26 October 2026
HomeBeritaPariwisataCreative Village WCCE, Irene Umar: Saatnya Ekraf Indonesia Mendunia

Creative Village WCCE, Irene Umar: Saatnya Ekraf Indonesia Mendunia

SHNet, Jakarta – World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 tak sekadar menjadi ajang pertemuan delegasi internasional. Melalui program Creative Village di SCBD Park, Jakarta, Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) memperkenalkan kekayaan dan potensi ekonomi kreatif Indonesia sekaligus membuka peluang kolaborasi dengan pasar global.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar mengatakan, Creative Village menjadi ruang bagi para pejuang ekonomi kreatif untuk menunjukkan kontribusi nyata melalui musik, pertunjukan, merek lokal, hingga produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dari berbagai subsektor.

“ Para delegasi dari 82 negara yang hadir bisa merasakan getaran cinta,” ujar Irene di SCBD Park, Minggu (25/10/2026) malam.

Program Creative Village menampilkan beragam produk kreatif Indonesia. Salah satu daya tariknya adalah mobil buatan dalam negeri yang dipamerkan di kawasan Ashta SCBD.

Menurut Irene, tingginya antusiasme peserta menjadi bukti bahwa WCCE memiliki daya tarik kuat sebagai forum pertukaran gagasan dan pengembangan jejaring internasional. Ia menyebut, jumlah pendaftar di lokasi utama kegiatan, Hotel Kempinski, mencapai 7.800 orang, dengan setiap sesi dipadati peserta.

“Teman-teman bisa melihat acara yang kita adakan, ada daging-nya semua. Yang penting ada koneksi dan networking dengan teman-teman di luar negeri untuk menciptakan market making,” katanya.

Ia menegaskan, upaya membawa ekonomi kreatif Indonesia ke panggung dunia tidak boleh hanya mengandalkan hubungan antarpemerintah atau government to government (G2G). Kolaborasi harus menjangkau pelaku industri hingga masyarakat di tingkat akar rumput agar karya lokal memiliki peluang lebih luas di pasar internasional.

Irene juga mengingatkan bahwa pasar produk kreatif Indonesia tidak terbatas pada 280 juta penduduk di dalam negeri. Dengan strategi yang tepat, produk dan karya anak bangsa berpeluang menjangkau sekitar 8 miliar penduduk dunia.

“Harapannya, kita mengingat bahwa ini bukan sekadar seremoni. Sampai empat tahun ke depan, ketika WCCE kembali ke rumah kita, inisiatif Indonesia ini harus kita jaga bersama,” ujarnya.

 Panggung Donasi Karhutla 

Tak hanya menampilkan karya kreatif, Creative Village juga diisi dengan doa bersama serta panggung donasi untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Irene Umar menekankan bahwa sektor ekonomi kreatif harus terus menjadi wadah pemersatu bangsa yang inklusif serta melampaui perbedaan suku, ras, maupun agama.

Kemenekraf turut memberikan ruang bagi konten kreator Owen yang aktif menggalang dukungan untuk kegiatan kemanusiaan. Menurut Irene, terdapat dua tautan donasi di platform Kitabisa yang tengah ditangani Owen.

Selain itu, Kemenekraf mengundang Ferry Irwandi untuk berdiskusi mengenai berbagai langkah yang dapat dilakukan bersama demi Indonesia.

Kehadiran panggung donasi tersebut memperlihatkan bahwa ekonomi kreatif tidak hanya berkaitan dengan karya, pertunjukan, dan peluang bisnis, tetapi juga dapat menjadi sarana membangun solidaritas serta menggerakkan kepedulian sosial.

Kemenekraf juga memiliki Gerakan Ekonomi Kreatif (Gekraf) sebagai bagian dari upaya mendorong keterlibatan pelaku ekonomi kreatif.

WCCE merupakan inisiatif Indonesia yang pertama kali digelar di Bali pada 2018. Forum internasional ini kemudian berlanjut di Dubai pada 2021, kembali ke Bali pada 2022, diselenggarakan di Tashkent pada 2024, dan kembali ke Jakarta pada 2026.

Keberlanjutan WCCE menunjukkan konsistensi Indonesia dalam mendorong diplomasi ekonomi kreatif di tingkat internasional.

Melalui WCCE 2026 dan Creative Village, Indonesia tidak hanya memperkenalkan karya dan produk lokal, tetapi juga memperkuat jejaring, membuka peluang pasar, serta mendorong pelaku ekonomi kreatif agar mampu bersaing di tingkat global. (Stevani Elisabeth/Dok.Foto: Muhammad Ihsan)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU