22 May 2022
HomeBeritaAstrid dan Puteranya, Koban Pembunuhan di NTT Mesti Diusut Tuntas

Astrid dan Puteranya, Koban Pembunuhan di NTT Mesti Diusut Tuntas

JAKARTA, SHNetAstrid dan Putranya, Lael, warga di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Indonesia, telah menjadi korban pelanggaran Hak Azasi Manusia (HAM).

Keduanyaa mengalami peristiwa penyiksaan, penghilangan paksa dan penghilangan nyawa, 30 Oktober 2021, tanpa adanya perlindungan dari negara melalui suatu penegakan hukum yang berkeadilan dalam proses hukum yang akuntabel dan transparan.

Dalam kasus pembunuhan Astri dan Lael, yang menderita kerugian tidak hanya Astrid, Lael dan Keluarga besarnya, akan tetapi juga seluruh masyarakat NTT.

Karena menyangkut sebuah sistim manajemen penyidikan Polisi Republik Indonesia (Polri) yang belum menjawab keinginan dan tuntutan masyarakat NTT tentang terwujudnya pelayanan hukum yang berkeadilan.

Inilah potret buram Penegakan Hukum di NTT khususnya dalam kasus pembunuhan berencana di setiap Kabupaten dan Kota di NTT, yang kebanyakan tidak tertangani dengan sungguh-sungguh bahkan masih mangkrak.

Namun tidak ada pertanggung jawaban oleh Kapolda dan Kapolres-Kapolres saat berganti di tempatkan di luar NTT, mereka seakan-akan berprestasi dan mendapatkan promosi.

BAP masih sumir dilimpahkan

Mengapa penyidikan kasus kematian Astri dan Lael, Penyidik nampak tergesa-gesa melimpahkan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang masih sumir ke Jaksa Penuntut Umum?

Padahal jangka waktu penahanan untuk kepentingan penyidikan masih cukup lama yaitu (120) hari atau hingga akhir Maret 2022, sesuai ketentuan pasal 24 jo. pasal 29 Kita Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) karena ancaman pidananya di atas 9 tahun atau lebih.

Misteri pembunuhan Astri Manafe dan putranya, Lael, baru terungkap setelah pada Kamis, 2 Desember 2021, sekira pukul 12.00 Waktu Indonesia Tengah (WITA), Randi Bajideh (31 tahun) mendatangi Kantor Polisi Daerah Nusa Tenggara Timur (Polda NTT) di Kupang.

Randi menyerahkan diri dan mengaku diri sebagai pelaku peristiwa pembunuhan terhadap Astri (30 tahun) dan Lael (1 tahun).

Artinya 4 bulan setelah Astri dan Lael menghilang, 28 Agustus 2021 dan ditemukan jasadnya baru Randi mengaku sebagai pelaku.

Publik NTT, ingin segera tahu, apa motif Randi mengaku sebagai pelaku dan apa motifnya melakukan tindakan pembunuhan terhadap Astri dan Lael, apa saja persiapan sebelum kejadian, apa yang dilakukan oleh Randi, selama 4 (empat) bulan sejak Astri dan Lael meninggal.

Randi dengan rapi menutupi perbuatannya, sambil memantau jalannya penyelidikan dan reaksi Keluarga Astri dan Publik NTT.

Pasal 338 KUHP dipertanyakan

Pasal sangkaan yang ditunggu publik NTT sesuai dengan perkembangan isu dan fakta sosial yang berkembang dalam kasus kematian Astri dan Putranya adalah pasal 340 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), karena sebelumnya penyidik menerapkan sangkaan pasal 338 KUHP tetapi diprotes Masyarakat Kota Kupang serta merta Penyidik mengubah dan menambahkan pasal 340 KUHP.

Publik NTT yakin betul bahwa kematian Astri Manafe dan Putranya Lael tidak dilakukan sendiri oleh satu orang, tetapi direncanakan, diorganisir dan disiapkan secara matang oleh beberapa orang.

Ada aktor intelektual dan ada ekeskutor. Karena itu, sangkaan pidana pasal 340 KUHP yaitu pidana mati, tidak lain karena kualifikasi deliknya adalah pembunuhan berencana.

Dengan demikian motif pembunuhan yang harus digali dari Randi, adalah apakah pola dalam hubungan antara Randi dengan Astri Manafe (korban) karena ada hubungan asmara tanpa nikah dan memiliki seorang anak biologis bernama Lael, dan bagaimana pola hubungan antara Randi dan Keluarganya menyikapi keberadaan Astri dan Lael.

Penyidik melindungi pelaku lain

Di sini publik menuntut profesionalisme Polda NTT, penyidik tidak boleh merasa puas hanya dengan menahan Randi dan memberi label sebagai pelaku tunggal.

Penyidik harus menggali lebih dalam tentang cara hidup dan kesusilaan Randi serta segala sesuatu yang pada umumnya dapat mempengaruhi dapat tidaknya keterangan itu dipercaya.

Menjadikan Randi sebagai pelaku tunggal, jelas tidak dapat diterima oleh akal sehat publik NTT, malah sebaliknya memberi kesan bahwa model penyidikan dengan menjadikan Randi sebagai tersangka tunggal bertujuan melindungi pelaku  yang sesungguhnya yaitu aktor intelektual peristiwa pembunuhan Astri dan Lael.

Publik selama ini kecewa dengan kerja penyidik Polda NTT karena beberapa kasus kematian tidak wajar.

Tidak ditangani dengan sungguh-sungguh, sehingga Polisi gagal mengungkap sebab-sebab kematian dan gagal pula menemukan siapa yang diduga sebagai pelakunya.

Kasus kematian Astri Manafe dan Lael harus menjadi momentum Polda NTT memperlihatkan profesionalitasnya, tidak sekedar bermodalkan pengakuan Randi, tetapi menggali lebih jauh siapa-siapa saja yang paling dekat dengan Randi (termasuk istri Randi).

Agar Penyidik bisa mengetahui cara hidup dan kesusilaan Randi serta segala sesuatu yang pada umumnya dapat mempengaruhi dapat tidaknya keterangan ini dipercaya.

Ada parameter untuk menilai kebenaran keterangan Randi yang sebelumnya sempat diperiksa sebagai saksi, yaitu Penyidik harus sungguh-sungguh memperhatikan.

Pertama, persesuaian antara keterangan saksi yang satu dengan keterangan saksi yang lain;

Kedua, persesuaian antara keterangan saksi dengan alat bukti lain;

Ketiga, alasan yang mungkin dipergunakan oleh saksi untuk memberikan keterangan yang tertentu;

Keempat, cara hidup dan kesusilaan saksi serta segala sesuatu yang pada umumnya dapat mempengaruhi dapat tidaknya keterangan itu dipercaya.”

Jakarta, 24 Januari 2022

Petrus Selestinus SH, Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) & Advokat Peradi

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU