Oleh: Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin
Ketua DPP Partai Golkar Bidang Kebijakan Politik Luar Negeri dan Hubungan Internasional
Director, Association of Papuans from Bomberai Bay
Fakfak, West Papua Indonesia
Jayapura, 10 September 2026
Spasibo, Rossiyanam — Terima kasih, saudara-saudaraku Rusia.
Ada saat-saat tertentu dalam sejarah sebuah bangsa ketika sebuah kunjungan kenegaraan bukan lagi sekadar perjalanan diplomatik, tapi menjadi penanda zaman.
Kunjungan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, ke Vladivostok untuk menghadiri Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 pada September 2026 adalah salah satu momentum tersebut.
Presiden Prabowo hadir bukan sebagai tamu biasa, tamu kehormatan utama atas undangan Presiden Federasi Rusia, Vladimir Putin. Forum EEF ke-11 berlangsung 1–4 September 2026 di Far Eastern Federal University, Vladivostok, dengan tema “The Far East: Development for the Benefit of the People.”
Tetapi makna perjalanan ini jauh lebih besar daripada sebuah forum ekonomi. Di balik jabat tangan Prabowo dan Putin, kita dapat melihat kembali sebuah sejarah panjang hubungan Indonesia dan Rusia—sebuah sejarah yang pernah ditempa oleh Presiden Soekarno bersama pemimpin Uni Soviet Nikita Khrushchev.
Dan dari sejarah itulah kita dapat bertanya: Apakah Indonesia pada abad ke-21 dapat kembali membangun hubungan strategis dengan Rusia pada tingkat yang lebih tinggi, lebih modern, lebih mandiri, dan lebih menguntungkan kepentingan nasional? Saya percaya: bisa.
Soekarno-Khrushchev: Diplomasi Melahirkan Kekuatan
Generasi sekarang mungkin sulit membayangkan betapa kuatnya hubungan Indonesia dan Uni Soviet pada era Soekarno. Indonesia ketika itu bukan sekadar mencari sahabat.
Indonesia sedang mencari kekuatan untuk berdiri sebagai bangsa merdeka ketika persoalan Irian Barat memasuki fase yang sangat menentukan, diplomasi Indonesia bergerak ke berbagai arah. Salah satu langkah paling penting adalah mendekat kepada Uni Soviet.
Pada Desember 1960, pejabat tinggi Indonesia seperti Jenderal A.H. Nasution, Kepala Staf Angkatan Udara Suryadarma, dan Menteri Luar Negeri Soebandrio berkunjung ke Uni Soviet untuk membicarakan bantuan militer. Kerja sama tersebut kemudian berkembang menjadi bantuan peralatan militer modern yang sangat besar bagi Indonesia.
Hasilnya luar biasa. Indonesia memperoleh berbagai pesawat tempur, pesawat pembom, kapal perang, kapal selam, artileri dan persenjataan modern.
Kekuatan militer Indonesia melonjak. Pada masa itu, Indonesia bahkan menjadi salah satu kekuatan militer paling diperhitungkan di kawasan Asia Tenggara.
Inilah kecerdasan diplomasi Soekarno: diplomasi tidak berdiri sendiri. Diplomasi harus mempunyai daya dukung ekonomi. Diplomasi harus mempunyai daya dukung politik. Dan dalam kondisi tertentu, diplomasi harus mempunyai daya dukung pertahanan yang membuat suara sebuah negara benar-benar didengar. Soekarno memahami itu.
Dari Khrushchev ke Putin
Enam puluh tahun lebih kemudian, sejarah memperlihatkan wajah yang berbeda. Uni Soviet telah bubar.
Dunia Perang Dingin telah berubah.
Namun Rusia tetap menjadi salah satu kekuatan besar dunia. Dan Indonesia tetap menjadi salah satu negara paling penting di Asia. Di sinilah hubungan Prabowo–Putin memperoleh makna strategis.
Pada 2025 saja, Presiden Prabowo bertemu Putin dalam beberapa momentum penting—termasuk di St. Petersburg, Beijing, dan Kremlin. Dalam kunjungan ke St. Petersburg pada Juni 2025, Putin menyebut Prabowo sebagai “rekan dan teman” dan menegaskan kesiapan Rusia memperluas kerja sama dengan Indonesia, termasuk di bidang nuklir untuk tujuan damai.
