SHNet, Jakarta – Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar, mengapresiasi festival tahunan NGAYOGJAZZ yang berbasis komunitas. Panggung ekonomi kreatif lokal ini diharapkan Wamen Ekraf bisa menularkan semangat ruang tumbuh kreativitas dan jejaring lintas sektor.
“Hal menarik dari NGAYOGJAZZ yaitu pendekatan acara yang tidak semata mengukur keberhasilan dari aspek komersial, tetapi ada pengalaman, interaksi, hingga dampak ekonomi, sosial budaya, serta lingkungan yang tumbuh secara organik dari masyarakat. Ini bisa menjadi contoh festival tahunan yang bisa menginspirasi ekosistem ekonomi kreatif dengan semangat gotong royong,” ujar Wamen Ekraf dalam audiensi bersama NGAYOGJAZZ di kantor Kementerian Ekraf, Jakarta, Rabu (10/6).
Bertumbuh sejak 2007, NGAYOGJAZZ semakin dikenal sebagai kegiatan berbasis komunitas di desa-desa Yogyakarta. Tahun ini, NGAYOGJAZZ 2026 siap menghadirkan pendekatan yang tak biasa dalam penyelenggaraan festival musik yaitu kolaborasi lintas komunitas. Selain berorientasi sebagai panggung seni pertunjukan, festival ini akan menciptakan ruang pertemuan antara musisi, masyarakat, dan berbagai pejuang subsektor ekraf.
“Kita perlu mempertemukan talenta kreatif dengan ruang, festival, atau panggung yang tersedia. Banyak komunitas dan musisi yang membutuhkan panggung, sementara di sisi lain ada fasilitas yang belum dimanfaatkan maksimal. Peran Kementerian Ekraf tentu membuka akses, menjembatani kolaborasi, dan menciptakan peluang agar kreativitas bisa berkembang menjadi perputaran ekonomi,” ungkap Wamen Ekraf.
Di tempat yang sama, Ajie Wartono sebagai Festival Director NGAYOGJAZZ menyampaikan bahwa festival musik ini mengedepankan keterlibatan masyarakat sekaligus fleksibilitas ruang kreasi di desa-desa Yogyakarta yang membangun pertemuan lintas budaya dan lintas generasi. Selain menargetkan lebih dari 40 UMKM, NGAYOGJAZZ juga punya target 30.000 pengunjung, baik domestik maupun mancanegara.
“Sejak dahulu, kami menyebut NGAYOGJAZZ bukan sekadar festival musik, tetapi suatu ‘peristiwa seni dan budaya’ yang mendorong eksperimentasi musisi dan interaksi berbagai elemen masyarakat. Kemudian kami bangun suasana pertemuan sekaligus ruang kolaborasi yang mana tak hanya musisi yang terlibat, tetapi juga pengrajin, komunitas, akademisi, media, hingga warga desa yang memunculkan ekosistem kreatif untuk terus berkembang,” ucap Ajie Wartono.
Selain menghadirkan pertunjukan musik, NGAYOGJAZZ juga mendorong berbagai aktivitas turunan seperti pelatihan membatik atau tari, workshop profesi kreatif, kolaborasi lintas komunitas, hingga praktik penyelenggaraan festival musik yang memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan manfaat ekonomi lokal.
Masyarakat desa setempat memiliki kesempatan untuk memperoleh pendapatan langsung melalui penjualan makanan, oleh-oleh khas desa, dan pengelolaan parkir bagi para pengunjung. Seluruh hasil dari bazar dan parkir sepenuhnya menjadi milik warga, tanpa ada potongan yang diambil oleh pihak NGAYOGJAZZ.
Turut mendampingi Wamen Ekraf dalam audiensi yaitu Direktur Musik Mohammad Amin. Hadir pula Board of Event Creative, Hendy Setyawan; Board Creative NGAYOGJAZZ, Novindra Diratara; serta perwakilan dari UKP Bidang Ekonomi Kreatif, Fikri. (Stevani Elisabeth)

