7 November 2026
HomeBeritaLuky Agung Yusgiantoro, Kelarasan Ilmu, Iman, dan Integritas

Luky Agung Yusgiantoro, Kelarasan Ilmu, Iman, dan Integritas

JAKARTA-Di tengah kehidupan yang semakin kompleks, keberhasilan seseorang tidak semestinya hanya diukur dari pencapaian akademis, posisi profesional, ataupun jabatan yang pernah diemban. Ada aspek lain yang tidak kalah penting, yakni sejauh mana ilmu yang dimiliki dapat diterjemahkan menjadi karya, sejauh mana iman menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan, dan sejauh mana integritas tetap terjaga ketika seseorang dipercaya memegang tanggung jawab. Luky Agung Yusgiantoro, B.Sc., M.Sc., Ph.D., atau yang lebih dikenal sebagai Luky Yusgiantoro, merupakan figur yang perjalanan hidup dan pengabdiannya bisa menjadi inspirasi keselarasan ketiga aspek itu.

Jalan Pengabdian, Menggali Ilmu Menghadirkan Manfaat

Lahir di Jakarta pada 12 Mei 1973, Luky tumbuh dalam lingkungan keluarga yang dekat dengan dunia pengabdian publik. Ayahnya, Prof. Dr. Purnomo Yusgiantoro, dikenal sebagai tokoh nasional yang pernah menjabat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral serta Menteri Pertahanan Republik Indonesia. Namun, Luky membangun perjalanan profesionalnya melalui jalur pendidikan, pengalaman, dan kompetensi yang ditempuhnya sendiri. Ia memperlihatkan bahwa warisan keluarga dapat menjadi inspirasi, tetapi pengabdian harus dibuktikan melalui kapasitas dan karya pribadi.

Perjalanan akademis Luky membawanya menempuh pendidikan tinggi di Amerika Serikat dan Prancis. Ia menyelesaikan Bachelor of Science in Engineering Science dengan fokus lingkungan dan minor ekonomi di Colorado State University pada 1994. Selanjutnya, ia melanjutkan studi di Colorado School of Mines, Amerika Serikat, dan meraih dua gelar Master of Science serta gelar doktor (Ph.D.) dalam bidang Mineral and Energy Economics pada 2010. Ia juga memperoleh Diplôme de Mastère Spécialisé dari École Nationale Supérieure du Pétrole et des Moteurs (ENSPM), Prancis.

Latar belakang pendidikan tersebut membekalinya dengan perspektif multidisipliner dalam memahami persoalan energi, mulai dari aspek teknologi, ekonomi, lingkungan, hingga kebijakan strategis. Namun, ilmu pengetahuan tentunya tidak berhenti sebagai kumpulan gelar atau pengetahuan akademis. Nilai sesungguhnya dari ilmu adalah ketika ia dapat digunakan untuk menjawab persoalan nyata dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Prinsip itu tercermin dalam perjalanan profesional Luky. Ia memulai kariernya di PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. pada 2000. Selama sekitar satu dekade, ia menempati berbagai posisi profesional sebelum melanjutkan pengabdiannya di Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas).

Di SKK Migas, Luky pernah dipercaya menjalankan sejumlah tanggung jawab strategis, termasuk sebagai Tenaga Ahli Bidang Lingkungan hingga Sekretaris SKK Migas. Ia berengalaman menjumpai berbagai tantangan pengelolaan sektor energi nasional, yang tidak hanya berkaitan dengan kepentingan industri dan ekonomi, tetapi juga menyangkut ketahanan energi, keberlanjutan lingkungan, serta kepentingan jangka panjang Indonesia.

Menurutnya, dalam sektor yang sarat dengan kepentingan ekonomi dan strategis, ilmu dan tanggung jawab moral sama-sama penting. Kalau membuat keputusan tidak cukup dengan pertimbangan teknis dan efisiensi, tetapi juga perlu mempertimbangkan kepentingan publik, keberlanjutan, dan nilai-nilai yang kita pegang.

Iman Dalam Pengabdian

Selain berkiprah di SKK Migas , Luky Yusgiantoro juga mendedikasikan ilmunya di dunia pendidikan. Tercatat ia adalah dosen di Universitas Pertahanan, UPN yogyakarta dan UGM. Ia juga turut mengelola aktivitas pendidikan dan pembelajaran di Purnomo Yusgiantoro Center, antara lain bekerja sama dengan ITB untuk memperkuat Ketahanan Energi.

Hebatnya lagi, Luky juga memberikan perhatian pada organisasi kemasyarakatan. Sejak 2017 ia aktif dalam kepengurusan Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA), sebuah organisasi yang menjadi wadah bagi kaum intelektual Katolik untuk berkontribusi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Luky pernah menjalankan tugas sebagai Presidium Bidang Ekonomi ISKA selama periode 2017–2022. Selanjutnya, ia dipercaya menjadi Ketua Umum Presidium Pusat ISKA untuk periode 2022–2026.

Kepercayaan terhadap kepemimpinannya kembali berlanjut. Pada Musyawarah Nasional ISKA September 2026, Luky Yusgiantoro kembali dipercaya menahkodai ISKA untuk periode 2026–2030. Kepercayaan ini menjadi kesempatan untuk meneruskan pengabdian sekaligus memperkuat peran kaum intelektual Katolik dalam merespons berbagai persoalan bangsa.

“Bagi intelektual Katolik, iman semestinya tidak berhenti pada praktik peribadatan atau identitas keagamaan. Iman perlu menemukan perwujudannya dalam tindakan nyata seperti keberanian memperjuangkan kebenaran, kepedulian terhadap sesama, kesediaan melayani, serta komitmen untuk menghadirkan kebaikan demi kepentingan bersama”, tegasnya.

ISKA memiliki ruang pengabdian yang luas. Para sarjana Katolik memiliki keahlian di berbagai bidang, mulai dari ekonomi, pendidikan, teknologi, hukum, energi, kesehatan, hingga kebudayaan. Potensi intelektual ini dapat menjadi kekuatan sosial apabila dihimpun dan diarahkan untuk menjawab persoalan-persoalan bangsa.

Terlihat bahwa kepemimpinan organisasi bukan hanya mengelola struktur dan menjalankan program kerja. Lebih dari itu, kepemimpinan merupakan kesempatan untuk mempertemukan pengetahuan, kepedulian, dan tindakan. Ilmu memberikan kemampuan untuk memahami persoalan, iman memberikan orientasi nilai, sedangkan integritas memastikan bahwa setiap tindakan tetap berada pada jalan yang benar.

Menjaga Arah Dalam Berbagai Kepentingan Dengan Integritas

Salah satu tantangan terbesar bagi seseorang yang berkarya di lingkungan profesional dan organisasi adalah menjaga konsistensi nilai ketika berhadapan dengan berbagai kepentingan. Semakin besar tanggung jawab yang dipercayakan, semakin besar pula tuntutan untuk menjaga integritas.

Integritas tidak selalu diuji dalam situasi besar yang menjadi perhatian publik. Justru, ia sering kali terlihat dalam keputusan-keputusan kecil sehari-hari seperti keberanian untuk bersikap jujur, tidak menyalahgunakan kepercayaan, menghormati tanggung jawab, serta tidak mengorbankan prinsip demi kepentingan sesaat.

Dalam kehidupan profesional, integritas diharapkan mampu menjaga agar ilmu dan keahlian tidak disalahgunakan. Dalam berorganisasi, integritas menjaga agar kekuasaan dan jabatan tetap menjadi sarana pelayanan. Sementara dalam kehidupan beriman, integritas menjadi bentuk keselarasan antara apa yang diyakini, apa yang diucapkan, dan apa yang dilakukan.

Ketiga aspek tersebut saling melengkapi. Ilmu tanpa iman berisiko kehilangan orientasi nilai. Iman tanpa tindakan nyata berisiko berhenti sebagai keyakinan pribadi. Sementara ilmu dan iman tanpa integritas akan kehilangan kekuatan untuk menghadirkan kepercayaan.

Berkarya, Melayani, dan Bermakna

Perjalanan Luky Yusgiantoro memperlihatkan bahwa pengabdian dapat mengambil berbagai bentuk dan berlangsung di berbagai ruang kehidupan. Di sektor energi, pengabdian diwujudkan melalui penerapan ilmu pengetahuan dan pengalaman profesional untuk mendukung kepentingan strategis bangsa. Di lingkungan masyarakat, pengabdian hadir melalui keterlibatan dalam organisasi dan upaya menggerakkan potensi kaum intelektual. Dalam kehidupan beriman, pengabdian menemukan maknanya melalui pelayanan dan kesetiaan terhadap nilai-nilai yang ia yakini.

Ukuran sukses seseorang bukan hanya seberapa tinggi posisi yang berhasil dicapai, melainkan seberapa besar manfaat yang dapat ditinggalkan dari setiap posisi dan kepercayaan yang pernah diterimanya. Jabatan dapat berganti, masa kepemimpinan dapat berakhir, dan perjalanan profesional dapat memasuki babak baru. Namun, karya yang memberikan manfaat dan nilai-nilai yang dijaga dengan konsisten dapat nemberi makna yang tak terlupakan.

Menyelaraskan ilmu, iman, dan integritas bukanlah jalan yang mudah. Ini merupakan proses pembelajaran dan perjuangan yang panjang Ilmu harus terus dikembangkan, iman harus terus dipelihara, dan integritas harus terus diperjuangkan.

“Jadi, mengabdi bukanlah tentang apa yang berhasil kita raih, melainkan tentang apa yang dapat kita berikan. Bukan semata-mata tentang ke mana ilmu membawa kita, melainkan untuk siapa ilmu itu kita gunakan. Dan bukan hanya tentang seberapa besar kepercayaan yang diberikan kepada kita, tetapi bagaimana kita menjaga kepercayaan tersebut dengan penuh tanggung jawab. Dan yang terpenting semua harus disyukuri”, tuturnya di suatu cafe di Tebet, Jakarta.(*)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU