15 July 2024
HomeOpiniSkenario NATO Berantakan, Ukraina akan Pecah Jadi Beberapa Negara

Skenario NATO Berantakan, Ukraina akan Pecah Jadi Beberapa Negara

JAKARTA, SHNet – Peringatan datang dari Nikolay Patrushev, Sekretaris Dewan Keamanan Rusia, Selasa, 26 April 2022.

Apa yang terlihat masih menyatukan Ukraina  hanyalah ketakutan karena menghadapi teror batalyon batalyon Nazi Ukraina. Semakin (Z)eilensky mengikuti plot Amerika Serikat –  North Atlantic Treaty Organization (NATO) yang bertujuan untuk memperpanjang perang yang bertujuan untuk melawan Rusia perpecahan itu akan semakin terbuka.

Hasil akhirnya Negara Ukraina akan berantakan.

Pernyataan Nikolai Patrushev, tampaknya akan segera menjadi kenyataan. Dengan melihat peta operasi militer Rusia, dimana terus mengalami kemajuan signifikan di seluruh Front Donbass, dari Kharkiv hingga ke selatan ke Zaphorizhia, Kherson, Mykolaev bergerak mendekati Oddessa.

Jatuhnya Mariupol, setelah sebelumnya Kherson, Meliotopol dan Berdyank menstabilkan jembatan darat dari Crimea,  juga menstabilkan jembatan darat untuk segala manuver militer yang diperlukan dari seluruh Front sepanjang 500 kilometer, dari Utara hingga ke Selatan.

Odessa akan menjadi tujuan Rusia. Pelabuhan Odessa adalah obsesi NATO untuk menjadi pangkalan dalam skenario Ukraina menjadi anggota NATO.

Rencana pangkalan NATO

Secara de facto oleh rezim Kiev telah menjadikanya pangkalan NATO. Di Odessa-lah setiap kapal perang NATO bersandar jika mengunjungi Ukraina.

Rusia akan menghilangkan ancaman permanen terhadap Armada Laut Hitam-nya yang bermarkas di Crimea.

Di Odessa juga meledak pertama kalinya perlawanan terhadap Kudeta Maidan tahun 2014. Sehingga menjadi kota sasaran pertama regu-regu teror Nazi Ukraina menebar kematian. Mei 2014, regu teror Nazi membakar hidup-hidup 200 orang di gedung serikat buruh di Odessa yang mengakibatkan 50 orang meninggal dan puluhan terluka. Setelahnya Odessa hidup dalam teror.

Begitu semua distrik di Donbass dibebaskan dari Nazi Ukraina mereka akan segera menyusul Donetsk dan Luhansk akan mendeklarasikan pemisahan diri dari Kiev menjadi republik seperti Donetsk People’s Republic (DPR) dan Luhansk People’s (LPR).

Sepertinya ini akan mengarah pada terbentuknya sebuah negara federasi yang baru  meliputi Kharkiv hingga Odessa.

Dan Rusia akan melindungi negara baru ini. Dan akan menjadikan syarat yang ditentukan Rusia jika Kiev ingin berdamai. Jika tidak berdamai operasi militer akan terus berlanjut.

Bahkan dalam skenario Kiev menerima syarat perdamaian yang ditentukan Rusia sekalipun, nasib Ukraina dengan sisa wilayahnya tidak akan terjamin persatuannya. Terlebih jika Kiev terus membiarkan kendali politik Nazi terhadap Ukraina. Sejak regu teror Nazi berkeliaran di jalan tahun 2014 persatuan nasional Ukraina ikut pecah.

Berlanjut politik Nazi yang semakin merasuk di rezim Kiev: produk legislasi, sensor dan teror, penguasaan terhadap Garda Nasional, Polisi Nasional dan Dinas Keamanan (SBU). Karena mengingkari eksistensi sebuah bangsa dan negara yang multi etnis.

Tanpa melucuti seluruh politik Nazi:  membubarkan Garda Nasional, membentuk Polisi Nasional dan SBU yang baru, tanpa merubah menjadi negara federasu– Ukraina juga tidak akan bertahan.

Skenario NATO berantakan

Beranikah (Z)eilensky…?

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, untuk mempertahankan persatuan Ukraina dari wilayah yang tersisa melakukan itu, melanjutkan Denazifikasi sampai tuntas tanpa bekerjasama dengan Rusia…?

Nasibnya akan berakhir ditembak mati oleh Nazi Ukraina.

Etnis Polandia, Rumania, Hungaria di Ukraina barat tentu tidak akan mau menerima nasib seperti rakyat Donbass yang menghadapi penindasan berdarah selama 8 tahun oleh Nazi Azov dan lain-lainya itu.

Obsesi Amerika Serikat – NATO untuk mendapatkan pijakan jangka panjang, menjadikan rakyat Ukraina sebagai proxsi untuk melawan Rusia, akan berantakan.*

Jakarta, 27 April 2022

Joko Purwanto, Ketua Komite Persahabatan Rakyat Indonesia dan Rusia

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU