6 July 2026
HomeBeritaCuma Sebut Berpotensi, Dosen Kimia ITB Tegaskan Isu Bahaya BPA Galon Guna...

Cuma Sebut Berpotensi, Dosen Kimia ITB Tegaskan Isu Bahaya BPA Galon Guna Ulang Belum Ada Bukti Klinisnya

SHNet, Jakarta-Cerita mengenai bahaya BPA galon guna ulang yang ramai dihembuskan baik melalui media dan media sosial hingga saat ini belum ada bukti klinisnya. Semua yang disebutkan masyarakat itu hanya berupa potensi-potensi bahayanya saja yang fakta ilmiahnya belum pernah ada di Indonesia.

Hal itu disampaikan Dosen Program Studi Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr. Handajaya Rusli, M.Si. Dia menjelaskan bukan hanya BPA saja yang berbahaya, tapi semua senyawa kimia pembentuk kemasan plastik itu juga berbahaya karena sifatnya yang beracun. “Makanya, perlu ada izin dari BPOM dulu sebelum kemasan plastik itu beredar di masyarakat. Produsennya sendiri juga sudah melakukan pengujian terlebih dulu terhadap kemasan yang mereka gunakan. Cuma, ya namanya isu ya, gitu lah seperti yang terjadi sekarang,” ujarnya.

Dia menegaskan bahwa selama ini penyampaian isu bahaya BPA galon guna ulang itu hanya berupa potensi-potensinya saja yang seringkali disebutkan. Tapi, menurutnya, tak satupun pihak yang pernah membuktikan bahayanya terhadap kesehatan masyarakat. “Itu kan kalau yang diceritakan itu selama ini hanya menyebutkan potensinya bisa meningkat karena ini dan itu. Cuma, itu kan faktor yang dia tahu doang dari orang lain, tapi nggak ada yang pernah bisa buktikan sampai saat ini,” katanya.

Dia menyampaikan bahwa biasanya isu seperti bahaya BPA galon guna ulang itu muncul kalau sudah ada penggantinya. “Kadang-kadang isunya muncul kalau sudah ada gantinya. Kayak misalkan galon berbahan polikarbonat kan sudah ada gantinya yaitu galon PET. Jadi, seperti persaingan bisnis gitulah,” ucapnya.

Menurutnya, galon plastik sekali pakai juga sering digunakan masyarakat secara berulang-ulang, padahal itu tidak diperbolehkan karena berbahaya juga bagi kesehatan. “Saya lihat kemasan galon sekali pakai itu juga digunakan berulang-ulang sama pedagang-pedagang itu sampai kuning,” tuturnya.

Dia menegaskan bahwa para produsen menggunakan kemasan plastik itu karena mereka mau menyesuaikan dengan produk yang dijualnya. Misalnya, kalau mau menggunakan galon yang agak keras, produsen memang harus memilih plastik berbahan polikarbonat. Demikian juga kalau carinya yang elastis, biasanya yang digunakan itu yang plastik polietilena atau polipropilena, “Jadi, itu disesuaikan dengan jualannya saja,” tukasnya.

Sebelumnya, peneliti di Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan dan SEAFAST Center Institut Pertanian Bogor (IPB), Nugraha Edhi Suyatma juga menjelaskan keunggulan kemasan galon guna ulang berbahan Polikarbonat (PC) dibanding galon sekali pakai berbahan PET. “Dilihat dari sifat fungsionalnya, galon guna ulang lebih fleksibel sehingga lebih tahan dari risiko pecah atau retak,” tuturnya.

Galon guna ulang, kata dia, memiliki ketahanan gores dan benturan lebih baik dan suhu transisi gelas atau Tg yang lebih tinggi dibanding galon sekali pakai. Disebutkan, galon guna ulang memiliki Tg 150 derajat Celcius, sementara galon sekali pakai hanya 70 derajat Celcius. Semakin tinggi Tg, semakin tahan pada kondisi suhu tinggi.

“Kondisi ini membuat galon guna ulang tahan untuk dicuci dengan suhu panas antara 60-80 derajat Celcius dengan penyikatan menggunakan sikat plastik tanpa menyebabkan kerusakan pada permukaan kemasan,” ungkapnya.

Dilihat dari data absorpsi air, menunjukkan bahwa penyerapan galon guna ulang lebih rendah dibanding galon sekali pakai. “Sehingga, dapat dikatakan bahwa galon guna ulang lebih tahan terhadap air dibandingkan galon sekali pakai,” katanya.

Baru-baru ini, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Taruna Ikrar juga sudah menegaskan bahwa kemasan galon guna ulang yang saat ini beredar di masyarakat aman untuk dipakai. Ditegaskan, BPOM terus mengawasi dengan ketat standar keamanan kemasan pangan produsen air minum dalam kemasan (AMDK). “Ya tentu aman, yang sudah (berijin) Badan POM-nya sudah pasti aman. Karena kan salah satu persyaratan Badan POM mengeluarkan kalau kemasan itu sudah punya SNI kan. Jadi semua kemasan yang ber-SNI itu aman,” katanya. (cls)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU