23 May 2026
HomeBeritaTak Dapat Susu, Anak Korban Bencana Minum Air Tajin

Tak Dapat Susu, Anak Korban Bencana Minum Air Tajin

SHNet, Aceh Tamiang-Air sudah lama surut dari Gampong Batang Ara, Aceh Tamiang. Namun jejaknya masih tertinggal di banyak sudut desa. Lumpur mengering di halaman rumah, papan-papan kayu disusun kembali menjadi dinding seadanya, dan sebagian warga masih menata ulang ruang hidup yang sempat hilang terbawa arus.

Di antara rumah-rumah itu, aktivitas perlahan kembali berjalan. Anak-anak kembali bermain di sekitar rumah maupun sekolah, meski dengan fasilitas darurat dan serba seadanya. Di balik itu, warga masih berusaha menyesuaikan diri dengan kehidupan yang berubah sejak banjir datang beberapa bulan lalu.

Bagi Rahayu, istri kepala desa, banjir bandang itu masih membekas meski keadaan perlahan membaik. Ia masih mengingat bagaimana bongkahan benda besar yang menyerupai paus terlihat menonjol di tengah banjir. Belakangan ia baru mengetahui benda itu ternyata rumah warga yang hanyut.

“Kayak paus saya lihatnya, besar di tengah banjir,” ucap Rahayu.

Kenangan buruk lainnya juga masih ia ingat ketika ia dan warga Gampong Batang Ara terpaksa memakan beras rendaman banjir. Meski rasanya seperti nasi basi, mau tidak mau makanan itu tetap dikonsumsi agar mereka bisa bertahan di masa-masa kritis.

“Dicuci, dijemur, tetap dimasak. Tapi rasanya seperti nasi basi. Mau tidak mau tetap dimakan,” kata Rahayu.

Situasi itu tidak hanya dirasakan orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Sebelum banjir, menurut Rahayu, kebutuhan harian anak-anak masih dapat dipenuhi seperti biasa, termasuk susu yang rutin dikonsumsi di rumah. Namun setelah banjir datang, banyak kebutuhan sehari-hari yang tak lagi mudah didapat.

Ia bercerita, ada masa ketika keluarga harus berusaha mencari susu hingga ke daerah lain. Beberapa warga mencoba menyusuri jalur air menggunakan sampan, berharap menemukan persediaan yang masih tersisa di warung-warung sekitar. Namun tidak semua usaha membuahkan hasil.

Dalam keadaan itu, anak-anak tidak lagi bisa minum susu seperti biasanya. Keluarga akhirnya memanfaatkan apa yang ada di rumah. Air hasil rebusan beras, atau air tajin, menjadi salah satu yang diberikan kepada anak-anak agar mereka tetap bisa minum di tengah keadaan yang serba sulit saat itu.

“Namanya anak, kalau tiba-tiba tidak seperti biasanya pasti menangis. Tapi saat itu memang hanya itu yang ada,” ujarnya.

Beberapa bulan setelah banjir, kehidupan di Gampong Batang Ara mulai bergerak kembali. Bantuan mulai datang, aktivitas masyarakat kembali berjalan, dan anak-anak kembali mendapatkan asupan yang lebih beragam, meski belum sepenuhnya seperti sebelum bencana.

Kini, bagi Rahayu, pemulihan tidak hanya soal memperbaiki rumah atau lingkungan, tetapi juga mengembalikan kebiasaan sehari-hari yang sempat berubah. Ia berharap kondisi keluarga dan anak-anak di desanya perlahan bisa kembali stabil seperti sebelumnya.

“Pelan-pelan kami jalani lagi. Yang penting sekarang anak-anak sudah mulai bisa makan lebih baik, sudah tidak seperti waktu itu lagi,” ucapnya.

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU