30 November 2021
HomeBeritaIni Akar Masalah Pemicu Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak

Ini Akar Masalah Pemicu Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak

Jakarta- Ketidakberdayaan perempuan secara ekonomi menjadi salah satu akar masalah terjadinya kekerasan terhadap perempuan dan anak, serta masalah lainnya seperti perdagangan orang, perkawinan anak, dan pekerja anak.

Oleh karena itu, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) bersinergi dengan mitra terkait dalam hal ini PT Permodalan Nasional Madani atau PT PNM (Persero), melalui program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar) melaksanakan peningkatan kapasitas kepada SDM pendamping PNM Mekaar melalui sosialisasi dan training of trainers (TOT) terkait isu pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.

“Presiden memberikan 5 (lima) arahan kepada Kemen PPPA, dimana salah satunya yaitu meningkatkan pemberdayaan ekonomi perempuan melalui kewirausahaan berperspektif gender. Untuk mendorong upaya tersebut, khususnya dalam meningkatkan perekonomian perempuan prasejahtera, Kemen PPPA bersinergi dengan PNM Mekaar telah melakukan nota kesepahaman untuk meningkatkan efektivitas, koordinasi, serta kerjasama dalam memberdayakan dan menyediakan akses permodalan bagi perempuan wirausaha,” ungkap Deputi Bidang Kesetaraan Gender Kemen PPPA, Lenny N. Rosalin dalam acara sosialisasi dan training of trainers (TOT) kepada SDM pendamping pemberdayaan ekonomi PNM, Jumat (19/11/2021).

Lenny menjelaskan, hal tersebut bertujuan agar para perempuan wirausaha dapat meningkatkan perekonomiannya dan turut menekan kasus kekerasan dan persoalan lainnya, mengingat peningkatan ekonomi perempuan merupakan entry point untuk menangani berbagai masalah lainnya.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada PT PNM yang terus menerus membantu Kemen PPPA dalam upaya memberdayakan perempuan terutama perempuan dari keluarga prasejahtera,” tutur Lenny.

Saat ini, ada lebih dari 10 juta nasabah PNM Mekaar yang sebagian besar merupakan perempuan pra sejahtera dan lebih dari 45 ribu account officer (AO) yang mendampingi para nasabah tersebut untuk meningkatkan produktivitas mereka dalam mendorong perekonomiannya.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap para peserta dapat memahami berbagai hal di bidang ekonomi, isu gender, isu pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak secara umum, serta semakin sensitif dengan isu-isu yang erat dengan kehidupan sehari-hari, sehingga dapat diterapkan saat beraktivitas ekonomi dalam kesehariannya,” jelas Lenny.

Adapun mekanisme peningkatan kapasitas ini akan diberikan melalui sosialisasi hingga TOT kepada Kepala Regional Mekaar (KRM), Kepala Area Mekaar (KAM). Selanjutnya, secara bertahap dan berjenjang para KRM dan KAM tersebut akan menyosialisasikan materi kepada 45 ribu AO, untuk kemudian diteruskan para AO kepada lebih dari 10 juta nasabah PNM Mekaar melalui pertemuan mingguan.

“Hal ini sangatlah penting, mengingat setengah dari total jumlah penduduk Indonesia merupakan perempuan, dan 54 persennya merupakan usia produktif. Para perempuan ini, adalah potensi besar di bidang ekonomi dan sebagian besar dari keluarga prasejahtera, jika mereka berhasil secara ekonomi maka akan berdampak pada berkualitasnya anak sebagai generasi masa depan bangsa. Apabila proses ini dapat dilakukan bersama-sama secara berjenjang maka akan menghasilkan multiplayer impact. Untuk itu, kami sangat mengapresiasi upaya sinergi yang telah dilakukan PNM Mekaar,” tegas Lenny.

Lenny mengungkapkan dari ketiga data indeks yang mengukur capaian pembangunan bangsa yaitu Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Indeks Pembangunan Gender (IPG), dan Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) menunjukan masih adanya gap (kesenjangan) gender, terutama di bidang ekonomi. Salah satunya, terlihat dari hasil IPG selama 11 tahun yang hanya mengalami kenaikan sebesar 0,6 poin.

“Angka tersebut memang meningkat setiap tahunnya, namun masih terdapat kesenjangan gender baik di bidang kesehatan, pendidikan, maupun ekonomi. Sebagian besar kesenjangan terjadi di sektor ekonomi, seperti pada tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) perempuan dan laki-laki yang mengalami kesenjangan hingga sekitar 30 persen. Ini adalah tantangan besar yang membutuhkan upaya khusus dalam menanganinya dan harus kita kejar bersama,” terang Lenny.

Lenny menambahkan pentingnya meningkatkan peran perempuan terutama di bidang ekonomi untuk memperbaiki ketiga indeks tersebut. “Disinilah pentingnya peran AO dalam menyampaikan pemahamannya kepada para nasabah PNM Mekaar yang sebagian besar adalah perempuan, untuk bersama memperbaiki angka tersebut. Selain itu, mendukung Pemerintah dalam mencapai target untuk meningkatkan IPM, IPG, IDG, TPAK perempuan dan menurunkan angka kematian ibu, angka kematian bayi, dan stunting,” pungkas Lenny.

Sementara itu, Direktur Kelembagaan dan Perencanaan PT PNM (Persero),  Sunar Basuki mengungkapkan PT PNM terus berupaya meningkatkan kesejahteraan perempuan melalui program Mekaar yang diluncurkan sejak 2016, dengan memberikan akses permodalan dan pemberdayaan bagi perempuan pra sejahtera berbasis kelompok. “Hingga saat ini kami sudah melakukan pendampingan usaha kepada 10,8 juta nasabah di seluruh Indonesia dan sekitar 50 ribu AO pendamping di lapangan baik secara online maupun offline,” tambah Sunar.

Sunar menyampaikan melalui pelaksanaan TOT ini, para peserta diharapkan mampu memiliki beberapa pemahaman seperti sensitivitas gender, pemahaman terkait kesetaraan gender, isu pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak (PPPA) secara umum di berbagai sektor, serta memahami strategi sosialisasi terkait isu PPPA kepada pendamping di lapangan secara berjenjang dengan bahasa yang mudah dimengerti.

“Kami tidak bisa menjalankan upaya ini sendiri, untuk itu kami menyampaikan terima kasih kepada Kemen PPPA yang telah mendukung program PNM, sehingga upaya PNM dalam memberdayakan perempuan pra sejahtera dapat berjalan dengan baik,” tutup Sunar.

Pada kegiatan TOT ini, para peserta diberikan materi pelatihan terkait pentingnya peran PNM baik melalui KR, AO, maupun nasabah dalam mendorong pencegahan dan perlindungan anak dari kekerasan, serta pemenuhan hak anak dengan melibatkan anak, keluarga dan masyarakat luas.

Hal ini sangat penting dilakukan, mengingat kasus kekerasan terhadap anak mengalami peningkatan khususnya selama pandemi Covid-19, hingga mencapai 11.181 kasus pada 2020, dibandingkan jumlah pada 2019 yaitu 10.779 kasus (Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak, 2019-2020).

Para peserta yang terdiri dari 70 Kepala Regional Mekaar (KRM) dan 570 Kepala Area Mekaar (KAM) di seluruh Indonesia, juga diharapkan dapat mendorong keluarga dan masyarakat, khususnya para orangtua untuk melakukan pengawasan literasi digital secara bijak pada anak, sehingga anak dapat mengakses internet dengan positif, dan terlindungi dari pornografi dan kejahatan di dunia digital.

Selain itu, peserta diharapkan dapat mendukung tersedianya sistem pelaporan dan layanan pengaduan bagi korban kekerasan yang terintegrasi dan komprehensif, yaitu dengan melaporkan jika ada nasabah yang mengalami atau melihat adanya kekerasan baik terhadap perempuan dan anak.(sp)

ARTIKEL TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU