SHNet, Makassar— Penetrasi internet turut merambah di sektor ekonomi sehingga kerap disebut sebagai eranya ekonomi digital.
Kini, transaksi jual beli tidak lagi dilakukan secara konvensional atau bertatap muka langsung, tetapi dilakukan secara online sehingga lebih efisien dan praktis. Namun, tetap diperlukan kewaspadaan agar tidak terperangkap kerugian dalam bertransaksi digital.
Demikian yang menjadi pembahasan dalam webinar bertema “Melek Literasi Digital: Cakap, Aman, dan Beretika saat Berbelanja Online”, di Makassar, Sulawesi Selatan, yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi.
Webinar ini menghadirkan sejumlah narasumber, yakni pengurus Bidang Penelitian dan Pengembangan SDM Relawan TIK Provinsi Bali, Ni Kadek Sintya; pengajar Informatika SD Labschool Cibubur, Yoshie Yosephine; dan Head PPGR Gojek Indonesia Timur, Mohammad Khomeiny.
Kemudahan bertransaksi jual beli di marketplace, menurut Ni Kadek Sintya, berpotensi menjerat konsumen ke dalam gaya hidup boros. Apalagi, banyak fitur dalam marketplace yang mempermudah konsumen membeli barang sebanyak mungkin. Hal ini yang bisa merangsang seseorang untuk bergaya hidup boros.
Oleh karena itu, lanjut Ni Kadek, perlu kehati-hatian dalam mengelola kebutuhan belanja. Hal yang terpenting adalah dengan mengenali kebutuhan yang ada, membuat daftar prioritas, mengetahui harga barang yang sesungguhnya, membandingkan harga dengan platform yang lain, serta jangan mudah terdistraksi.
“Agar bisa menghemat anggaran belanja, silakan memanfaatkan program diskon harga, misalnya pada tanggal-tanggal unik, anniversary promosi produk, memanfaatkan momentum hari belanja online nasional,” ucap Ni Kadek.
Ni Kadek menambahkan, berbelanja online pun membutuhkan kebijaksanaan dan kecerdasan. Pasalnya, apabila menuruti kemauan tanpa mempertimbangkan kebutuhan sebenarnya akan membentuk pribadi yang konsumtif dan boros. Selain itu, berbelanja online juga membutuhkan kesabaran karena ada kalanya harga barang di waktu tertentu bisa lebih murah.
Yoshie Yosephine menambahkan agar tidak keliru dalam berbelanja di marketplace, temukan produk yang ingin dibeli dengan memanfaatkan fitur pencarian. Apabila mendapatkannya, pilihlah dan buatlah penawaran dengan penjual apabila memungkinkan. Gunakan voucher atau kupon potongan harga apabila dipunyai untuk mendapatkan harga lebih rendah.
“Kecakapan memilih e-commerce atau marketplace penting agar belanja dapat berlangsung aman dan nyaman, serta menguntungkan,” katanya.
Sementara itu, Mohammad Khomeiny menyatakan, agar belanja online berlangsung aman dan nyaman, perlu dikenali profil dan reputasi platform marketplace yang dipilih atau digunakan. Sebaiknya membeli atau berbelanja di platform yang memang sudah memiliki reputasi yang baik dan positif. Dalam akun belanja online, imbuhnya, sebaiknya tidak meninggalkan informasi pribadi maupun uang elektronik.
“Berikan masukan ke platform apabila ada pengalaman berbelanja yang kurang menyenangkan atau terindikasi ada masalah. Namun, komentar yang diberikan harus objektif,” ucapnya.
Dengan hadirnya program Gerakan Nasional Literasi Digital oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI diharapkan dapat mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif. Kegiatan ini khususnya ditujukan bagi para komunitas di wilayah Sulawesi dan sekitarnya yang tidak hanya bertujuan untuk menciptakan Komunitas Cerdas, tetapi juga membantu mempersiapkan sumber daya manusia yang lebih unggul dalam memanfaatkan internet secara positif, kritis, dan kreatif di era industri 4.0. (Stevani Elisabeth)

