Jakarta – Ketua Umum (Ketum) Barisan Relawan Jokowi (Bara JP) Willem Frans Ansanay mengatakan, upaya pemakzulan Wapres Gibran itu hanya upaya para pengecut politik. Sebab, tidak ada alasan mendasar untuk pemakzulan.
“Karena mereka sadar, di 2029, hanya ada dua figur yang miliki CV mentereng, Pak Prabowo dan Mas Gibran. Jadi, kalau pasangan ini bertahan, Pilpres 2029 itu berat bagi siapapun. Inilah yang mau dicegah para penumpang gelap. Itu sebabnya Bara JP dari awal konsisten untuk dua periode, sesuai sikap Pak Jokowi,” tegasnya di Jakarta, Kamis (22/10/2026).
Frans mengatakan, pola serangan Jokowi dan Gibran itu sama persis, tapi karena gagal mendowngrade Pak Jokowi, berpindah ke Gibran dengan upaya pemakzulan. Tapi, apakah serangan itu efektif, ternyata tidak karena survei memperlihatkan Gibran tetap bagus di survei. “Para pengecut politik ini salah sangka, mereka pikir rakyat tidak tahu niat asli mereka. Rakyat itu cerdas dan tidak gampang percaya narasi mereka itu,” katanya.
Frans mengatakan, tidak perlu pintar untuk memahami syarat minimal SMA, kecuali kalau hanya tamat SD atau SMP itu salah, kalau lebih dari itu berarti melewati standar. “Ini kok mau gunakan standar mereka kalau bisa pemimpin cukup SMA. Sistem pendidikan di luar negeri pasti berbeda. Itu yang mereka sengaja sembunyikan,” tegasnya.
Frans menjelaskan, syarat ijazah SMA ini kalau mau jujur hanya untuk mengakomodir capres tertentu di Pilpres 2004. Saat itu Golkar mau syarat minimal S1, tapi silakan cek siapa yang mau cukup ijazah SMA. Kalau S1, pasti ada tokoh yang gagal Capres.
Menurut Frans, sebenarnya tidak perlu ada kehebohan soal ijazah Pak Jokowi dan Gibran kalau bisa terima hasil Pilpres dan tidak bernafsu untuk ambil posisi Gibran. “Kalau mau ganti Pak Prabowo, Mas Gibran, ya sabar nanti hadapi di Pilpres 2029. Tapi, kalau pengecut ya seperti sekarang ini. Dan saya konfirmasi, memang ada penumpang gelap,” tegas Frans.
Hanya saja, Frans tidak membeberkan siapa penumpang gelap, tapi sebenarnya publik sudah tahu. Kalau kita sebuat si A si B, nanti ribut lagi. Intinya, siapa yang bermain sudah lama diketahui. “Tapi, sekarang mereka bingung sendiri karena mayoritas parlemen tidak ikuti permainan penumpang gelap,” kata Frans.
Menurut Frans, polemik ijazah Gibran bukan mencari kebenaran materil, tapi bentuk ketakutan terhadap sosok pemimpin muda seperti Gibran. Mereka mencari kebenran materil dengan mengaburkan kebenaran materil.
“Sangat jelas, pihak yang mempersoalkan membangun polemik ini, mereka juga yang gugat hasil Pilpres lalu. Pengacaranya kan itu-itu saja. Rupanya mereka belum move on dari kekalahan politik. Kalah menamg dalam politik itu biasa, tapi ini kok mau berkuasa dengan politik belah bambu,” ujarnya.
Frans mengatakan, serangan Wapres dari masa ke masa, baru Wapres Gibran yang diserang seperti layaknya seorang Presiden. Tapi, hantaman politik ini juga menunjukkan bagaimana sikap berkelas Mas Gibran yang tetap tenang dan fokus membantu Presiden Prabowo.
“Ini butuh kematangan. Mungkin Mas Gibran dari sisi usia masih muda, tapi begitu dewasa dalam bersikap. Makanya banyak yang khawatir, sehingga mereka pikir lebih baik dijatuhkan dari sekarang. “Ini yang saya bilang pengecut, kalau kalah ya kalah. Pasti ada yang kalah dan menang dalam politik. Pak Presiden Prabowo juga pernah kalah, tapi sekarang giliran Beliau menang,” tutur Frans.
Menurut Frans, pihaknya tetap dukung pasangan Prabowo-Gibran dua periode, tapi dalam politik apapun bisa terjadi. “Yaa…politik itu kan political is art. Politik itu seni untuk memungkinkan hal yang tampak tak mungkin. Jadi, apapun dalam politik bisa terjadi. Saat ini, posisi Bara JP, Prabowo-Gibran dua periode,” tegasnya.
Frans mengatakan, hanya serangan kepada Pak Jokowi dan Mas Gibran itu sangat brutal karena membangun fitnah dan penghinaan yang justru dilakukan beberapa orang yang tersangkut kasus hukum. “Ada yang tersangka, ada yang divonis bersalah, ada yang kabur ke luar negeri, tapi kok mau jadi pahlawan moral,” katanya.
Untuk saat ini, jelas Frans, semua fokus membantu pemerintah untuk merealisasikan program. Dengan waktu dua tahun, tentu masih banyak yang harus diselesaikan di tengah tantangan global yang tidak menentu.
“Pasti ada banyak kekurangan, tapi kita juga tidak boleh menutup ada banyak yang baik. Kami harap semua bersatu untuk sama-sama mengatasi berbagai masalah yang tidak mungkin dapat diselesaikan pemerintah sendiri tanpa kita semua bergotong royong,” katanya.(den)

