungan. Kondisi itu berbeda dengan sumber mata air alami yang umumnya lebih bersih, meskipun tetap memerlukan uji kelayakan.

Suprihatin menambahkan, air tanah dangkal lebih berisiko tercemar karena lebih dekat dengan permukaan dan cepat terinfiltrasi limbah. Sementara itu, air tanah dalam dan mata air pegunungan cenderung lebih aman karena melewati proses filtrasi alami. Namun, ia menegaskan bahwa setiap sumber tetap harus diperiksa, sebab kontaminan bisa masuk hingga ke lapisan dalam akuifer.

Penelitian di sejumlah kota besar di Indonesia, termasuk Jakarta, Bandung, dan Malang, menunjukkan kualitas air tanah terus menurun. Total zat terlarut (TDS) dalam air tanah di beberapa lokasi bahkan setara dengan air sungai yang tercemar. Kondisi ini dipicu pencemaran dari limbah rumah tangga, industri, serta buruknya sistem sanitasi.

Data Kementerian Kesehatan mencatat bahwa standar baku mutu air minum diatur melalui Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 32 Tahun 2017. Namun, survei lapangan menemukan banyak sumur dangkal di permukiman padat penduduk yang tidak memenuhi parameter fisik, kimia, maupun mikrobiologi. Hal itu meningkatkan risiko penyakit menular seperti diare, infeksi saluran cerna, serta dampak kronis akibat paparan logam berat.

Sejumlah teknologi pengolahan seperti filtrasi, reverse osmosis, disinfeksi ultraviolet, hingga ozonisasi kini banyak dipakai untuk menurunkan tingkat kontaminan. Meski demikian, upaya menjaga sumber air di hulu melalui pelestarian lingkungan dan pengelolaan limbah tetap menjadi faktor penentu kualitas air minum.

Pakar IPB tersebut mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap semua sumur air tanah aman dikonsumsi tanpa pengujian. Pemeriksaan rutin terhadap kualitas air perlu dilakukan, bahkan di daerah pegunungan sekalipun. Menurut dia, air pegunungan memang memiliki kualitas terbaik, tetapi faktor aktivitas manusia tetap bisa mempengaruhi.

Dengan demikian, sumber air pegunungan yang terlindungi alam terbukti lebih layak menjadi bahan baku air minum. Namun, tantangan terbesar adalah memastikan keberlanjutan pasokan sekaligus menjaga kualitasnya agar tetap sesuai standar kesehatan. (Rudy)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU