Oleh: Laksda TNI Dr. Ivan Yulivan. S.E., M.M., M.Tr. (Han), M.Tr. (Opsla)
INDONESIA sejak masih dikenal dengan nama Nusantara telah terkenal ke seantero dunia akan adanya beberapa pusat Pendidikan antara lain. Pada masa Kerajaan Sriwijaya (abad 7 hingga 13 Masehi).
Bahkan para Biksu Budha Tiongkok mengharuskan untuk mendalami Bahasa Sanksekerta sebagai Cantrik (Siswa Asrama), di masa itu sebelum memperdalam Ilmunya di India.
Beberapa Guru terkenal seperti Dharmapala dan Dharma Kitri yang diceritakan Sang Guru I Tsing pada masa itu telah diajarkan selain materi ajar juga perilaku dengan segala kedisiplinan dan kesederhanaannya.
Sriwijaya menjadi pusat rujukan pengetahuan Budha kala itu ke berbagai belahan di dunia. Pun demikian dimasa Kesultanan Samudera Pasai (kini wilayah Aceh) khususnya pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Malik Azz Zahir, pada Abad 13 hingga 16 terkenal akan adanya Pusat Pengetahuan Islam.
Bahkan Ibnu Batutah Sang penjelajah mengatakan Kesultanan ini menjadi pusat studi Islam tertua dan paling terkemuka di Nusantara yang berdiplomasi dengan berbagai kerajaan khususnya islam seperti Dinasti Ottoman di Turki dan negara Persia juga Mesir.
Pada masa itu kesultanan ini sudah memiliki lembaga pendidikan seperti Holaqoh dan majelis Ta’ lim baik di mesjid ataupun semacam Dayah yang kemudian menjadi cikal bakal pesantren dengan kurikulum yang telah tertata sedemikian rupa.
Dimasa awal kemerdekaan Indonesiapun banyak memiliki nama-nama yang kemudian dikenal sebagai bapak dan ibu pendidikan ntara lain Ki Hajar Dewantara (1889 sd 1959), yang kemudian memperkenalkan pola pendidikan yang kemudian dikenal pula menjadi 10 azas kepemimpinan.
RA Kartini (1879 sd 1904) penulis dan inspirasi kebangkitan perempuan, Dewi Sartika 1884 sd 1947) yang membuat sekolah keutamaan istri untuk keterampilan bagi perempuan. KH Ahmad Dahlan (1868 sd 1923) yang mendirikan Sekolah Muhammadiyah yang kini sudah berjumlah sekitar 6.500 an di seluruh tanah air, mulai sekolah dasar hingga perguruan tinggi dan berbagai jenis pelatihan. *Kyai Hasyim Ashari (1871 sd 194). Pendiri Pondok Tebu Ireng yang santrinya kini telah tersebar keseluruh dunia. Dr Wahidin Sudiro Husodo (1852 sd 1917 ), dll.
Meski memiliki ke khasan masing-masing dalam pelaksanaan pendidikannya, namun mereka sama-sama menanamkan akan arti penting sebuah pendidikan yaitu menerapkan nilai dan Metode kebenaran ,kejujuran dan keadilan dalam pelaksanaan.
Maka tak heran bila kemudian dari pengajarannya menghasilkan orang orang hebat seperti Sukarno dan Moh. Hatta, keduanya tokoh Proklamator, Ahmad Soebardjo dan Sayuti Malik pembuat naskah proklamasi, Prof Dr. Soetomo dan Mohammad Yamin perancang UUD 1945 dan pelopor Sumpah Pemuda, Sutan Syahrir Perdana Menteri RI Pertama, Albertus Sugiya Pranata uskup agung dan pahlawan nasional Panglima Sudirman, dll.
Kehandalan dan Kehebatan mereka tidak lepas dari Ketauladanan para guru-guru pengajar mereka, meski dalam keterbatasan sarana dan prasarana serta bahan ajar namun mereka memiliki dan memegang teguh nilai nilai kebangsaan, cinta tanah air, semangat pantang menyerah dan rela berkorban serta keteguhan belajar sehingga menghasilkan generasi terbaik pada masa masa Negeri ini mulai berdiri.
Adakah Nilai Pendidikan itu Masih Tertanam?
Para filsuf Yunani kuno seperti Plutarch mengatakan mata air dan akar kejujuran serta kebajikan terletak pada pendidikan yang baik. Plato mengatakan arah pendidikan yang baik dari seseorang dan bangsa akan menentukan kehidupan masa depannya.
Maka untuk menjawab pertanyaan di atas sudah sepatutnyalah bukan hanya persoalan 10 Komponen Pendidikan atau Tri Dharma Perguruan Tinggi yang disiapkan dengan perencanaan yang matang, namun yang terlebih penting dan utama adalah kebenaran dan kesesuaian dalam proses pelaksanaan akan komitmen dan konsistensi pendidikan itu sendiri.
Contoh paling sederhana adalah mulai dari proses rekruetmen calon siswa dan juga dosen atau pengajar, pelatih dan pengasuh, khususnya bagi sekolah sekolah kedinasan haruslah diselenggarakan dengan baik dan benar sesuai ketentuan yang berlaku. Hal ini penting karena kita akan berinvestasi 30 tahun ke depan sebagai sumber daya yang dipersiapkan untuk mengawaki organisasi dan kelembagaan sesuai kebutuhan.
Guru yang hebat mutlak dibutuhkan dan disediakan. karena murid-murid yang hebat akan terlahir dari tangan tangan dingin para guru, pengajar, pelatih dan pengasuh yang hebat pula.
Di negara-negara maju sangat ditekankan istilah No Cheating tidak ada excuse bagi kebohongan dalam menjalankan fungsi pendidikan. Karena kebohongan akan selalu ditutupi dengan kebohongan selanjutnya yang menghancurkan nilai-nilai itu sendiri.
Bersyukur kini telah teratensi untuk penunjang pendidikan ini melalui Sekolah Rakyat, Boarding School sekolah sekolah unggulan, dll.
Namun yang terpenting juga adalah jangan sampai para penyelenggara pendidikan ini fokus dan disibukkan oleh persoalan persoalan administratif semata yang harus terpenuhi seperti Akreditasi, BAN PT, BKD , IKU, Serdos, dll.
Para stake holder terkait pendidikan seyogyanya dapat mencari solusi terbaik dalam memperpendek birokrasi yang terlalu panjang bagi para civitas akademika dan bagi mereka yang akan menaikkan jenjang jabatan akademis, utamanya di kampus-kampus atau sekolah sekolah.
Berbagai persoalan seperti status tenaga kependidikan atau para staf pendukung disamping para dosen, guru dan pengajar dll, harus segera terselesaikan sehingga tidak berlarut larut.
Maka para pengajar akan betul-betul konsen dan turut menjaga marwah nilai-nilai yang dikemukakan dimuka.
Pelatihan peningkatan kapasitas bukan hanya soal retorika dan kehadiran semata tapi harus menjadi kebutuhan absolut untuk dapat menyelesaikan berbagai persoalan yang ada.
Sehebat apapun teknologi dan jaman berkembang, apalagi di era Post Truth dan AI sekarang, maka nilai-nilai pendidikan ini harus terjaga dan terawat keberadaannya, sehingga pendidikan ini akan menjadi tempat meraih kemuliaan dan sarana Agung dalam berfikir dan menuangkan ilmu pengetahuan dengan tidak mengurangi unsur martabat kemanusiaan.
Gelar dan peralihan prestasi akademik diimbangi dengan etika dan moral serta tanggung jawab pengabdian.
Semoga negeri yang kita cintai Indonesia ini akan abadi dan jaya selalu.Besar harapan kembali Indonesia akan memiliki tempat-tempat pendidikan terbaik di muka bumi yang akan menjadi rujukan diseantero dunia. Amin.
Penulis, Laksda TNI Dr. Ivan Yulivan. S.E., M.M., M.Tr. (Han), M.Tr. (Opsla), Dosen tetap Unhan, Dosen tetap Unhan. Komandan Detasemen Markas Mabes TNI 2013- 2015. Komandan Resimen Taruna AAL 2015- 2017. Kepala Dinas Pendidikan TNI AL 2018 – 2020 Gubernur STIN 2020- 2022.

