22 May 2022
HomeBeritaDr Connie: Natural Agresifitas Rusia Jika Ukraina Masuk NATO

Dr Connie: Natural Agresifitas Rusia Jika Ukraina Masuk NATO

BANDUNG, SHNet – Analis pertahanan dan militer Universitas Jenderal Ahmad Yani Bandung, Provinsi Jawa Barat, Indonesia, Dr Connie Rahakundini Bakrie, mengatakan, setiap saat moncong senjata pemusnah massa bisa diarahkan ke Moskow, Ibu Kota Negara Federasi Rusia.

“Itu mengandaikan Ukraina disepakati diterima menjadi anggota North Atlantic Treaty Organization atau NATO,” kata Connie Rahakundini Bakrie, Kamis siang, 27 Januari 2022.

Itulah sebabnya, menurut Connie Rahakundini Bakrie, perspektif yang harus dilihat langkah Federasi Rusia mengirimkan pasukan ke sepanjang perbatasan dengan Ukraina, sebagai bentuk protes atas keinginan negara bekas pecahan Union of Soviet Socialist Republic (USSR), itu, menjadi anggota NATO.

Dikatakan Connie Rahakundini Bakrie, harus dipahami dari kacamata Rusia, Ukraine dan beberapa negara ex Pakta Warsawa menjadi ancaman langsung bagi Moskow.

“Karena memungkinkan senjata pemusnah massal tiap saat diarahkan ke Moskow dari berbagai arah,” kata Connie Rakakudini Bakrie.

“Maka, lanjut Connie Rahakundini Bakrie, “Sebagai reaksinya adalah natural bagi Moskow melakukan tindak counter dengan agresif. Karena mereka sistem pertahanannya tidak seperti kita defensif.”

Diungkapkan Connie Rahakundinid Bakrie, yang pastinya dengan Ukraina bergabung ke NATO Moscow merasa kaya mau dikeroyok dari berbagai penjuru.

“Maka soft power-nya, Moskow, sekarang ancam mau hentikan gas ke Uni Eropa yang selama ini menjadi sumber murah energi untuk Uni Eropa di musim dingin. Moskow gunakan itu untuk bargain awal menekan NATO agar tidak menerima member dari nega-negara bekas pecahan USSR dan sekitar-sekitarnya,” kata Connie Rahakundini Bakrie.

Pertemuan Jenewa gagal buahkan hasil

Wilayah USSR sedianya meliputi Baltik, Eropa Timur, kaukasus selatan, dan Asia Tengah seluas 22.402.200 kilometer persegi.

Setelah USSR bubar terhitung 25 Desember 1991,  berubah menjadi Republik Federasi Rusia wilayahnya berkurang menjdi tinggal  17.075.400 kilometer persegi.

Muncul negara baru pecahan USSR, di wilayah Baltik ada Estonia, Latvia dan Lituania, di  Eropa Timur ada Belarus, Maoldova dan Ukraina, di kaukasus selatan ada Armenia, Azerbaijan dan Georgia, di Asia Tengah ada Kazakhstan, Tajikistan, Turmenistan dan Uzbekistan dengan luas wilayah keseluruhan 5.326.800 kilometer persegi.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Anthony Blinken dan Menteri Luar Negeri Federasi Rusia, Sergey Lavrov, menggelar pertemuan di Jenewa, Swiss, Jumat, 21 Januari 2022, tapi gagal mencapai sebuah kesepakatan.

Usai pertemuan, Anthony Blinken berjanji menjawab pernyataan tertulis yang disampaikan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, tapi sekarang tidak jelas, apakah sudah dikirim atau masih dibahas di Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat.

Rusia berkali-kali sudah menegaskan, Ukraina diterima menjadi anggota NATO, itu, berarti, permusuhan terbuka dimulai.

Keprihatinan Paus Fransiskus

Kepala Negara Vatikan, Paus Fransiskus, Rabu, 26 Januari 2022, memimpin hari doa untuk perdamaian di Ukraina, menyerukan dialog untuk menang atas kepentingan partisan untuk menyelesaikan kebuntuan Barat dengan Rusia.

Paus Fransiskus secara khusus mendoakan agar Ukraina tetap dalam semangat persaudaran dan perdamaian, karena ada 5 juta warga di wilayah itu meninggal dunia selama Perang Dunia II, 1941 – 1945.

Doa Paus Fransiskus, berkaitan semakin tajamnya kepentingan politik pragmatis antara Rusia dan Amerika Serikat.

Kantor Berita Nasional Inggris, Reuters, dan Vatian News Agency, Kamis, 27 Januari 2022, melaporkan, Paus Fransiskus Minggu, 23 Januari 2022, meminta orang-orang dari semua agama untuk berdoa pada hari Rabu, 26 Januari 2022, untuk mengakhiri krisis, mengatakan ketegangan mengancam keamanan Eropa dan mempertaruhkan dampak besar.

“Saya meminta Anda untuk berdoa bagi perdamaian di Ukraina dan sering melakukannya sepanjang hari,” kata Paus Fransiskus pada audiensi umum mingguannya, seraya menambahkan bahwa ia berharap “luka, ketakutan, dan perpecahan” dapat diatasi.

Ketika orang-orang berdoa di Ukraina dan di tempat lain, Paus Fransiskus berharap “permohonan yang hari ini naik ke surga menyentuh pikiran dan hati para pemimpin dunia, sehingga dialog dapat berlangsung dan kebaikan bersama ditempatkan di atas kepentingan partisan”.

Tanpa membaca teks yang sudah disiapkan, Paus Fransiskus, mengingatkan bahwa lebih dari lima juta orang tewas di Ukraina selama Perang Dunia Kedua, 1941 – 1945, dan bahwa orang-orang di sana juga menderita kelaparan dan “begitu banyak kekejaman”.

Ini adalah referensi yang jelas untuk perkiraan 3 – 4 juta orang Ukraina yang meninggal pada awal 1930-an ketika diktator Soviet Joseph Stalin memberlakukan kolektivisasi pertanian dan kebijakan lain yang bertujuan menghancurkan nasionalisme Ukraina.

Tragedi yang diakui sejumlah negara sebagai bentuk genosida ini disebut Holodomor dan juga dikenal sebagai Terror-Famine atau Great Famine.

“Mereka adalah orang-orang yang menderita,” kata Paus Fransiskus tentang orang Ukraina.

Pada Rabu malam, 26 Januari 2022, Menteri Luar Negeri Vatikan, Uskup Agung Paul Gallagher, memimpin kebaktian doa untuk perdamaian di Ukraina di sebuah basilika Roma yang dihadiri oleh duta besar Rusia untuk Vatikan serta kuasa usaha kedutaan Ukraina dan Amerika Serikat.

Dalam homilinya, Gallagher mengatakan: “Lebih memalukan lagi bahwa mereka yang paling menderita dari konflik bukanlah mereka yang memutuskan untuk memulainya, tetapi di atas semua itu, para korban yang tidak bersenjata.”

Para pemimpin Barat telah meningkatkan persiapan militer dan membuat rencana untuk melindungi Eropa dari kejutan pasokan energi potensial jika Rusia menginvasi Ukraina.*

Sumber: the times of israel/tass russian news agency/reuters/vatican news agency

 

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU