30 April 2026
HomeBeritaBPKN Minta BPOM Teliti Lagi Produk Obat dan Kemasan Pangan Mengandung Etilen...

BPKN Minta BPOM Teliti Lagi Produk Obat dan Kemasan Pangan Mengandung Etilen Glikol

SHNet, Jakarta-Ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), Rizal Edy Halim, meminta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk meneliti lebih lanjut produk-produk obat dan bahan kemasan yang mengandung etilen glikol dan dietilen glikol sehubungan banyaknya anak-anak yang meninggal di Gambia, Afrika Barat, karena mengkonsumsi obat batuk sirup yang mengandung za-zat tersebut.  Hal itu untuk memastikan bahwa tidak ada produk-produk obat dan pangan di Indonesia yang mengandung bahan beracun itu.

“BPOM perlu melakukan penelitian lebih lanjut terhadap kemasan-kemasan pangan yang mengandung etilen glikol untuk melihat kontasimasinya pada produknya,” kata Rizal.

Seperti diketahui, kemasan-kemasan plastik sekali pakai seperi galon sekali pakai pembuatannya menggunakan bahan etilen glikol. Terkait hal ini, Rizal mengatakan bahwa itu perlu diteliti juga lebih lanjut oleh BPOM. Namun, dia mengatakan semua bahan kemasan plastik itu beresiko. “Jadi kalau terkontaminasi dengan zat lain, apakah sinar ultraviolet atau suhu yang tidak mendukung, itu bisa menyebabkan reaksi yang beresiko atau berpotensi resiko dalam jangka panjang,” ujarnya.

Jadi, lanjutnya, memang untuk plastik sekali pakai ataupun palstik lainnya harus diteliti lebih lanjut. “Nanti, hasil penelitiannya bisa digunakan untuk mengambil keputusan berupa kebijakan apakah pelabelannya harus diperketat atau produksinya yang dilakukan pengawasan dengan ketat,” tukasnya.

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait juga melontarkan hal serupa. Dia meminta agar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memberikan peringatan berupa pelabelan etilon glikol free terhadap kemasan-kemasan pangan berbahan etilon glikol. Hal itu untuk mengantisipasi apa yang telah terjadi di Gambia, Afrika Barat, di mana banyak anak yang meninggal akibat mengkonsumsi obat batuk sirup yang mengandung etilen glikol.

“Saya kira kalau memang sudah positif WHO mengatakan yang di Afrika itu bahwa sirup obat batuk itu mengandung etilen glikol dan itu mengakibatkan banyak anak di Afrika meninggal karena gagal ginjal, itu kan sebuah data yang dikeluarkan oleh badan dunia tentang kesehatan,” ujarnya.

Karenanya, lanjut Arist, meski di Indonesia belum ditemukan sirup obat  batuk seperti yang digunakan di Afrika, kandungan etilen glikol itu ada juga di salah satu produk air minum dalam kemasan. “Karena itu, saya kira Badan POM perlu melakukan penelitian terhadap produk-produk yang mengandung etilen glikol itu, seperti pada air minum kemasan galon sekali pakai,” katanya.

Menurutnya, penelitian itu wajib dilakukan negara dalam hal ini pemegang regulasi Badan POM supaya jauh-jauh sebelumnya bisa diantisipasi supaya masyarakat memahami betul bahaya etilen glikol itu.  “Karena plastik-plastik yang dipakai seperti galon sekali pakai, ketika dia mengandung etilen glikol maka isi dari kemasan itu bisa bermigrasi dan berbhaya bagi kesehatan anak,” tukasnya.

Arist menegaskan Komnas PA sangat konsen terhadap air minum atau makanan yang berbahaya bagi anak-anak seperti halnya etilen glikol yang disebutkan bisa mengakibatkan gagal ginjal. Dia mengatakan  Komnas PA sangat prihatin terhadap kondisi anak-anak di Indonesia yang saat ini banyak yang menderita gagal ginjal.

Berdasarkan laporan yang diterima Komnas PA dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Arist mengungkapkan ada sekitar 152 anak yang dinyatakan positif gagal ginjal. Sementara, IDAI Jawa Timur dan Malang melaporkan dari 13 anak gagal ginjal, 10 di antaranya yang berada di Surabaya meninggal dunia. Di Malang dari 6 anak yang ditemukan gagal ginjal 2 meninggal dunia. Di Jogja, ada 5 anak yang berumur di bawah 5 tahun meninggal dunia. Di Rumah Sakit Adam Malik Sumatera, dari 11 anak gagal ginjal 6 di antaranya meninggal dunia.

“Ini masih dicari penyebabnya. Kalau memang itu nanti ada dampak dari etilen glikol, saya kira ini harus menjadi perhatian IDAI untuk  merekomendasikan kepada Badan POM sebagai pemegang regulasi untuk mengadakan penelitian terhadap kemasan air galon sekali pakai yang mengandung etilen glikol,” ujarnya.

Komnas Perlindungan Anak melihat banyaknya produk plastik atau galon sekali pakai yang dikonsumsikan oleh anak-anak, baik bayi dan balita.  misalnya airnya kan nah itu kan bermigrasi itu artinya kan berpindah dan bisa menjadi bahaya kesehatan itu saya kira sikap Komnas perlindungan anak. “Kami juga akan terus mengkampanyekan bahaya etilen glikol ini ke masyarakat. Semua produk yang digunakan oleh rumah tangga dalam bentuk plastik termasuk galon sekali pakai itu harus ada peringatan bahwa kemasan itu mengandung etilen glikol pada labelnya,” katanya.

Sebelumnya, Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Nabil Haroen juga meminta BPOM harus bekerja cepat untuk meneliti ulang kandungan eliten glikol pada bahan kemasan pangan, seperti plastik kemasan air galon yang berbahan PET serta produk lainnya.

“Ini (bahan kimia etilen glikol) sangat berbahaya. Jadi, perlu ada tindakan serius dan cepat dari BPOM terkait zat kimia berbahaya ini.  Jangan sampai kasus yang terjadi di Gambia-Afrika terjadi di Indonesia, di mana anak-anak meninggal dan keracunan akibat konsumsi bahan makanan yang mengandung etilen glikol di atas ambang batas,” katanya. (cls)

 

 

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU