19 April 2026
HomeBeritaPerang di Ukraina, AS dan NATO Untung Jual Senjata, Rusia Kukuh Kuasai...

Perang di Ukraina, AS dan NATO Untung Jual Senjata, Rusia Kukuh Kuasai Krimea

JAKARTA, SHNet – Presiden Vladimir Putin, mengumumkan operasi militer khusus di Donbass, Ukraina timur, Kamis, 24 Februari 2022, secara kasat mata, dimaknai konflik kepentingan pragmatis Federasi Rusia dan Amerikat Serikat (AS).

Pengamat pertahanan dan intelijen Indonesia dari Universitas Jenderal Ahmad Yani Bandung, Dr Connie Rahakundini Bakrie, mengatakan, Rusia tidak bertujuan mencaplok atau aneksasi Ukraina, tapi hanya untuk memberikan peringatan keras bagi Amerika Serikat dan North Atlantic Treaty Organization (NATO), untuk tidak ada kompromi dengan kedaulatan Rusia.

Menurut Connie Rahakundini Bakrie, kualifikasi serangan militer Rusia, diukur pada hari pertama serangan terpadu, matra darat, laut dan udara yang berhasil melumpuhkan hampir semua jaringan infrastruktur militer Ukraina.

Sebuah daya serang yang sama sekali tidak bisa dibayangkan sebelumnya, sebagaimana diungkapkan Presiden Vladimir Putin, saat mengumumkan operasi militer khusus, Kamis, 24 Februari 2022, bahwa Rusia bisa saja melakukan sebuah tindakan yang tidak dibayangkan Amerika Serikat dan NATO sebelumnya.

Dikatakan Connie Rahakundini Bakrie, Presiden Rusia, Vladimir Putin, sudah memperingatkan Amerika Serikat dan NATO untuk menghindari ekspansi ke Eropa timur, karena sebagai ancaman bagi kedaulatan Rusia.

Akan tetapi Amerika Serikat dan NATO malah membujuk 15 negara pecahan Union of Soviet Socialist Republic (USSR) sejak 25 Desember 1991, untuk bergabung dengan NATO yang sejak awal diprotes Rusia, karena wilayah itu berdekatan dan atau berbatasan langsung dengan Federasi Rusia.

Ukraina, adalah salah satu negara pecahan USSR yang secara terbuka menyatakan keinginan untuk bergabung dengan NATO yang dimaknai pula sikap bermusuhan dengan Rusia.

“Rusia hanya inginkan keseimbangan dan kesetaraan global. Sekarang peta kekuatan dunia sudah tidak seimbang dan itu membahayakan,” kata Connie Rahakundini Bakrie.

Intrik internal Ukraina

Pelaku bisnis dan pengamat intelijen Indonesia, Erizely Bandaro, mengatakan, orang yang mengerti intrik di lingkungan internal, konflik Ukraina, tidak lepas dari proses pemilihan Presiden, dan di situ ada sebuah kekuatan yang tidak menghendaki Volodymyr Zelenskyy sebagai Presiden Ukraina.

Menurut Erizely Bandaro, perang itu bagian dari intrik politik internal Ukrania sendiri. Tadinya waktu Pemilihan Umum (Pemilu) ada tiga serangkai yaitu Poroshenko,  Vitali Klitschko dan Ihor Kolomoisky.

Mereka bertiga ini billionaire, yang membiayai Pemilu, Volodymyr Zelensky sehingga dipilih menjadi Presiden Ukraina. Setelah menang dan jadi Presiden. Banyak orang orang titipan Poroshenko,  Vitali Klitschko dan Ihor Kolomoisky di kabinet yang kena reshuffle.

Nah, mereka ini punya ambisi jadi Presiden pada Pemilu berikutnya. Tidak ingin lagi mendukung ambisi Volodymy Zelensky maju ke periode kedua. Nah mereka bertiga ini yang obok-obok situsi. Karena diantara mereka bersaing jadi orang nomor satu,” ujar Eriely Bandaro.

Vitali Klitschko, Wali Kota Kiev. Vitali Klitschko punya lobi dengan NATO dan Amerika Serikat.

Dari tangan Vitali Klitsckho, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Ukrania dikuras untuk beli senjata rongsokan. Karena ada issue ancaman dari Rusia, harga jadi selangit.

Vitali Klitsckho mendadak jadi kaya, dari bisnis rente beli senjata NATO. Tetapi dengan perang ini terbongkar senjata yang katanya hebat, ternyata omong kosong. Sekarang  Vitali Klistsckho gunakan issue perang untuk dapatkan citra publik. Ikut bertempur bersama rakyat Ukrania.

Poroshenko, adalah industriawan. Tahun 2012 masuk daftar Forbes. Peringkat 1.153 terkaya di dunia. Walau tahun 2012 semua perusahaannya dinasionalisasi oleh Viktor Andriyovych Yushchenko, saat jadi Presiden Ukraina. Tapi Poroshenko tetap kaya.

Poroshenko bisa masuk politik. Bahkan Poroshenko berhasil tumbangkan Viktor Andriyovych Yushchenko dalam Pemilu 2014. Jadi Presiden Poroshyenko.

Selama Poroshenko jadi presiden, kesempatan digunakan untuk beli lagi assetnya. Dan setelah itu Poroshenko mendukung Volodymyr Zelensky jadi presiden. Tugas Volodymyr Zelensky mencuci piring kotor dibuat Poroshenko.

Ihor Kolomoisky, adalah creator oligarki bisnis di Ukraina yang kendalikan partai.

Ihor Kolomoisky merupakan salah satu orang terkaya di Ukraina. Menurut majalah Forbes pada tahun 2011, Ihor Kolomoisky adalah orang terkaya ke-377 di dunia. Selama Volodymyr Zelensky jadi presiden tugasnya bersihkan piring kotor akibat ulah Ihor Kolomoisky. Termasuk kembalikan bank Ihor Kolomoisky yang sudah dinasionalisasi.

Menurut Erizely Bandaro, Rusia tidak ada minat untuk take over Ukrania. Mereka hanya perlu Crimea saja. Akses Rusia ke laut, yaitu Crimea. Penting, itu untuk kepentingan keamanan regional. Dan lagi Crimea itu masuk ke Ukrania belakangan dan sudah daerah otonom.

Kiev dan kota lainnya digempur Rusia, targetnya jatuhkan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy.

Nanti setelah persepsi terbentuk, Pemilu akan digelar. Selesai sudah karir Volodymyr Zelensky. Kepentingan Rusia atas Crimea tetap terjaga.

Pertanyaan, kenapa tiga orang ini menjadi target Presiden Federasi Rusia, Vladimir Putin?

Karena tiga orang itu, menurut Erizely Bandaro, agent Vladimir Putin. Bisnis mereka bagian dari Vladimir Putin Connection.

Jadi, perang Ukraina, hanya drama. Katanya mau perang dunia ketiga. Kita sudah kena hoax. Pantas Amerika Serikat dan Eropa Barat atau NATO, tidak berminat bantu Ukrania.

Karena perang Ukraina, pedagang senjata bisa dapat untung, yaitu negara-negara anggota NATO dan Amerika Serikat. Negara Eropa timur lain pada ramai-ramai senjata dari mereka. Takut ancaman dari Rusia. Karena itu, korban manusia tiak berdosa akibat perang di Ukraina, tidak lebih dari bagian kambing hitam.  Dalam bisnis korban nyawa manusia tidak berdosa tidak masuk hitungan itu. Bahkan itu bagian dari pesta mereka saja.

Volodymyr Zelensky

Pada 26 – 29 November 2021 diadakan suvery oleh Kiev International Institute of Sociology (KIIS). Suvey ini berkaitan dengan penilaian rakyat Ukrania terhadap kepemimpinan Volodymyr Zelensky.

Hasil survey?

Sebanyak 61,7% sampai 65,9% publik bahwa arah kebijakan pemerintah Volodymyr Zelensky. Banyak janjinya tidak tertunaikan. Bahkan program de-oligarki bisnis yang dulu 70% mendorong rakyat memilihnya tidak dilaksanakan.

Itu hanya program populis. Hanya ganti peran saja ke mereka yang biayai dia selama kampanye. Seperti Poroshenko dan Vitali Klitschko

“Pada tahun 2019 publik Ukrania pertanyakan keputusan Volodymyr Zelensky yang mengembalikan Privat Bank kepada Ihor Kolomoisky. Alasan Zelensky sepanjang pemilik lama mau bayar masalah Private Bank, ya tidak ada salahnya,” kata Erizely Bandaro.

Rakyat maunya diserahkan penyelesaian lewat pengadilan. Tapi Volodymyr Zelensky memilih penyelesaian di luar pengadilan. Padahal tahun 2016 bank itu sudah dinasionalisasi.

Apalagi semua orang Ukrania tahu Ihor Kolomoisky adalah sahabat Volodymyr Zelensky. Bahkan mereka bermitra. Gara-gara itu International Monotery Fund (IMF) keluar dari Ukrania.

Kemudian, kasus ex Presiden Viktor Yanukovych yang melarikan dana hasil korupsi ke luar negeri.

Waktu kampanya, Volodymyr Zelensky mengatakan bahwa Viktor Yanukovych korup untuk kepentingan Rusia. Boneka Rusia.

Tapi nyatanya Viktor Yanukovych uang hasil korupsi itu ditempatkan di Swiss, bukan ke Rusia. Justru Viktor Yanukovych kerjasama dengan team kampanye Donald John Trump, Manafort.

Rencana sebagian uang korupnya dipakai untuk biayai Donald John Trump kampanye Pemilihan Presiden Amerika Serikat tahun 2016.

Manafort sudah terbukti salah di pengadilan Amerika Serikat. Masuk penjara karena money loundry. Sementara janji Volodymyr Zelensky untuk menuntaskan kasus Viktor Yanukovych tidak kunjung selesai.

Padahal sudah ada keputusan pengadilan Ukrania untuk menyita asset Viktor Yanukovych. Alasan Volodymyr Zelensky tidak mau ribut dengan Donald John Trumps. Karena saat itu Donald John Trumps presiden America Serikat.

Padahal itu timing Volodymyr Zelensky untuk angkat popularitasnya. Setidaknya tuduhan dia kepada rezim sebelumnya dia bisa buktikan kepada publik. Wajar. Elektibiitasnya meningkat karena tuduhan itu.

Menurut survei, mayoritas responden (58,2%) tidak mendukung Presiden Volodymyr Zelensky mencalonkan diri untuk masa jabatan kedua, sedangkan 34,3% berpendapat sebaliknya.

Sekitar 51,6% dari mereka yang disurvei percaya bahwa jika terjadi invasi Rusia, Volodymyr Zelensky tidak akan dapat bekerja secara efektif sebagai panglima tertinggi, sedangkan 35,9% percaya bahwa ia dapat bekerja secara efektif.

“Pemimpin yang naik karena dukungan konglomerat, Volodymyr akan dijatuhkan oleh konglomerat juga,” ujar Erizely Bandaro.*

 

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU