7 July 2022
HomeBeritaPDSI Blak- blakan Soal Metode "Cuci Otak" Dokter Terawan

PDSI Blak- blakan Soal Metode “Cuci Otak” Dokter Terawan

UPAYA IDI gagal untuk menghentikan praktek Dokter Terawan melakukan pengobatan terapi DSA Digital Subtraction Angiography (DSA) atau yang dikenal dengan “cuci otak” Dokter Terawan. Masyarakat justru semakin percaya dengan keampuhan terapi DSA yang dilakukan mantan Menteri Kesehatan RI ini. Sebelum IDI mencabut izin prakteknya saja, sudah 40,000 pasien yang berhasil diselamatkan oleh metode DSA ini. Sampai saat ini pasien masih antri panjang untuk mendapatkan terapi cuci otak tersebut di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Berikut percakapan Web Warouw dengan Sekretaris Umum Perkumpulan Dokter Seluruh Indonesia (PDSI), dr. Erfen Gustiawan Suwangto, Sp.KKLP, SH, MH. Selamat menyimak.

Apa yang dimaksud dengan etika kedokteran?
Etika adalah cabang ilmu filsafat. Etika berdeda dengan hukum atau agama. Juga beda dengan kedokteran. Dalam Etika ada cabang Etika Terapan. Dan salah satu bagiannya adalah Etika Kedokteran.
Etika berbicara tentang baik dan buruk, bukan benar dan salah. Benar dan salah itu diputuskan oleh ilmu pengetahuan. Boleh dan tidak ditentukan oleh hukum. Jadi ada baik dan tidak, boleh dan tidak, kemudian benar dan salah. Benar dam salah pasti lewat penelitian ilmiah.
Jadi kalau mengklaim suatu metode itu salah atau benar, berarti harus dibuktikan lewat penelitian yang lain dahulu. Gak bisa dengan Etika atau Hukum. Semua ini di dapat dalam filsafat Ilmu yang dipelajari kalau sudah ngambil S2 dan S3.
Selama belum ada bukti metode yang existing itu salah, maka dia tidak bisa dikatakan salah. Itu aja.

Apakah Dokter Terawan melanggar kode etik kedokteran?
Kalau Etika kedokteran, penelitian harus dilakukan dengan kehati-hatian. Kalau dilihat pada kasus Dokter Terawan. Apakah ada yang melapor merasa dirugikan oleh metode yang dipakai Dokter Terawan? Setahu saya belum ada yang meninggal atau cacat.
Istilah di kedokteran itu Primum Non Nosere,– First, Do No Harm!,-– yang utama terpenting, jangan membahayakan Pasien! Soal bermanfaat atau tidak itu nanti dulu, yang terpenting jangan membahayakan. Ini sebenarnya yang menjadi inti dari kasus Dokter Terawan.

Apa yang menjadi keberatan IDI pada dokter Terawan?
Penelitian ada levelnya. Yang dipersoalkan orang pada Dokter Terawan, mengapa penelitian pada metodenya bukan RCT (Randomize Controlled Trial).
Harus diakui bahwa RCT itu memang gold standard yang baik. Tetapi kita juga tahu bahwa masih banyak obat-obatan diberikan dokter,–yang belum di RCT, koq gak dipermasalahkan?
Salah satunya obat untuk anak-anak,–kenapa gak di RCT? Karena gak etis obat itu dicoba pada anak-anak dengan metode RCT. Kalau dilakukan maka mekanismenya adalah ada anak yang dikasih obat beneran dan ada yang dikasih obat plasebo (Kosong).Tapi dokter, orang tua dan anak tidak tahu siapa yang dapat obat beneran dan siapa yang dapatnya plasebo. Namun ada pihak ketiga yang tahu. Kan jadi coba-coba pada anak-anak, sehingga tidak etis anak-anak dijadikan percobaan.

Apakah ada contoh kasus lain sebelumnya?
Jadi banyak obat diresepkan yang gak lewat RCT. Termasuk resepan obat off lable use. Di Amerika, 20% obat digunakan off lable use. Artinya obat digunaka diluar indikasi penyakit yang sebenarnya. Apalagi obat kanker.
Saya ambil contoh untuk di Indonesia obat siproheptadine, yang sebenarnya obat alergi. Tapi obat ini dipakai juga untuk meningkatkan nafsu makan anak-anak. Semua dokter masih ngasih koq. Apakah itu ilegal? Itu legal! Di Amerika tertulis jelas: Legal!
Yang ilegal itu adalah ketika kita melakukan promosi terang-terangan bahwa obat siproheptadine itu untuk meningkatakn nafsu makan anak,– sehingga orang berebutan beli. Itu yang gak boleh.
Tapi kalau itu ditangani tanpa gembar-gembor,–itu legal,– di Amerika seperti itu.
Rekan saya dokter Toni Setyabudi di Mount Elizabeth Hospital mengomentari soal dokter Terawan,–kasus-kasus yang invasif dalam operasi bedah syarat atau bedah otak itu juga banyak yang belum di RCT. Menurutnya ya gak mungkin dong RCT dilakukan pada orang yang dalam kondisi sekarat, terus anda coba-coba menggunakan obat beneran atau obat plasebo. Itu kan juga gak etis. Jadi jangan dikira menggunakan RCT dalam penelitian itu adalah yang paling etis. Itu yang ingin saya garis bawahi, sebagai akademisi.
Dokter Terawan juga ngomong,–yang datang kepada saya pasti minta diobatin bukannya mau dikasih obat kosong.

Jadi bagaimana mengukur etis dan tidak etis dalam kedokteran?
Yang dilakukan Dokter Terawan itu adalah membandingkan sebelum dan sesudah pada pasien yang sama. Sedangkan yang dimaui oleh organisasi profesi (IDI-red) adalah menggunakan metode dengan menggunakan obat standar dikasih ke satu pasien stroke dan metode dokter Terawan pada pasien yang lain.

Apakah benar spesialis radiologi hanya boleh melakukan diagnostik?
Ada juga isu yang mengatakan bahwa Dokter Terawan itu gak berhak melakukan terapi intervensi DSA itu karena hanya spesialis radiologi yang sifatnya diagnostik. Mohon baca deh perkembangan di luar negeri yang namanya Radiologi itu sudah berkembang sekali. Sudah ada Radiologi intervensi. Jadi selain mendiagnostik, Radiologi dipakai juga untuk terapi. Karena mereka memasukkan alat, sambil meneropong sambil nyemprotin obat sekalian. Kan gitu.
Memang yang dilakukan oleh dokter Terawan itu,– cuci otak,– itu kan bahasa awamnya. Sebenarnya intra eterial heparin flushing. Jadi selama ini heparin itu disemprotkan dipersudut DSA untuk melihat letak penyumbatan dalam pembuluh darah. Tujuannya untuk diagnostik. Heparin disemprot juga untuk membuka penyumbatan.
Jadi Profesor Terawan ini melakukan inovasi dengan memodifikasi yang tadinya untuk diagnostik menjadi intervensi.

Jadi gimana soal kasus DSA dokter Terawan dok?Level eviden yang terendah di kedokteran itu adalah pendapat ahli. Pendapat ahl saja sudah bisa dianggap bukti. Dokter Terawan kan memang ahlinya.
Jadi nomor satu yang sering dilupakan para sejawat dokter, yang pasti bukti itu gak harus cuma bukti. Eviden base medicine itu ada dua komponen yaitu, pertama harus sesuai dengan penilaian pasien juga. Kalau pasien gak berani maka gak bisa sebuah terapi dilakukan.
Yang ketiga adalah keahlian dokter juga. Jadi dokter juga percaya diri pada terapi yang akan dilakukan. Jadi dalam kasus Terawan bisa ditunjukkan,– dia ahli, bukti ada lewat desertasi S3,– dan pasiennya seneng dan sukarela menjalani terapi itu. Jadi masalahnya dimana? Kalau ada ketidak sempurnaan maka PDSI berusaha objektif menyoroti masalah dokter Terawan. Kalau IDI gak setuju, gak masalah. Namanya juga demokrasi. Nanti pemerintah yang menengahi. Kan gitu? (Web Warouw)

ARTIKEL TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU