SHNet, Jakarta – Lahan sawah di kawasan Bulak Srikayangan, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, disulap menjadi sentra bawang merah terbesar kedua di DIY dengan luasan lahan 255 hektare.
Meskipun terjadi wabah Covid-19, namun petani terus bekerja menanam bawang merah. Masa pandemi tidak membuat petani milenial hanya mengadah bantuan dari pemerintah pusat dan pemerintah kupaten, karena bantuan alat dan saranan produksi pertanian terkena refocusing anggaran untuk penanganan COVID-19.
Nilai transaksi penjualan bawang merah di Bulak Srikayangan pada masa pandemi COVID-19 luar biasa. Awal masa taman dihantam adanya penyebaran COVID-19 di Desa Srikayangan, sehingga kesulitan mendapat tenaga kerja.
Keuntungan petani dalam satu masa tanam (tiga bulan) keuntungannya sekitar Rp66 miliar. Perbankan juga hadir dalam sentra budi daya dengan kredit usaha rakyatnya, sehingga menolong petani dalam permodalan.
Bulak Srikayangan merupakan salah satu dari delapan kawasan agri bisnis pertanian dalam rangka meningkatkan nilai tukar petani dan penumbuhan ekonomi masyarakat di Kabupaten Kulon Progo.
Pengembangan kawasan agri bisnis memiliki tiga unsur, yakni produktivitas, kontinyuitas dan kualitas terpenuhi pengembangan kawasan pertanian ini, dari usaha produktif On Farm (budidaya) dan Off Farm (pasca panen) dapat dilaksanakan dalam satu kawasan, sehingga mampu mendongkrak ekonomi masyarakat.
Di kawasan Bulak Srikayangan sudah didukung infrastruktur jalan yang sudah bagus, namun jaringan infrastruktur irigasi dan pengairan memang membutuhkan pemerintah pusat karena masuk jaringan primer.

“Hal ini bisa dilihat, sektor pertanian tidak terkena dampak pandemi COVID-19. Pertanian bisa menjadi sektor yang paling bisa beradaptasi dengan cepat, sehingga pertumbuhan ekonomi di sektor pertanian selalu positif,” katanya.
“Kami meminta kalau kawasan Bulak Srikayangan ditetapkan sebagai sentra bawang merah di Kulon Progo harus didukung irigasi teknis. Sehingga akan mengurangi biaya operasional dan pompanisasi,” kata Anggota Kelompok Tani Makmur Srikayangan Wakidi.
Setiap tahun, dari Agustus sampai Oktober, mampu menjadi pusat kegiatan ekonomi baru di Kulon Progo. Di lahan tanaman bawang merah, sekitar 300 buruh tani bekerja untuk menanam, menjaga dan menyiram, hinggga memanen. Pendapatan buruh tani pada masa pandemi ini sangat tinggi.
Pada hari-hari biasa, sebelum ada pandemi COVID-19, upah tenaga kerja hanya berkisar Rp65 ribu hingga Rp70 ribu per hari per orang, pada masa pandemi COVID-19 menjadi Rp80 ribu sampai Rp85 ribu per hari per orang untuk tenaga kerja laki-laki, sedangkan perempuan Rp70 ribu sampai Rp75 ribu perhari.
“Jumlah tenaga kerja yang terlibat untuk tanam di lahan seluas 1.000 hektare sebanyak 12 orang. Kalau satu hektare sekitar 120 orang. Pada masa tanam bawang merah ini cukup menyerap tenaga kerja di sekitar Desa Srikayangan,” katanya.
Petani di Desa Srikayangan juga mampu mengadopsi modernisasi sektor pertanian dengan cepat. Namun bantuan alat mesin pertanian, seperti traktor roda empat yang cepat mengoolah tanah supaya masa tanam tidak mundur. Musim tanam mundur bisa mempengaruhi produksi bawang merah. Hal ini dikarenakan berlomba dengan musim bulan purnama yang dapat menyebabkan serangan hama ulat.
“Kami berharap Pemkab Kulon Progo melalui Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo menambah traktor roda empat guna mempercepat pengolahan tanah, dan tidak terlambat tanam,” harapnya. (Victor)

