24 June 2026
HomeBeritaKesraYudi Latif tentang Keutamaan Budi dalam Hari Kebangkita Nasional

Yudi Latif tentang Keutamaan Budi dalam Hari Kebangkita Nasional

SHNet, Jakarta- Pakar sejarah dan politik Yudi Latif bertanya,  dari mana kebangkitan nasional harus dimulai? Lalu dia menjawab, ari kesadaran pentingnya keutamaan budi; budi utama. Pada awal abad ke-20, kesadaran itu bukan hanya tercermin dr kelahiran Budi Utomo,  tetapi juga organisasi sejaman seperti Jamiat Khair (perkumpulan kebajikan budi), dan juga Tri Koro Dharmo (Tiga Tujuan Mulia: sakti, budi, bakti).

Nah, dalam kaitan perinagatan Hari Kebangkitan Nasional  20 Mei,  Yudi Latif mengatakan, singkat kata, budi pekerti adlah tumpuan utama kebangkitan dan kemajuan. “Budi” berarti pikiran, perasaan dan kemauan (aspek batin). “Pekerti” berarti tenaga atau daya (aspek lahir).

Pikiran itu pelita hidup. Sesat pikir, binasa hidup. Etika itu kendali hidup. Pudar moral, ambruk hidup. Kemauan itu daya hidup. Lemah karsa, kerdil hidup.

Budi pekerti baik menyatukan pikiran, perasaan dan kemauan manusia yg mendorong kekuatan tenaga yang dapat malahirkan penciptaan dan perbuatan baik, benar dan indah.

Pikiran sehat menyatukan pelajaran dan pemahaman. Perasaan sehat menyatukan hati dan pikiran. Kemauan sehat, menyatukan kehendak dengan pemahaman dan etos kejuangan.

Perpaduan semua itu terpatri dlm karakter. Karakter adalah lukisan sang jiwa; cetakan dasar kepribadian positif seseorang yang terkait dengan kualitas moral,  ketegaran dan kekhasan potensinya, sebagai  hasil dari proses pembudayaan.

Karakter bukan saja menentukan eksistensi dan kemajuan seseorg, tetapi juga  sekelompok organisasi. Ibarat individu, setiap bangsa memiliki karakternya tersendiri yg tumbuh dr pengalaman bersama. Pengertian “bangsa” yang terkenal dr Otto Bauer, menyatakan, “Bangsa adalah satu persamaan, satu persatuan karakter, watak, yang persatuan karakter atau watak ini tumbuh, lahir, terjadi karena persatuan pengalaman.”

Tentang pentingnya karakter bangsa, Bung Karno sering mengajukan pertanyaan yang ia pinjam dr sejarawan Inggris, H.G. Wells, “Apa yang menentukan besar kecilnya suatu bangsa?” Lantas ia jawab sendiri, bahwa yang menentukan besar kecilnya suatu bangsa bukanlah seberapa luas wilayahnya dan seberapa banyak penduduknya, melainkan tergantung pada kekuatan tekad, sebagai pancaran karakternya.

Alhasil, jalan kebangkitan hrs dimulai dari pembinaan budi pekerti sebagai  wahana penanaman karakter, yang dapat menjadi akar kokoh bg gerak tumbuh kemajuan bangsa. (sur)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU