İstanbul escort bayan sivas escort samsun escort bayan sakarya escort Muğla escort Mersin escort Escort malatya Escort konya Kocaeli Escort Kayseri Escort izmir escort bayan hatay bayan escort antep Escort bayan eskişehir escort bayan erzurum escort bayan elazığ escort diyarbakır escort escort bayan Çanakkale Bursa Escort bayan Balıkesir escort aydın Escort Antalya Escort ankara bayan escort Adana Escort bayan

22 February 2024
HomeBeritaKesraPerpustakaan Berperan dalam Pemberdayaan dan Pendampingan Perempuan

Perpustakaan Berperan dalam Pemberdayaan dan Pendampingan Perempuan

SHNet, Jakarta- Peringatan ke-95 Hari Ibu di Perpustakaan Nasional ditandai dengan Bedah buku mengupas Pemberdayaan Perempuan.

Momentum kesetaraan dan peranan perempuan dan ibu dalam pembangunan tampak ketika bagaimana menyiapkan generasi unggul bangsa Filsuf Tiongkok abad ke-6 SM, Konfusius, menyatakan bahwa keselarasan, kecerdasan, dan intimasi anak memerlukan stimulasi dari keluarga.

“Ketika keluarga lemah, negara lemah. Pun, jika keluarga kuat, negara kuat. Dan kecerdasan motorik anak berangkat dari keluarga, dalam hal ini peran ibu,” terang Deputi Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Adin Bondar saat membuka bedah buku dalam rangka memperingati Hari Ibu, pada Jumat, (22/12/2023).

Sebagai ruang edukasi, perpustakaan merupakan ruang terbuka, sehingga praktik-praktik baik yang dilakukan melalui program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial (TPBIS) menghadirkan dampak pada pertumbuhan ekonomi keluarga.

Peran perpustakaan dalam pemberdayaan dan pendampingan terhadap perempuan dan ibu adalah gerakan yang terintegrasi agar perempuan mendapat kehormatan kemuliaan dan pengakuan terhadap dirinya sendiri sebagai pelaku pembangunan.

Penulis buku ‘Pemberdayaan Perempuan Menjadi Pujian Bagi Istri yang Bijak’, Sisca Buniaty Manik mengatakan ide awal ia menulis buku berawal dari cerita maupun pengalaman dari orang sekitar yang mengalami kekerasan, kurang mendapatkan perlakuan keadilan dari pasangan.

“Buku ini lintas gender. Ketika istri sudah baik memperlakukan, maka suami wajib memberikan pujian sehingga tercipta keharmonisan keluarga,” ujar Sisca.

Perempuan secara kodrati membantu suami dan rumah tangga, mulai dari mengatur keuangan, kerapihan, hingga kebersihan rumah. Perempuan dianalogikan sebagai penolong yang layak mendapatkan pujian.

“Kalau perempuan bisa dimuliakan, maka itu sesuatu yang hebat. Buku ini terlalu sempurna menggambarkan sosok suami atau istri yang ideal. Meski kenyataannya tidak selalu demikian,” ucap Ketua Program Studi Informatika dari Universitas Bakrie, Hoga Saragih, salah satu pembahas buku.

Yah, buku ini meng-capture sisi ideal mahkluk Tuhan yang diciptakan berbeda tapi posisinya setara. Masyarakat budaya timur seringkali memberikan perspektif bahwa laki-laki menempati derajat tinggi. Apalagi diperkuat paham patriarki yang turun temurun diwariskan melalui tangan-tangan perempuan yang belum mendapatkan edukasi sebenarnya mengenai kesetaraan sehingga keliru menanamkan pemahaman kepada anak.

“Ibu adalah pendidik utama dan terutama. Andai tugas ibu di rumah dijadikan sebagai pekerjaan profesional, kira-kira berani digaji berapa. Pasti tidak ternilai,” pungkas pemerhati dan aktivis perlindungan perempuan dan anak, Imelda Berwanty Purba. (Stevani Elisabeth)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU