13 March 2026
HomeBeritaSerikat Pemuda Sumba Sebelum Indonesia Merdeka

Serikat Pemuda Sumba Sebelum Indonesia Merdeka

Setiap tanggal 28 Oktober selalu diperingati sebagai hari Sumpah Pemuda. Karena pada 28 Oktober 1928, para pemuda mengikrarkan Sumpah Pemuda sebagai keputusan Kongres Pemuda Kedua yang diselenggarakan 27—28 Oktober 1928.

Sumpah pemuda itu berbunyi: Pertama: Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia; Kedua: Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia; Ketiga: Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.

Namun, gerakan Pemuda itu bukan hanya di Batavia (Jakarta) atau di berbagai kota besar di Hindia Belanda pada masa itu. Bahkan, di Pulau Selatan Indonesia, Pulau Sumba tidak lepas dari munculnya gerakan pemuda, dimana para pemuda mengorganisir dirinya dalam berbagai organisasi. Perhimpunan Pemuda Sumba pertama didirikan pada 27 Maret 1929 di Payeti. Perhimpunan Pemuda “Immanuel” ini bertemu setiap Senin malam untuk membaca dan mendiskusikan berbagai topik.

Organisasi pemuda di Payeti yang dimotori murid asrama Normaalcursuus Payeti (Sumba Tengah). Saat itu, Afdeling Sumba terdiri dari tiga onderafdeling, Sumba Timur (Melolo), Sumba Tengah (Waingapu) dan Sumba Barat (Waikabubak). Normaalcursuus yang dipimpin Tj. Mobach ini merupakan sekolah lanjutan bagi lulusan Sekolah Rakyat 3 tahun untuk menjadi guru pada masa itu.

Keberadaan organisasi pemuda di Payeti ini menjadi pemicu lahirnya berbagai organisasi pemuda di Karuni, Waikabubak, Kambaniru, Waingapu dan di berbagai tempat. Bukan hanya organisasi pemuda, karena para pemudi juga mendirikan organisasi perempuan di Payeti dan Waikabubak.

Pendeta DK Wielenga, pendiri pos zending Payeti, mencatat, Organisasi Perempuan Kristen di Payeti pada tahun 1930 yang dipelopori Nyonya Mobach, yang bertujuan untuk mengembangkan pendidikan, agama dan meningkatkan kehidupan sosial. Tapi, lebih dari itu, organisasi perempuan ini memiliki makna yang lebih luas, karena perempuan dipanggil untuk keluar dari sikap pasif, agar peduli kalau perempuan juga memiliki untuk lingkungan tempat tinggalnya.

Namun, meski organisasi pemuda-pemudi muncul dimana-mana, tetapi semua bergerak sendiri-sendiri di lingkungan sekitarnya. Hal ini melahirkan ide untuk menghimpun para pemuda dari berbagai organisasi dalam satu satu organisasi Pemuda Kristen Sumba, karena organisasi pemuda ini hampir semuanya dari Pemuda Kristen. Karena belum ada organisasi pemuda lain pada masa itu.

Pada Maret 1936, Organisasi Pemuda “Immanuel” mengadakan perayaan HUT ke-7 di Payeti. Dalam perayaan ini muncul keinginan untuk menyatukan berbagai organisasi pemuda dalam satu organisasi bersama. Setelah itu, beberapa pengurus Immanuel mengunjungi organiasi pemuda di berbagai tempat dan semua menyetujui membentuk satu organisasi bersama, menerbitkan Majalah “Pembaharoean” dan mendirikan serikat pekerja, serta program pertemuan dari semua organisasi pemuda. Edisi pertama Majalah “Pembaharoean” diterbitkan pada Mei 1936.

Catatan mengenai Kongres Pemuda 1936 di Payeti ini, bisa ditemukan dalam tulisan JE Tatengkeng (De Bond van Christen-Jongelingsvereenigingen op Soemba) pada Juli 1936 dan Pendeta P.J. Lambooy (Christen Jongemannenvereenïging op Soemba) tahun 1936. Pendeta Lambooy mencatat pada Maret 1936, Organisasi Pemuda di Payeti mengirim utusan ke berbagai tempat di Pulau Sumba, dari ujung timur Sumba sampai ke barat, untuk menyatukan semua gerakan pemuda. Perwakilan organisasi pemuda dari berbagai tempat diundang ke Payeti pada tanggal 2-3 Juli 1936. Setidaknya, pertemuan pemuda ini dihadiri sekitar 130 orang.

Pertemuan pemuda di Payeti 1936 ini dipandu Jan Engelbert Tatengkeng. Di kemudian hari, JE Tatengkeng yang kelahiran Pulau Sangihe (Sulut) ini dikenal sebagai seorang negarawan dan sastrawan angkatan Pujangga Baru. Pada masa Negara Indonesia Timur (NIT), JE Tatengkeng pernah menjadi Menteri Pengadjaran NIT dan Perdana Menteri (PM) NIT (27 Desember 1949 – 14 Maret 1950).

Tatengkeng yang terkenal dengan karya sastra “Rindu Dendam” ini berada di Sumba sebagai Kepala Sekolah Transisi (Schakelschool) di Payeti dan sebagai Asisten Pengawas Sekolah Zending di Pulau Sumba pada tahun 1930-an.

Pada malam pembukaan dihadiri lebih dari 350 orang, sebagian besar anak muda dan anak perempuan. Pembicara pada malam hari, JE. Tatengkeng dan Pengawas Pendidikan Pulau Sumba, Tj. Van Dijk yang didahului dengan perkenalan dari semua peserta pertemuan. Sebagai pendidik, Tj. Van Dijk ini mungkin sangat bangga menyaksikan buah tangannya mampu menjadi tokoh pemuda di berbagai wilayah. Ketika Van Dijk tiba di Sumba pada 1913, hanya ada beberapa sekolah rakyat di Sumba, yakni di Melolo (dibuka Pendeta Pos), Kambaniru dan Waingapu (dibuka Pendeta JJ Van Aphen), Mamboro dan Karuni (dibuka Pendeta DK Wielenga). Ketika Van Dijk pensiun pada Desember 1938, Sumba sudah memiliki 56 sekolah bersubsidi, 15 sekolah tidak bersubsidi dengan total 112 guru dan sekitar 5.500 siswa. Juga sudah ada 3 sekolah menengah bersubsidi (9 guru). Van Dijk bersama isterinya merupakan pengelola pertama Normaalcursuus dengan asramanya di Payeti.

Pada pagi hari (2 Juli 1936), Guru H. Mbay dari Karita menyampaikan paparan mengenai peran organisasi pemuda di dalam masyarakat, yang disusul Guru Maatschappelijk Onderwijs (Sekolah Pendidikan Sosial/Pertanian) di Lewa, L. Tomasouw yang berbicara tentang bagaimana memajukan pembangunan ekonomi Sumba. Tomasouw ini sengaja didatangkan ke Sumba untuk mengajar pertanian di Maatschappelijk Onderwijs Lewa yang didirikan Tj. Van Dijk pada tahun 1935. Pola pendidikan di sekolah ini didesain Van Dijk untuk mengintegrasikan teori, praktek dan usaha kelompok dari lahan pertanian. Van Dijk ini merupakan tokoh pendidikan Sumba yang sangat popular di Belanda pada masa itu karena dedikasinya bagi pendidikan di Sumba.

Pada sore hari, 16 organisasi pemuda dari berbagai wilayah di Sumba sepakat mendirikan “Persatoean Perserikatan Pemoeda Kristen Soemba”. Ke-16 organisasi itu datang dari Sumba Timur (2), Sumba Tengah (8), dan 6 organisasi dari Sumba Barat. Perhimpunan pemuda Sumba ini berhasil memilih pengurus inti yang terdiri dari JE Tatengkeng (Ketua), Tioel, Izak Riwoe dan Kaboeboe Palekahelu.

Kemudian pada hari terakhir, menghadirkan dua orang pembicara, yakni Oemboe Toenggoe Bili (Zelfbestuur Mamboro) yang membawakan materi “Prinsip-prinsip Politik Kristen dan Reformasi Pemerintah”. Pembicara lain, Dr. Louis Onvlee (Ahli Bahasa Sumba) yang memaparkan materi “Pemuda Kristen dan Pembaruan Adat”.

Oemboe Toenggoe Bili di kemudian hari menjadi delegasi Daerah Sumba dalam Konferensi Malino pada Juli 1946. Sedangkan di Konferensi Denpasar pada akhir Desember 1946, Oemboe Toenggoe hadir bersama Lede Kaloembang (saat itu kandidat Zelfbestuur Loura), Dr. Louis Onvlee dan Oemboe Tipoek Marisi (Sekretaris Daerah Sumba) yang selanjutnya menjabat Kepala Daerah Sumba. Pada akhir 1949, Oemboe Toenggoe Bili juga menjadi Senator NIT sebagai satu-satunya utusan Sumba, karena dari 13 Daerah NIT hanya mengutus masing-masing satu orang.

Sedangkan, Dr. Louis Onvlee menjadi seorang profesor dan legendaris dalam studi Bahasa Sumba. Dua orang asisten Onvlee dalam studi Bahasa Sumba, Oemboe Hina Kapita (Bahasa Kambera) dan S.D. Bili (Bahasa Wejewa). Oemboe Kapita merupakan Doktor HC dari Vrij Universiteit Belanda dan menjabat Kepala Dinas Kebudayaan dan Pendidikan Sumba Timur. Sedangkan, S.D Bili pernah menjabat Ketua Parlemen Sumba, Anggota DPR RI dari PNI (1959-1966). Kolaborasi ketiganya melahirkan terjemahan Alkitab Bahasa Suma dialek Kambera dan Wejewa, serta Kamus Bahasa Sumba.

Tatengkeng mencatat, Perhimpunan Pemuda Kristen Sumba ini membawa semangat yang besar untuk tujuan mencapai reformasi (sesuai nama majalah Pembaharoean) kehidupan Bangsa kita.

Sementara itu, Perhimpunan Perempuan di Waikabubak, selain aktif mengikuti diskusi mengenai gereja, perhimpunan ini mendorong pengembangan ketrampilan bagi anak perempuan, seperti menjahit dan sebagainya. Perhimpunan ini beranggotakan anak perempuan. Organisasi ini meluas sampai ke berbagai kampung di Sumba Barat. Mereka belajar berbagai keterampilan, berdiskusi dan mengikuti pendidikan Alkitab. Hanya saja, organisasi ini mengalami kesulitan akan literatur dan pembiayaan untuk mendukung berbagai program mereka.

Namun, atas perantara Nyonya Berg-Meidema (isteri dokter pertama RS Lende Moripa Waikabubak, Dokter J. Berg) organisasi perempuan di Waikabubak ini berhasil menjalin kontak dengan Asosiasi Anak Perempuan dari Yayasan Reformed Belanda, sehingga mendapat dukungan untuk melakukan berbagai pelatihan dan pendidikan kepada kaum perempuan di Waikabubak.

Persatoean Perserikatan Pemoeda Kristen Soemba ini juga menggelar Kongres Ketiga pada tanggal 4 – 5 Januari 1939 di Payeti. Anggota Perhimpunan Pemuda sudah bertambah menjadi 17 organisasi pemuda di Sumba. Catatan Kongres Pemuda ini dapat ditemukan dalam tulisan Pendeta Lambooy (Het Jeugdleven op Soemba) pada Februari 1939.

Pembicara pertama dalam Kongres diisi Ketua Perhimpunan Payeti, Isak Riwoe. Setelah itu disusul Pidato Pembukaan Pengurus Perhimpunan Pemuda Sumba, L. Tomasauw. Pada malam pertama Kongres, juga diwarnai penyerahan panji organisasi dari D.H. Krijger (Paramedis Payeti) kepada pengurus perhimpunan. Panji itu merupakan desain Pendeta W. van Dijk. Panji memiliki latar belakang gambar rumah adat Sumba; ada tiga tanaman padi yang bertumbuh (mewakili Sumba Timur, Tengah dan Barat) yang diikat menjadi satu pita dalam warna iman, harapan, dan cinta. Keseluruhan ini dicakup oleh salib. Malam pertama ditutup dengan paparan Dr. Louis Onvlee mengenai perumpamaan talenta pemuda.

Selain itu, pembicara dalam forum terdiri dari Direktur Normaalcursuus Payeti, Tj. Mobach tentang Kesaksian Gereja. Pembicara lain, yakni Kepala Sekolah Kristen Belanda (Christian Hollandsche School) di Waikabubak, H.G. Lalujan yang membahas “Gereja dan Umat”. Selain itu, para pemuda juga membahas topik yang berkaitan dengan politik.

Sedangkan agenda pemilihan pengurus digelar pada hari kedua, dimana JE Tatengkeng (Ketua), Kaboeboe W. Palekahelu (Ketua II), H.G, Lalujan (Sekretaris), Oemboe Hina Kapita (Bendahara). Komisaris: Ch. Radjah dan Sarami Jewangoe. Sedangkan Pemimpin Redaksi Pembaharoean, L. Tomasouw yang sebelumnya dijabat JE Tatengkeng.

Kongres ini juga dimeriahkan dengan pertandingan bola antara Sumba Barat dan Sumba Timur Tengah. Piala diserahkan kepada Soekardi dari Sumba Tengah Timur yang memenangkan pertandingan bola. Selain itu, para peserta berenang bersama dan mengunjungi peternakan di Matawai.

Hanya saja, kelanjutan organisasi ini tidak lagi mewarnai pemuda Sumba seiring dengan pendudukan Jepang, kemudian diikuti Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Namun, dari sejumlah pemimpin pemuda itu tampil sebagai tokoh bukan saja di Pulau Sumba, tetapi secara regional dan nasional. Tokoh-tokoh pemuda ini memainkan peran sangat penting di masa awal kemerdekaan di Sumba sampai dengan dasawarsa 1960-an. (daniel duka tagukawi)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU