SHNet, Jakarta-Dua tahun berturut-turut, alumni SMAN 8 Jakarta lintas angkatan dan lintas komunitas berlari estafet dari Jakarta ke Bandung. Dari langkah itu lahir ruang UKS baru bagi almamater, dan tekad untuk kembali dengan tim yang lebih besar pada 2027.
Jalur Jakarta–Bandung sepanjang sekitar 180 kilometer bukan jarak yang ringan untuk ditempuh dengan berlari. Namun, bagi para alumni SMAN 8 Jakarta (Smandel), jarak itu justru menjadi pengikat. Dalam dua edisi ITB Ultra Marathon, yakni pada 2025 dan 2026, mereka menempuhnya bersama-sama.
Hasilnya patut disyukuri. Pada dua kesempatan itu, seluruh pelari dan tim pendukung Smandel tiba di garis finish dalam keadaan sehat wal ‘afiat, tanpa satu pun kecelakaan (zero accident). Lebih dari itu, langkah mereka ikut mengubah wajah ruang Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) di almamater mereka di Bukit Duri, Jakarta Selatan.

Pengalaman Pertama, Langsung Bawa Misi
ITB Ultra Marathon adalah ajang lari estafet tahunan yang digelar alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) sejak 2017. Rutenya membentang dari Jakarta ke Bandung melalui jalur Puncak dan berlangsung selama tiga hari dua malam. Kini, ajang ini terbuka bagi komunitas lari umum dan alumni perguruan tinggi lain.
Pada edisi 26–28 September 2025, Smandel Runners, komunitas lari alumni SMAN 8 Jakarta yang berdiri sejak 2016, untuk pertama kalinya ikut ambil bagian. Mereka menurunkan dua tim, yakni satu tim relay-8 dan satu tim relay-16. Sebanyak 24 pelarinya merupakan lulusan 1977 hingga 2008, dengan rentang usia lebih dari tiga dasawarsa.
Para pelari itu tidak berjalan sendiri. Komunitas Sepeda Alumni Smandel (sadel) menjadi tim pendukung yang mengawal di sepanjang rute. Mereka dibantu Komunitas Alumni Pencinta Alam Smandel (EXPA) dan Dokter Alumni Smandel (DAS), dengan dukungan Ikatan Alumni Smandel (IAS). Dengan sepeda, motor, dan mobil, tim pendukung tersebar di sepanjang rute, dan disetiap titik pergantian pelari untuk memantau pelari, mengurus logistik, dan mendokumentasikan perjalanan. Di sanalah para kakak dan adik kelas itu saling menunggu dan saling menyemangati, siang maupun malam.
Bagi Wiwiek, yang akrab dipanggil dengan Wai, lulusan 1987 yang menjadi kapten tim relay-16, debut itu penuh kesan. “Ini pengalaman pertama kami di ITB Ultra Marathon, jadi semuanya serba baru. Namun, semangatnya luar biasa. Setiap pelari yang selesai langsung berbalik menyemangati pelari berikutnya,” ujarnya.
Rio, lulusan 1998 yang memimpin tim relay-8, merasakan hal serupa. “Dengan delapan pelari, setiap orang menanggung jarak yang lebih panjang. Justru di situ kami belajar saling menjaga. Begitu ada yang tiba di titik estafet, semua bersorak tanpa melihat angkatan,” katanya.
Sejak awal, keikutsertaan ini membawa misi sosial bertajuk “Move for 8: RUNovasi untuk UKS”. Kondisi ruang UKS Smandel saat itu kurang layak: ruangannya lembap akibat bocor yang berulang, sementara peralatan medisnya terbatas. Setiap kilometer yang ditempuh menjadi ajakan bagi alumni untuk berdonasi.
Gerakan seperti ini bukan hal baru bagi Smandel Runners. Pada 2018, program “8 Care for Teachers” melibatkan 314 alumni dari 20 angkatan yang berlari, berjalan, dan bersepeda selama 60 hari. Total jarak yang mereka tempuh mencapai 23.259 kilometer, dengan donasi terkumpul lebih dari Rp670 juta untuk kesehatan para guru.
Tahun Kedua, Persiapan Lebih Matang
Setahun kemudian, Smandel kembali ke garis start. ITB Ultra Marathon 2026, edisi kesembilan, berlangsung pada 16–18 Oktober 2026 dan diikuti 5.216 pelari. Rutenya melintasi Depok, Bogor, Puncak, Cianjur, Padalarang, dan Cimahi, lalu berakhir di Kampus ITB Ganesha, Bandung.
Kali ini Smandel Runners memusatkan kekuatan pada satu tim relay-16. Keenam belas pelarinya merupakan lulusan 1985 hingga 2008, dipimpin Kapten Wai, lulusan 1987. Salah satu pelarinya adalah penyanyi seriosa Aning Katamsi, juga lulusan 1987.
Persiapan dilakukan jauh hari. Urutan pelari diumumkan beberapa pekan sebelum lomba, disusul rapat bersama pelari dan tim pendukung. Pelari dibekali rompi dan tali pengaman reflektor, sedangkan pesepeda pengawal membawa helm, jas hujan, dan perlengkapan P3K. Beberapa pelari bahkan sempat menjajal kaki di UI Half Marathon, lima hari sebelum keberangkatan.
Jum’at malam, 16 Oktober 2026, pelari pertama, Christophorus Deberland (lulusan 2008), melepas langkah dari Gedung Kemendiktisaintek, Senayan, Jakarta Pusat. Estafet lalu berpindah dari satu pos ke pos berikutnya: Cilandak, Depok, Cibinong, Bogor, Tajur, dan Cisarua, kemudian melewati Istana Cipanas hingga Cianjur.
Sepanjang jalan, pelari tidak pernah sendirian. Pesepeda dari sadel dan pengendara motor dari EXPA mengawal di sisi mereka, sementara ambulans, dokter, dan perawat dari RS Jantung Jakarta sebagai kontribusi dari DAS, bersiaga hingga garis finish.
Raditya, lulusan 1985 yang mengoordinasikan Tim Pendukung pada 2025 dan 2026, menyebut tugas timnya sederhana, tapi tetap mengutamakan keselamatan para pelari maupun pengawal. “Kami ingin memastikan tidak ada satu pun pelari yang berlari sendirian. Siang atau malam, hujan atau terik, selalu ada pengawal pesepeda, pemotor, atau ambulans di dekat mereka. Dua tahun berturut-turut semua anggota Tim Pendukung pulang sehat tanpa kecelakaan (zero accident), dan itu hadiah terbesar bagi Tim Pendukung,” tuturnya.
Cerita kecil mewarnai perjalanan. Terik siang di kawasan Cipanas membuat panitia berulang kali mengingatkan pelari agar menjaga hidrasi. Di ruas Cianjur, pelari dan pengawalnya berbagi jalan dengan truk-truk kargo besar dan melintasi lapak durian yang sedang musim panen. Selepas menuntaskan segmennya, Aning merayakannya dengan sepiring kwetiau dan segelas bandrek.
“Di jalan, kami tidak lagi bertanya siapa angkatan berapa. Yang ada hanya satu tim yang saling menunggu di titik estafet dan saling memastikan semua pulang dengan selamat, karena target utama dari tim Alumni Smandel ini adalah semuanya, baik semua pelari maupun semua tim pendukung, finish dalam keadaan sehat wal ‘afiat dan mencapai zero accident,” kata Binsar, Koordinator Tim Alumni Smandel di ITB Ultra Marathon 2025 dan 2026.
Tim relay-16 Smandel akhirnya menuntaskan perjalanan dalam waktu 27 jam 50 menit 23 detik. Untuk kedua kalinya, seluruh pelari dan tim pendukung Smandel finish dalam keadaan sehat wal ‘afiat dengan catatan zero accident.
Wai, yang kembali dipercaya menjadi kapten, merasakan perbedaan besar dibandingkan tahun pertama. “Tahun ini setiap pelari sudah paham segmennya dan tahu kapan harus bersiap. Kami lebih tenang dan lebih rapi, tetapi kehangatannya tetap sama. Yang paling membahagiakan, keenam belas pelari pulang dengan selamat,” katanya.
Di tengah rasa syukur itu, keluarga besar Smandel turut berduka atas wafatnya Dody Muhammad Pasha, mahasiswa ITB dari komunitas Tambang Berlari dan peserta kategori relay-16, yang mengalami gangguan
kesehatan saat berlari di Cianjur pada 17 Oktober 2026. Ucapan belasungkawa itu disampaikan Smandel Runners saat lomba masih berlangsung. Peristiwa ini menjadi pengingat bagi semua pelari untuk mengenali batas tubuh dan segera melapor kepada petugas bila merasa tidak sehat.
Dari Langkah Kaki ke Ruang UKS
Manfaat ikut ITB Ultra Marathon terasa jauh sebelum hari perlombaan. Target berlari bersama mendorong banyak alumni kembali rutin berlatih dan menjaga pola hidup sehat. Menjelang lomba, para pelari saling mengingatkan untuk tidur cukup, menghindari kelelahan, dan menjaga diri dari flu yang sedang marak.
Manfaat itu juga dirasakan almamater. Donasi hasil gerakan RUNovasi diserahkan kepada Ketua Komite Sekolah SMAN 8 Jakarta, Farchad Husen Mahfud, pada Rabu, 14 Januari 2026, disaksikan Kepala SMAN 8 Jakarta, Ubaidillah.
Renovasi kemudian dikawal Komite Sekolah bersama sejumlah alumni, mulai dari perencanaan dan pelaksanaan hingga peresmian. Para dokter alumni menyusun daftar alat medis yang dibutuhkan, sedangkan arsitek alumni merancang tata letak ruangannya. Ruang UKS yang baru diresmikan dan diserahterimakan kepada sekolah pada Sabtu, 9 Mei 2026.
Kini, pertolongan pertama bagi siswa, guru, dan staf Smandel dapat diberikan sesuai standar pelayanan kesehatan. Ruang kecil itu menjadi bukti bahwa kebersamaan lintas angkatan, lintas komunitas, dan lintas profesi dapat menghasilkan sesuatu yang nyata.

Menuju 2027, Lebih Banyak Tim
Dua kali finish tidak membuat para alumni berhenti. Tim Smandel berencana kembali ke ITB Ultra Marathon 2027 dengan jumlah tim yang lebih banyak. Kekuatannya tetap sama: kolaborasi alumni lintas angkatan, lintas komunitas, dan lintas profesi.
Pintu terbuka lebar bagi alumni yang ingin bergabung. Tidak semua harus menjadi pelari cepat, karena yang diutamakan adalah keselamatan, kesehatan, dan kebahagiaan. Smandel Runners juga kerap mengadakan lari pagi bersama sejauh lima kilometer dengan langkah santai, tempat yang pas untuk memulai. Ada tempat bagi pelari pemula, pesepeda yang mengawal di jalan, tenaga medis, relawan logistik, hingga para donatur. Semua peran sama pentingnya agar setiap pelari tiba di garis finish dengan selamat.
Pengalaman dua tahun ini meninggalkan sejumlah pesan. Berlari tidak harus cepat, yang penting bersama dan selamat. Jaga kesehatan dengan berlatih secara bertahap dan kenali batas tubuh. Lalu, jadikan setiap langkah sebagai jalan untuk berbagi.
Semboyan mereka sederhana: dari pelari untuk kebaikan di setiap langkah. Seperti yang telah dibuktikan para alumni Smandel, berlari ternyata tidak hanya menjaga kesehatan diri, tetapi juga bisa ikut menyehatkan almamater. (sur)