Pada Desember 2025, ketika Prabowo bertemu Putin di Kremlin, Putin kembali menyatakan bahwa hubungan kedua negara berkembang konsisten dan menyebut adanya prospek besar di sektor energi, termasuk energi nuklir. Rusia menyatakan siap membantu apabila Indonesia memutuskan melibatkan Rusia dalam pengembangan teknologi nuklir sipil.
Kemudian datanglah Vladivostok. Eastern Economic Forum (EEF) ke-11. Prabowo–Putin kembali bertemu. Dan Putin menyampaikan sesuatu yang sangat penting: intensitas pertemuan dan komunikasi langsung kedua pemimpin mencerminkan sifat strategis hubungan Rusia dan Indonesia. Ini bukan lagi sekadar nostalgia sejarah. Ini adalah kesempatan membangun masa depan.
Prabowo Tak Perlu Jadi Soekarno
Ada satu hal yang harus kita pahami. Presiden Prabowo tidak perlu menjadi Soekarno. Dan Rusia hari ini bukan Uni Soviet. Indonesia hari ini juga bukan Indonesia tahun 1960.
Dunia telah berubah. Tetapi ada satu warisan Soekarno yang sangat relevan: Indonesia harus mampu berbicara dengan semua kekuatan dunia tanpa kehilangan kemerdekaan politiknya.
Itulah inti politik luar negeri bebas dan aktif. Prabowo sendiri kembali menegaskan di Vladivostok bahwa Indonesia terbuka membangun hubungan dan kerja sama dengan semua negara dan kekuatan besar. Indonesia tetap memegang prinsip independen dan nonblok.
Inilah diplomasi Indonesia yang sesungguhnya. Bukan memilih antara Barat atau Timur. Bukan menjadi satelit Rusia. Bukan pula menjadi satelit Amerika, China atau kekuatan mana pun, tapi Indonesia menjadi Indonesia. Bersahabat dengan semua. Bekerja sama dengan semua, tetapi kepentingan nasional Indonesia tetap berada di atas meja.
Dari Pertahanan ke Energi Nuklir
Jika pada zaman Soekarno kerja sama Indonesia–Soviet menghasilkan lonjakan kemampuan pertahanan, maka pada zaman Prabowo kita dapat membayangkan babak baru: Indonesia–Rusia membangun kemitraan strategis dalam energi, teknologi, pendidikan, kesehatan, antariksa, industri, pangan dan energi nuklir damai. Ini bukan khayalan tanpa dasar.
Dalam pertemuan Prabowo–Putin pada 2025, Rusia secara terbuka menyatakan kesediaannya bekerja sama dengan Indonesia dalam bidang nuklir untuk tujuan damai.
Indonesia sendiri sedang memasukkan tenaga nuklir dalam perencanaan transisi energi nasional. Dokumen Kementerian ESDM menyebut PLTN sebagai salah satu opsi dalam transisi energi menuju Net Zero Emission, sementara RUPTL 2025–2034 mencantumkan total kapasitas PLTN 500 MW yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2032–2033.
Maka, mengapa tidak kita bayangkan sebuah babak baru? Jakarta–Moskow: Nuclear Energy for Peace and Development.
Bukan nuklir untuk perang, bukan senjata nuklir, tapi nuklir untuk listrik, kesehatan, pangan, industri, pendidikan dan kemajuan manusia. Rusia memiliki pengalaman teknologi nuklir sipil yang besar.
Indonesia memiliki kebutuhan energi yang sangat besar. Pertemuan kedua kepentingan tersebut dapat menjadi salah satu proyek strategis abad ke-21.
PLTN Bukan Sekadar Soal Listrik
Jika Indonesia benar-benar membangun PLTN, maka yang harus dibangun bukan hanya reaktor. Yang harus dibangun adalah ekosistem teknologi. Indonesia harus mendapatkan: pendidikan tenaga ahli nuklir; riset dan pengembangan; transfer teknologi; penguatan universitas; industri komponen; keselamatan nuklir; regulasi; pengelolaan limbah; pengembangan teknologi kesehatan nuklir; aplikasi nuklir untuk pertanian; dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Dengan demikian, kerja sama Indonesia–Rusia tidak berhenti pada Rusia membangun PLTN di Indonesia, tetapi naik kelas menjadinIndonesia dan Rusia membangun kapasitas teknologi nuklir Indonesia. Itulah yang disebut kemitraan strategis.
Pasifik: Bukan Pemisah Tapi Jembatan
Ada satu kalimat Presiden Prabowo di Vladivostok yang menurut saya sangat penting. Samudra Pasifik harus menjadi jalan raya ekonomi antara Indonesia dan Rusia. Pemerintah Indonesia bahkan mendorong pembentukan konektivitas langsung melalui penerbangan dan perkapalan.
Ini adalah gagasan yang luar biasa. Karena selama ini kita sering melihat peta dunia dengan cara lama. Rusia terasa jauh, Eropa terasa jauh, dan Asia Timur terasa jauh.
Padahal jika kita melihat kawasan Pasifik sebagai ruang konektivitas, perspektif tersebut berubah. Vladivostok dan Indonesia tidak harus dipisahkan oleh jarak. Mereka dapat disatukan perdagangan, pelayaran, penerbangan, pendidikan, pariwisata, energi, teknologi, dan diplomasi masyarakat.
Papua dan Bomberai Bay: Menyambut Persahabatan Rusia
Sebagai orang Papua dari tanah Bomberai, saya melihat hubungan Indonesia–Rusia bukan hanya dari perspektif Jakarta dan Moskow. Saya melihatnya dari sebuah wilayah yang sejak lama menjadi bagian penting dari perjalanan Republik Indonesia.
Fakfak
Tanah Papua. Tanah Bomberai. Dari ujung timur Indonesia, kita dapat mengirimkan sebuah pesan persahabatan kepada rakyat Rusia, Indonesia bukan hanya Jakarta. Indonesia adalah Sabang sampai Merauke.
Indonesia adalah Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua dan seluruh kepulauan Nusantara.
Dan Papua ingin ikut menjadi bagian dari diplomasi persahabatan Indonesia dengan bangsa-bangsa dunia. Karena itu, hubungan Indonesia–Rusia harus semakin menyentuh masyarakat.
Bukan hanya hubungan antar-pemerintah, tetapi hubungan people to people, university to university, business to business, culture to culture. youth to youth. Dan tentu saja Papua to Russia.
Dari Sahabat Menjadi Saudara Tua
Ada ungkapan yang lebih tinggi daripada sekadar kemitraan. Persaudaraan. Rusia dan Indonesia memiliki sejarah panjang yang tidak boleh dilupakan, tetapi istilah “saudara tua” sebaiknya kita pahami bukan sebagai hubungan yang menempatkan satu bangsa lebih tinggi daripada bangsa lain. Indonesia adalah negara berdaulat. Rusia adalah negara berdaulat. Keduanya harus berdiri setara.
Maka jika kita menggunakan ungkapan “Rusia sebagai saudara tua Indonesia”, maka maknanya adalah saudara yang mempunyai pengalaman sejarah panjang, yang pernah hadir ketika Indonesia membutuhkan dukungan, dan yang kini dapat berjalan bersama menuju masa depan. Bukan hubungan atasan dan bawahan. Hubungan itu bukan patron dan klien, tetapi
persaudaraan yang setara.
Soekarno Memberi Contoh, Prabowo Melanjutkan Dengan Cara Baru
Soekarno mempunyai keberanian diplomasi. Ia berani datang ke Moskow dan bertemu Khrushchev, berbicara kepada Amerika, berbicara kepada China, dan berbicara kepada negara-negara Asia dan Afrika.
Dan Soekarno membawa Indonesia menjadi salah satu kekuatan moral dunia ketiga. Prabowo mempunyai kesempatan melakukan hal serupa dalam bentuk yang sesuai dengan zaman baru.
Bukan dengan blok-blok militer atau konfrontasi, tetapi dengan strategic autonomy, ekonomi, teknologi, energi, pertahanan, pendidikan, investasi, diplomasi budaya, konektivitas dan dengan keberanian untuk mengatakan kepada seluruh dunia. Indonesia ingin bersahabat dengan semua, tetapi Indonesia akan tetap berdiri di atas kepentingan nasionalnya sendiri.
Moskow–Jakarta: Babak Baru Yang Harus Dibangun
Karena itu, kunjungan Presiden Prabowo ke Rusia tidak boleh berhenti sebagai foto Presiden Prabowo dan Presiden Putin, sehingga jangan berhenti sebagai seremoni.
Jangan berhenti sebagai forum ekonomi.
Jangan berhenti sebagai pertemuan bilateral.
Kita harus menjadikannya agenda sejarah baru.
Saya membayangkan setidaknya tujuh agenda besar Indonesia–Rusia:
Pertama, pembangunan kerja sama energi strategis termasuk energi nuklir damai. Kedua, penguatan pendidikan dan transfer teknologi. Ketiga, pengembangan konektivitas langsung Indonesia–Rusia melalui udara dan laut. Keempat, penguatan kerja sama pertahanan yang tetap sesuai hukum internasional dan kepentingan nasional Indonesia. Kelima, pengembangan kerja sama pangan, pertanian dan industri. Keenam, penguatan diplomasi kebudayaan dan people-to-people diplomacy. Ketujuh, membuka ruang yang lebih besar bagi Papua dan kawasan timur Indonesia untuk ikut dalam diplomasi ekonomi, pendidikan dan kebudayaan dengan Rusia.
Sejarah Belum Selesai
Enam puluh tahun lalu, Soekarno berdiri bersama para pemimpin dunia yang sedang membentuk sejarah baru. Hari ini, Prabowo berdiri di Vladivostok. Tempat yang berbeda, zaman yang berbeda dan tantangan yang berbeda, tapi pertanyaannya sama: Apakah Indonesia berani menjadi negara besar dengan politik luar negeri yang mandiri? Jawaban saya: Ya
Indonesia harus berani dan harus memanfaatkan seluruh persahabatan strategis yang dimilikinya. Hubungan dengan Rusia adalah salah satunya.
Kunjungan Prabowo ke Vladivostok harus kita baca sebagai bagian dari sebuah rangkaian panjang. Presiden Putin sendiri menyebut pertemuan Vladivostok sebagai pertemuan kedua mereka pada 2026 dan menekankan bahwa komunikasi langsung kedua pemimpin menunjukkan sifat strategis hubungan kedua negara.
Maka jangan kita lihat hanya sebagai kunjungan seorang presiden. Lihatlah sebagai
jembatan sejarah dari Soekarno–Khrushchev menuju Prabowo–Putin.
Dari perjuangan Irian Barat menuju kerja sama energi dan teknologi. Dari kapal perang dan pesawat tempur menuju pembangkit listrik dan ilmu pengetahuan. Dari Perang Dingin menuju perdamaian dan pembangunan.
Dari persahabatan pemerintah menuju persaudaraan rakyat.
Spasibo, Russian People
Atas nama persahabatan Indonesia–Rusia, izinkan saya menyampaikan satu kalimat sederhana: Spasibo, Rossiyanam.
Terima kasih, Rusia.
Terima kasih atas sejarah persahabatan yang pernah diberikan kepada Indonesia. Terima kasih kepada generasi Rusia yang dahulu berdiri bersama perjuangan bangsa Indonesia. Terima kasih kepada generasi Rusia hari ini yang membuka pintu kerja sama baru.
Dan terima kasih kepada Presiden Vladimir Putin yang telah membuka ruang komunikasi yang semakin intens dengan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto.
Kami berharap persahabatan ini tidak berhenti pada pemimpin, tapi harus turun kepada rakyat, mahasiswa, ilmuwan, pengusaha, seniman, generasi muda, masyarakat Papua dan kepada masyarakat Rusia.
Karena persahabatan yang paling kuat bukanlah persahabatan yang hanya ditulis dalam dokumen diplomatik. Persahabatan yang paling kuat adalah persahabatan yang hidup di dalam hati rakyat.
Dari tanah Papua. Dari Fakfak. Dari Semenanjung Bomberai Dari ujung timur Republik Indonesia, kami menyampaikan salam hormat kepada rakyat Rusia.
Semoga Indonesia dan Rusia semakin dekat.
Semoga kedua bangsa semakin kuat.
Semoga ilmu pengetahuan menjadi jembatan. Semoga energi menjadi kekuatan pembangunan. Semoga teknologi menjadi alat kemajuan. Dan semoga persahabatan Indonesia–Rusia menjadi bagian dari perdamaian dunia.
Terima kasih Federasi Rusia. Terima kasih Presiden Vladimir Putin. Terima kasih bangsa Rusia. Salam persahabatan dari tanah Papua.
SPASIBO, ROSSIYANAM!
Indonesia–Russia: From Friendship to Strategic Brotherhood.

