SHNet, Jakarta– Cedera saat olahraga bisa dialami siapa saja, mulai dari atlet profesional hingga masyarakat umum yang rutin berolahraga.
Cedera ini bisa berupa keseleo, otot tertarik, cedera lutut, hingga cedera serius seperti robekan ligamen.
Cedera sering terjadi akibat kurangnya pemanasan, teknik gerakan yang salah, penggunaan alat yang tidak sesuai, atau kelelahan berlebihan. Selain itu, tidak memberi tubuh waktu yang cukup untuk pemulihan juga bisa memperbesar risiko cedera.
Jenis Cedera yang Sering Terjadi: Keseleo (sprain): Cedera pada ligamen akibat pergerakan mendadak atau salah posisi.
Otot tertarik (strain): Terjadi ketika otot terlalu dipaksa bekerja atau digunakan dengan cara yang salah.
Cedera lutut: Umum pada olahraga lari, sepak bola, dan basket. Bisa berupa peradangan, sobekan meniskus, atau ligamen.
Cedera pergelangan kaki dan bahu: Sering dialami dalam olahraga dengan gerakan cepat dan berulang.
Menurut dr. L Grace Tumbelaka, Sp.KO., Subsp.ALK (K) Spesialis Kedokteran Olahraga, cedera seperti keseleo, robekan otot, cedera lutut, dan nyeri punggung adalah jenis yang paling sering terjadi pada pecinta olahraga, baik amatir maupun profesional.
“Banyak orang menganggap remeh nyeri saat berolahraga dan memilih untuk terus melanjutkan aktivitas. Padahal, ini justru bisa memperburuk kondisi dan memperpanjang masa pemulihan,” ujarnya.
Banyak orang saat cedera melakukan pemijatan. Hal tersebut menurut dr Grace tidak tepat. Pijat bisa membuat cedera semakin parah.
Menurutnya, saat kita mengalami cedera , maka pertolongan pertama yang tepat adalah melakukan metode (R.I.C.E: Rest, Ice, Compression, Elevation).
Rest (Istirahat): Hindari aktivitas berat agar cedera tidak memburuk.
Ice (Es): Kompres es selama 15–20 menit untuk mengurangi nyeri dan bengkak.
Compression (Kompresi): Balut area cedera dengan perban elastis untuk mengurangi pembengkakan.
Elevation (Elevasi): Angkat bagian tubuh yang cedera agar aliran darah tetap lancar.
Jika nyeri tidak mereda, pembengkakan semakin parah, atau Anda tidak bisa menggerakkan bagian tubuh yang cedera, segera konsultasikan ke dokter atau fisioterapis. Penanganan cepat dan tepat akan mencegah cedera menjadi kronis.
Sementara itu, dr. Antonius Andi Kurniawan, Sp.K.O., Subsp.ALK(K) · Dokter spesialis kedokteran olahraga mengatakan, cedera olahraga bukan hanya menghambat performa, tapi juga dapat berdampak jangka panjang terhadap kesehatan fisik dan mental.
“Pencegahan cedera tidak hanya soal istirahat dan pemanasan. Ini melibatkan pendekatan menyeluruh, termasuk teknik latihan yang tepat, nutrisi, pemulihan, dan manajemen beban latihan,” jelasnya.
Ia juga memberikan tips agar dapat terhindar dari cedera saat berolahraga, antara lain, lakukan pemanasan dan pendinginan yang cukup, gunakan perlengkapan yang sesuai, istirahat yang cukup, dan jangan paksakan tubuh melebihi batas kemampuan. Konsistensi dalam menjaga teknik dan kebugaran akan membantu Anda tetap aktif tanpa cedera.(Stevani Elisabeth)

