SHNet, Jakarta– Berawal dari suksesnya menggelar Samosir Musik Internasional 2014, Henry Manik tertarik untuk setiap tahun melakukan pengembangan event tersebut.
Bahkan jauh sebelumnya, Hendri mengajak musisi-musisi lokal untuk mengalunkan lagu-lagu Batak di luar negeri seperti di UK dan Wales.
Meski lama tinggal di Belanda, kecintaan Henry terhadap tanah kelahirannya tak pernah surut. “Dua tahun lalu, saya menggelar festival di Belanda yang bertajuk Semalam di Danau Toba. Semua orang yang terlibat dalam festival itu harus bisa bawa lagu Batak. Genre musik mereka tidak kita ganggu gugat. Kita juga kolaborasi dengan musisi lokal. Ada juga musisi dari Belanda, Italia dan Malaysia ambil bagian dalam festival tersebut,” papar Henry di sela-sela Launching Yayasan Lestari Budaya Sumatera, di Toba Dream, Jakarta, Sabtu (23/08/2025).

Menurutnya, ketika kita melakukan banyak hal untuk Samosir dan Danau Toba, kita perlu wadah yang resmi untuk bersurat.
“Di seputaran Danau Toba banyak tumbuh komunitas dan sanggar. Kita motivasi mereka untuk kembangkan seni. Mudah-mudahan dengan yayasan ini, kita dapat perhatian dari semua pihak di daerah dan Nasional. Selain itu kita akan menghidupkan UMKM,” ungkapnya.
Penampilan musisi Viky Sianipar dalam Launching Yayasan Lestari Budaya Sumatera menjadi penanda, musik Batak cukup mendunia. Selaras dengan tujuan yayasan tersebut, ini tak lepas dari perjalanan panjang Samosir Music International (SMI) yang sejak 2014.
Viky Sianipar membawakan lagu ‘Huta Namartuai’. Lagu ’Huta Namartuai’ untuk Original Soundtrack (OST) Film Layar Lebar ‘Ngeri Ngeri Sedap’, yang dirilis pada tahun 2022. Lagu Huta Namartuai menciptakan keharuan dengan sentuhan vokal Viky Sianipar yang dibarengi oleh penyanyi Ogar Nababan.
Humas Yayasan Lestari Budaya Sumatera, Nelly Marlinda, menambahkan harapannya agar lembaga ini menjadi pusat pengembangan budaya yang inklusif. “Dengan dukungan semua pihak, semoga budaya Batak bisa naik kelas, bahkan go internasional,” ujarnya. (Stevani Elisabeth)

