SHNet, Jakarta-Hari Anak Nasional selalu datang dengan suasana yang sama. Timeline media sosial penuh dengan foto anak-anak tersenyum, ucapan manis tentang masa depan bangsa, dan berbagai harapan agar generasi Indonesia tumbuh sehat, cerdas, dan berdaya saing global.
Di salah satu rumah di Batujajar, Kab. Bandung Barat, Ani Maryani duduk memangku sang buah hati yang baru berusia 2 tahun. Dengan lugas ia bercerita, belum genap 1 tahun sang anak sudah diberi tambahan susu selain ASI, kalau bukan kental manis ya susu kotak. Alasannya sederhana, kalau bukan kental manis atau UHT berperisa, rasanya hambar.
“Kalau nggak ada rasa anak saya nggak suka. Sehari-hari minumnya kental manis atau makan es krim,” ujar ibu muda ini.
Hampir satu dekade publik telah diberi tahu bahwa kental manis bukan susu untuk pertumbuhan anak, tetapi masih banyak yang menganggapnya demikian. Tidak sedikit pula yang menjadikannya campuran MPASI. Artinya, anak sudah terpapar gula berlebih sejak usia sangat dini. Padahal, pada label produk kental manis jelas tertulis ‘bukan untuk anak di bawah 12 bulan’.
Survei terbaru Universitas Islam Bandung (Unisba) menunjukkan masih ada balita yang mengonsumsi kental manis sebagai minuman atau pengganti susu pertumbuhan. Bahkan sebagian besar anak yang terpapar kental manis mulai mengonsumsinya sejak usia 1 sampai 3 tahun, masa yang sering disebut sebagai periode emas pertumbuhan.
Persoalan terbesar kental manis bukan terletak pada namanya, melainkan pada persepsi yang terlanjur melekat. Banyak orang masih melihatnya sebagai susu, padahal kandungan terbesar produk ini adalah gula.
Masalah muncul ketika gula yang menyamar jadi susu ini dipercaya mampu memenuhi kebutuhan gizi harian anak. Ibarat meminta pemain figuran menggantikan peran utama, ekspektasinya terlalu tinggi. Rasanya manis, warnanya putih, kemasannya penuh nuansa persusuan, tetapi kandungan gizinya tidak dirancang untuk menjadi sumber nutrisi utama bagi tumbuh kembang anak.
Inilah yang mengakibatkan ironi. Banyak orang tua memilih kental manis bukan karena tidak sayang anak. Justru sebaliknya. Mereka ingin memberikan yang terbaik dengan kondisi yang mereka miliki. Ada yang memilih karena harganya lebih terjangkau. Ada yang memilih karena mudah ditemukan di warung dekat rumah. Ada juga yang sejak kecil melihat kental manis disajikan sebagai minuman sehingga menganggap praktik tersebut sebagai hal yang normal.
Kita sering lupa bahwa pengetahuan gizi tidak datang begitu saja. Tidak semua orang tua punya akses terhadap informasi yang sama. Tidak semua keluarga rutin membaca regulasi BPOM sebelum belanja kebutuhan dapur.
Momentum Hari Anak Nasional menjadi pengingat bahwa pemenuhan gizi anak masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya selesai. Di tengah berbagai upaya pemerintah menurunkan angka stunting dan memperbaiki kualitas sumber daya manusia, masih banyak orang tua yang belum memperoleh informasi yang tepat mengenai kebutuhan gizi anak, termasuk dalam memilih produk yang dikonsumsi sehari-hari.
Persoalan ini sering kali luput dari perhatian karena tidak selalu terlihat secara kasat mata. Salah satunya adalah masih adanya praktik pemberian kental manis sebagai minuman atau pengganti susu pertumbuhan bagi anak.
Karena itu, Hari Anak Nasional seharusnya tidak hanya menjadi ajang merayakan tumbuh kembang anak, tetapi juga momentum untuk memperkuat literasi gizi keluarga. Edukasi yang tepat mengenai kebutuhan nutrisi anak menjadi kunci agar orang tua dapat mengambil keputusan yang lebih baik dalam memenuhi asupan gizi putra-putrinya.
Peningkatan akses terhadap informasi yang benar menjadi penting mengingat kualitas gizi anak hari ini akan berpengaruh pada kesehatan, kemampuan belajar, dan produktivitas mereka di masa depan. Dengan demikian, memastikan setiap keluarga memahami pilihan pangan dan minuman yang tepat bagi anak merupakan bagian dari investasi jangka panjang untuk mewujudkan generasi Indonesia yang sehat dan berkualitas.
Dalam peringatan Hari Anak Nasional, Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronica Tan mengajak semua pihak memastikan setiap anak Indonesia memiliki ruang yang aman dan nyaman untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. Menurutnya, pembangunan sumber daya manusia harus dimulai sejak usia dini melalui kolaborasi pemerintah, masyarakat, dunia pendidikan, dan berbagai pemangku kepentingan.
“Mari kita pesta buat anak-anak sekali ini dan memberikan ruang yang aman dan nyaman kepada anak-anak kita. Kita ingin ada ruang aman dan nyaman yang benar-benar bisa dilihat dan dirasakan anak-anak,” ujar Veronica Tan.
Tenaga Ahli Utama Deputi III Kantor Staf Presiden (KSP) Lindsey Afsari Puteri tidak menampik soal kental manis yang masih menjadi isu gizi nasional. Lindsey menyebut pemenuhan gizi menjadi salah satu aspirasi yang disampaikan kepada pemerintah dan akan terus dikawal agar menjadi bagian dari proses perencanaan pembangunan sehingga kebutuhan anak dapat lebih terakomodasi dalam kebijakan.
“Kemarin kami mengundang Forum Anak Nasional dan mereka menyampaikan 12 pokok aspirasi, antara lain tentang akses pendidikan, pemenuhan gizi, bagaimana makanan-makanan yang bisa membuat tumbuh kembang mereka semakin baik. Suara anak itu akan kami kawal supaya masuk dalam perencanaan pembangunan,” ujar Lindsey.

