17 September 2026
HomeBerita“The Wings of the Sanghyang Dance” Karya Putu Fajar Arcana, Kalahkan Ribuan...

“The Wings of the Sanghyang Dance” Karya Putu Fajar Arcana, Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

SHNet,Jakarta-Lukisan berjudul The Wings of the Sanghyang Dance (2026) karya Putu Fajar Arcana, berhasil mengalahkan ribuan lukisan dari 85 negara yang mengikuti panggilan terbuka dari No 35 Gallery, yang berbasis di London, Inggris. Pengumuman lukisan-lukisan yang lolos seleksi untuk mengikuti pameran internasional itu, disiarkan pada 12 September 2026 waktu Inggris.

Menurut keterangan No 35 Gallery, karya Putu Fajar Arcana terpilih setelah melalui penilaian secara bertahap oleh dewan juri yang memiliki kredibilitas di Inggris. “Perlu kami sampaikan bahwa kiriman karya untuk panggilan terbuka ini mencapai lebih dari 1.500 karya dan berasal dari 85 negara di dunia,” tulis No 35 Gallery dalam pemberitahuan kepada perupa.

Pemberitahuan itu juga menulis, The Wings of the Sanghyang Dance, memiliki keselarasan dengan tema panggilan terbuka, yakni “Wings, Birds and Flights”. Selain itu, lukisan ini dinilai memiliki kualitas pencapaian artistik, konsep, serta penyajian yang unik dan bernilai tinggi. “Kami sangat antusias menyertakan karya Putu dalam art project ini,” tulis No 35 Gallery.

Inspirasi

Menurut seniman Putu Fajar Arcana, The Wings of the Sanghyang Dance, pertama-tama tidak diciptakan untuk memenuhi open call dari No 35 Gallery London, tetapi dikerjakan untuk personal art project bertajuk “Metamorfosis”. Putu memilih object kupu-kupu sebagai bahan studi, yang memiliki siklus perubahan bentuk paling nyata dari seluruh makhluk di dunia. Selain itu, kupu-kupu juga selaras dengan teknik fluid art, yang sedang ditekuninya.

“Ini mungkin kebetulan yang bagus. Tiba-tiba ada open call dengan tema “Wings, Bird and Flight” dari No 35 Gallery. Saya kira lukisan sanghyang ini cocok…” ujar Putu, Kamis (17/11/2026) di Jakarta. Putu memang memilih terus menetap di Jakarta setelah purna tugas sebagai redaktur budaya dari Harian Kompas Jakarta.

The Wings of the Sanghyang Dance, menurut Putu, diinspirasi oleh kesakralan tarian sanghyang di Bali. Tarian ini terdiri dari beberapa jenis dan berbeda di masing-masing daerah. Meski begitu tari sanghyang memiliki ciri serupa, yakni tarian sakral yang dipersembahkan kepada dewata. “Bahkan pada banyak sanghyang, para penarinya harus memiliki syarat khusus. Biasanya saat menari, mereka memasuki wilayah trance,” tutur pelukis yang lebih dikenal sebagai sastrawan ini.

Saat-saat trance itulah, kata Putu, para penari yang sebagian remaja-remaja yang belum memasuki masa akil-balik itu, menari-nari seperti bidadari. “Mereka seperti bidadari-bidadari cantik yang terbang dan turun ke dunia. Saya menggambarkannya dengan kepakan sayap kupu-kupu yang indah, namun magis,” kata Putu, yang sering dipanggil Bli Can.

Putu Fajar Arcana

Rencana ke Depan

Pameran “Wing, Bird and Flight” akan dilakukan dalam waktu dekat secara daring. Meskipun pameran daring, open call yang diselenggarakan No 35 Gallery meraih antusiasme yang luar biasa dari para perupa di seluruh dunia. No 35 Gallery akan menyiapkan online catalogue, presentasi di website, promosi di media sosial, sertifikat pameran, dan ekspose ke berbagai institusi dan pecinta seni di dunia.

Selain itu, No 35 Gallery juga akan melakukan pemilihan karya terbaik dari karya-karya yang telah terpilih mengikuti pameran. Pelukis yang lukisannya memperoleh karya terbaik, berhak mendapatkan penawaran pameran tunggal dan wawancara khusus dengan No 35 Gallery London.

Menurut kurator Warih Wisatsana, yang mengikuti perjalanan kesenimanan Putu, The Wings of the Sanghyang Dance, merupakan salah satu karya abstrak yang berhasil menangkap roh tarian sakral. “Lukisan ini memiliki gesture yang diciptakan dengan angin dan api. Medium itu mendekati penciptaan yang terjadi dalam tarian sanghyang di Bali, yang juga akrab dengan api dan angin,” katanya.

Kekhasan itulah yang mungkin membuat lukisan ini, kata Warih, menjadi unik dan spesifik, dan mungkin hanya bisa diciptakan oleh para perupa yang mengenal benar tarian sanghyang di Bali. “Dan jangan lupa Putu Fajar Arcana, adalah juga seorang intelektual Bali yang produktif dan kritis,” tambahnya. Putu kerap kali melakukan kajian dan menulis esai tentang kebudayaan dengan pemikiran-pemikiran yang otentik dan kritis. (Sur)

 

 

 

 

 

 

 

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU