Oleh: M. Nigara
LIGA TARKAM, segera diluncurkan oleh Kemenpora. Bukan sepakbola, tapi lima cabang olahraga: Voli, Basket, Bulutangkis, Tenis Meja, dan Atletik. Ide menjadi tugas yang diembankan Presiden sesaat setelah Dito Ariotejo diangkat menjadi Menpora.
Liga identik dengan event atau kegiatan yang kompetisi cabang olahraga. Di tanah air, ada tiga cabor yang memiliki kompetisi yang diberi lebel liga. Sepakbola, Basket, dan Voli. Masyarakat dan atlet yang terlibat jumlah luar biasa besar, khususnya sepakbola, menurut data Indonesia merupakan negara dengan penggila terbesar di dunia.
Tidak kurang 160-170 juta penggila si kulit bundar ada di sini. Argentina, juara dunia 2022 saja hanya menempati posisi kelima. Itu sebabnya, secara pribadi, saya tak pernah takut FIFA menghukum Indonesia. Sepanjang tidak sungguh-sungguh melanggar statuta, hukuman pasti jauh dari Indonesia.
Catatan: Indonesia memang pernah disangsi FIFA, 2010-2011. Saat itu ada kelompok yang memaksakan kehendak untuk masuk ke federasi, lalu membuat PSSI tandingan. Mereka menggelar kompetisi sebagaimana PSSI yang sah. Itu saja, FIFA memberi tenggat waktu sangat panjang, jika tak keliru, hampir setahun hukuman dijatuhkan. Waktu hukumannya pun relatif singkat.
Padahal, di negara lain, dengan kasus tidak seberat itu, FIFA tidak membutuhkan waktu lama untuk membekukan, dan jangka hukumannya pun cukup panjang. Di Indonesia, FIFA malah membentuk tim Ad-Hoc yang dipimpin Agum Gumelar dan IGK. Manila, dengan anggota antara lain Joko Driyono, Tommy Welly, saya dan beberapa lainnya. Tugas tim untuk mempersatukan mereka yang berselisih. Hebatkan!
Tarkam
Kembali Tarkam, ide Presiden. Tarkam adalah kependekan dari Tarikan Kampung. Sekali lagi, identik dengan sepakbola. Tarkam sudah ada era 1950an.
Di luar federasi, kompetisi dan turnamen yang resmi, banyak sekali orang membuat kegiatan sepakbola. Biasanya tokoh-tokoh atau pengusaha-pengusaha yang enggan masuk ke lingkup federasi, membuat turnamen-turnamen. Bisa berkait dengan apa saja san berhadiah juga apa saja. Mulai turnamen hadiah 10 ekor kambing, sapi, kerbau, mobil, uang, dan lain-lain.
Nah, banyak juga tokoh yang kemudian membentuk klun atau tim dadakan. Pemainnya, jangan kaget, mulai barisan pemain kampung, klub liga, hingga ke pemain-pemain nasional, dan pemain asing. Mereka memperoleh bayaran per-pertandingan mulai Rp 1- Rp 10 juta.
Para tokoh itu tidak mencari untung tetapi hanya melampiaskan hobinya saja. Namun bagi pemain, lepas mereka melanggar kontrak, ada pemasukan sampingan.
Dua puluh tahun terakhir, Tarkam, bukan hanya di sepakbola. Basket dan voli juga sudah ikut di dalamnya. Pola dan caranya, sama persis dengan sepakbola.
Keributan, menjadi bagian yang sangat sering terjadi. Dan, biasanya dapat dieleminir. Namun tidak jarang keributan antar kampung menjadi besar, semua karena persoalan ego-sektoral.
Pencarian Bibit
Untuk itu, Liga Tarkam yang digelar Kemenpora, hendaknya dapat melihat segala kelemahan tarkam-tarkam selama ini. Selain itu, hendaknya liga yang akan melibatkan 81.616 desa seta lebih dari delapan juta atlet, dijadikan ajang pencarian bibit.
Untuk itu, pesertanya haruslah anak-anak di bawah 14 tahun. Dan, hendaknya juga Kemenpora mau menggandeng cabor-cabor untuk bisa mengirimkan pelatih-pelatih pencari bakat. Dan tidak lupa pemerintah daerah hingga ke perangkat desa dilibatkan.
Jika hal ini bisa dilakukan, maka bukan tidak mungkin dunia olahraga kita akan lebih maju lagi. Bukan hanya prestasi, tapi kesehatan jasmani dan rohani pun bagi masyarakat bisa tercapai.
Saya teringat dengan ucapan Bung Karno, saat pembukaan Asian Games ke-IV, di Jakarta, 1962: “Membangun olahraga, membangun bangsa!”
Seperti kata pepatah lama, Niat Baik Saja Belum Cukup Untuk Meraih Sukses, Tapi Usaha dan Kerja Keras, serta Kecerdasan Dalam Melihat, Menjadi Penentu Utama.
Bravo Liga Tarkam
Penulis, M. Nigara, Wartawan Olahraga Senior

