1 December 2021
HomeBeritaGunung Tunak Alternatif Wisata di Mandalika Lombok

Gunung Tunak Alternatif Wisata di Mandalika Lombok

SHNet, Jakarta – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Nusa Tenggara Barat menyatakan, Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Tunak, Lombok Tengah diharapkan bisa Go Internasional dan bisa menjadi alternatif wisata pada ajang Wolrd Superbike di Sirkuit Mandalika.

“TWA Gunung Tunak ini merupakan penyangga destinasi wisata Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, sehingga harus berbenah untuk Go Internasional,” kata Kepala BKSDA NTB Joko Iswanto saat kegiatan the 13th Southeast Asian Biosphere Reserve Network (SeaBRnet) tahun 2021 di Praya, Lombok Tengah, Rabu.

Dikatakan, kawasan TWA Gunung Tunak paling aman dikunjungi, karena dikelola langsung oleh masyarakat setempat. Izin yang telah diberikan untuk kawasan ini adalah jasa kuliner dan lainnya yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.

“Kawasan ini paling aman, karena dijaga masyarakat langsung,” katanya.

Ia mengatakan, bahwa TAW Gunung Tunak ini akan menjadi daya tarik wisatawan, semoga pandemi COVID-19 ini cepat tuntas dan wisatawan banyak yang datang ke NTB.

“Apa yang diharapkan dengan penataan Gunung Tunak ini akan bisa terwujud untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat,” katanya.

Oleh sebab itu, pihaknya terus berbenah dalam melakukan penataan di dalam kawasan serta beberapa fasilitas penunjang lainnya. Namun, TWA Gunung Tunak ini bisa berkembang tentunya harus ada dukungan dari semua pihak, baik pemerintah daerah maupun masyarakat.

“Kita akan terus benahi semua sarana dan prasarana yang ada untuk menunjang ajang World Superbike dan MotoGP di Sirkuit Pertamina Mandalika Lombok Tengah,” katanya.

Untuk diketahui, pengembangan ekowisata TWA Gunung Tunak sendiri merupakan proyek kerjasama bilateral antara Pemerintah Republik Korea dan Republik Indonesia di bidang pengembangan ekowisata yang difasilitasi oleh Korea-Indonesia Forest Cooperation Center (KIFC).

Pemerintah Korea melalui KIFC memberikan dukungan dalam pembangunan sarana dan prasarana ekowisata seperti guest houses, visitor center, restaurant, multipurpose building, dan butterfly learning center, serta dukungan dalam peningkatan SDM lokal melalui capacity building dan comparative study ekowisata ke Korea.

TWA Tunak menjadi model nasional dalam pengembangan ekowisata berbasis masyarakat yang ada di Indonesia.

Desa Pintar

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Pemprov Sulteng) mulai menerapkan konsep desa pintar (smart village)  yang salah satu tujuannya untuk mempercepat dan mengoptimalkan pembangunan desa.

“Saya sangat bersyukur dan bangga karena konsep ‘smart village’ dapat kita terapkan untuk mempercepat pembangunan desa,” kata Gubernur Sulteng Rusdy Mastura, di Palu, Jumat.

Pemprov Sulteng telah melakukan peluncuran program smart village di Desa Pakuli, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi, yang diluncurkan oleh Gubernur Rusdy Mastura bersama pejabat dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi .

Gubernur Rusdy menargetkan melalui program itu sebanyak 1.000 desa di Sulteng akan dilengkapi sarana dan infrastruktur teknologi informasi.

“Saya berpikir 10 tahun ke depan masyarakat Sulawesi Tengah sudah memiliki kemampuan dan maju untuk memanfaatkan teknologi informasi untuk meningkatkan kesejahteraannya,” ujarnya.

Menurut Gubernur Rusdy, dengan ketersediaan sarana teknologi informasi di desa, maka masyarakat desa yang umumnya merupakan petani, nelayan dapat mengakses informasi mengenai bagaimana budidaya pertanian dan perkebunan, peternakan, perikanan yang baik, dan menghasilkan produksi yang melimpah dengan kualitas tinggi. (Victor)

 

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU