Jakarta-Hoaks atau kabar bohong telah menjadi momok bagi semua pengguna internet dan media sosial, termasuk generasi Z yang dianggap sebagai anak kandung teknologi informasi tersebut. Generasi ini ternyata mempunyai cara unik mengenali dan memberantas hoaks di lingkungan mereka. Hal ini ditunjukkan oleh 17 Finalis dari Kompetisi Video Pendek “Berantas Hoaks Cara Gue” yang diselenggarakan oleh Relawan Edukasi Anti Hoaks Indonesia (REDAXI) pada bulan Februari sampai Maret 2022 yang lalu.
Para finalis mengikuti acara Virtual Workshop Digital Storytelling for Social Change dan Pengumuman Pemenang Kompetisi Video Pendek Berantas Hoaks Cara Gue yang diselenggarakan pada hari Minggu (10/4)
“Kompetisi konten kreatif ini sudah kami adakan sejak tahun 2021, dan harapannya akan bisa diadakan setiap tahun. Kegiatan seperti ini selain menampung kreativitas kaum muda juga bisa menambah jumlah konten positif di dunia maya Indonesia,” ujar Astari Yanuarti, ketua REDAXI.
Menyisihkan lebih dari 100 peserta, Sherly Amanda, siswi SMAN 115 Jakarta yang berhasil keluar menjadi juara pertama dalam kompetisi ini. Sherly menghasilkan karya animasi yang unik dan dengan tepat memotret perilaku penyebaran hoaks di lingkup komunitas, dan bagaimana penyebaran tersebut sebenarnya dapat diputus dengan cara sederhana.
Pesan senada juga disampaikan secara apik melalui kemampuannya melakukan rap oleh juara kedua kompetisi, Akbar Fernando Ndabung, mahasiswa Universitas Udayana, Bali dan juara Favorit Sapto Siwi Nugroho siswa STMIK Widya Utama, Purwokerto. Sedangkan, Juara ketiga, Retno Novita, mahasiswi dari Binus University Malang, Jawa Timur, menyajikan cara edukasi berpikir kritis yang unik dengan menggunakan permainan kartu.
Kegiatan kompetisi video ini sendiri merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang diawali dengan Webinar bertajuk Anak Muda Melawan Hoaks, Ujaran Kebencian, dan Radikalisme di Media Sosial, yang dilaksanakan akhir Februari yang lalu. Webinar ini berhasil menarik minat 245 pendaftar anak muda dari lebih 200 kota di Indonesia dan menghadirkan pembicara Noor Huda Ismail, Founder of International Peace Building in Indonesia dan Rut Silalahi, Co-founder Redaxi yang juga merupakan seorang dosen komunikasi di UPN Veteran Jakarta.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan Workshop Digital Storytelling for Social Change yang disampaikan Albizia Akbar, Editor in Chief dari Kok Bisa – sebuah platform media yang bergerak pada bidang edukasi. “Yang terpenting dalam membuat konten adalah harus bisa entertaining (menghibur) dulu, baru kemudian edukasi. Banyak yang terjebak ingin langsung mengedukasi, sehingga kontennya jadi tidak menarik untuk orang lain,” papar Albizia mengenai tips dalam membuat konten video yang baik.
Acara kompetisi tahun ini didukung oleh My America Jakarta dan Kedutaan Besar Amerika untuk Indonesia. “REDAXI adalah satu partner penting kami dalam rangka meningkatkan literasi dan konten positif, untuk mewujudkan internet sehat di Indonesia. Saya berharap kerjasama ini terus berlanjut, “ ungkap Nick Geissinger, atase pers dari Kedutaan Besar Amerika di Jakarta saat menutup kegiatan workshop. (cls)

